kewajiban menuntut ilmu

21 November, 2011

“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia mengambil bagian yang banyak.” [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi]

Masalah warisan bisa jadi berabe, apalagi kalau yang diwariskan adalah harta kekayaan, bisa-bisa saudara sedarah berkelahi sampai berbunuh-bunuhan. Padahal harta dan kekayaan yang sifatnya materi hanya habis pakai selama hidup dan tidak dibawa mati. Kalaupun ada sebagian orang yang dikubur bersamaan dengan harta kekayaannya maka harta itu tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya, apalagi bagi ahli waris yang ditinggalkannya. Bisa-bisa menimbulkan kebiasaan baru: maling kuburan. 🙂

Baca entri selengkapnya »


sesuai kemampuan saja

20 November, 2011

sesungguhnya hukum asal salat itu dg berdiri, kalau tdk mampu boleh dg duduk atau berbaring.

dalilnya adalah:

firman Allah: “…Dan berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dengan khusyu’.`”. (Al-Baqarah: 238).

firman Allah: “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (At-Taghabun: 16).

hadits Rasulullah: “Shalatlah kamu sambil berdiri, dan jika kamu tidak mampu, maka sambil duduk, dan jika tidak mampu, maka dengan berbaring”. (HR. Bukhari)

(baca lebih lanjut di sini)

begitupun hukum asal menikah itu boleh dg dua, tiga, atau empat istri, kalau tdk mampu maka satu saja.

dalilnya adalah firman Allah:
“…Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” (An-Nisaa’: 3)

(baca lebih lanjut di sini)


Status Keharaman Makkah

19 November, 2011

Dari sahabat yang mulia Abu Syuraih Khuwailid bin Amr al-Khuzai al-Adawi semoga Allah meridainya, ketika Amr bin Said bin Aas  mengirim pasukan ke Makkah aku berkata kepadanya, “Izinkanlah kepadaku wahai Amir, untuk mengabarkan kepadamu sebuah hadits yang diucapkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasalam di siang hari pada Hari Pembukaan (Makkah), aku mendengarnya dan aku memahaminya serta aku melihat dengan mata kepalaku, ketika itu Rasulullah sallallahu alaihi wasalam memulai khutbahnya dengan memuji dan menyanjung Allah subhanahu wa ta’ala kemudian berpesan, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan yang mengharamkannya bukanlah manusia, maka tidak halal bagi seseorang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat untuk menumpahkan darah di sana, dan tidak diperbolehkan menebang pepohonannya. Jika sekiranya ada yang bertanya bagaimana Rasulullah mengecualikannya (yaitu dengan mengirimkan pasukan pada Hari Pembukaan Makkah) , maka beritahukan kepadanya, “Allah telah memberikan izin untuk Rasul-Nya dan tidak (mengizinkannya) untuk kalian, sedangkan izin tersebut hanya sesaat untuk hari ini saja, adapun setelah itu sampai hari kiamat tidak diperbolehkan sama sekali (kembali status keharamannya). Maka hendaklah orang yang hadir menyampaikan berita ini kepada orang yang tidak hadir.'” Kemudian ditanyakan kepada Abu Syuraih, “Apa yang diucapkan oleh Amr?” Dia mengatakan,”Aku lebih tahu tentang perkara itu daripada engkau wahai Abu Syuraih! Sesungguhnya benar apa yang kamu ucapkan, tetapi Makkah tidak dapat melindungi orang yang bermaksiat, yang lari dari pembunuhan dan lari dari pengkhianatan.” [HR Al-Bukhari]

http://www.ziddu.com/download/17413844/MF_HaditsKeharamanMakkah_UstAbdulBarr.mp3.html

Baca entri selengkapnya »


tentang dai

16 November, 2011

Bismillah,
Miris memang membaca kenyataan tentang audisi dai di televisi, bahkan ada artikel yang mempertanyakan mengapa tidak ada audisi untuk pendeta, pertanyaan itu terjawab dengan sebuah tertawaan: “Menjadi pendeta ada sekolahnya, Bung. Di seminari, bukan di televisi.”

Melihat betapa orang Islam yang mengikuti audisi dai di televisi, kebanyakan di antara mereka miskin ilmu, hanya bermodalkan buku agama, menghapalnya lalu menyampaikannya kepada khalayak. Sebaliknya ada juga para santri yang menekuni ilmu agama sejak kecil, mengenyam bangku pesantren, sampai duduk di majelis para ulama timur tengah namun sekembalinya mereka ke tanah air, kekayaan ilmu yang telah diperolehnya tidak disampaikan kepada umat, atau justru ikut-ikutan audisi dai dan tenggelam dalam industrialisasi hiburan di televisi. Menggenapi nubuat Rasulullah tentang banyaknya para pengkhutbah di akhir zaman dan hilangnya ilmu di tengah-tengah umat.

Ada juga pemuda-pemuda yang dengan semangat bergabung dalam kelompok dakwah, tidak membekali diri dengan keilmuan agama, bahkan mengabaikan hal-hal yang pokok, padahal terdapat kaidah: “barangsiapa yang tidak menguasai pokok-pokok ilmu maka ia tidak akan mampu menguasai ilmu.” Akhirnya mereka hanya ikut-ikutan pendahulunya, lebih mengutamakan amal jama’i daripada amal bil ilmi. Bahkan ada sebagian kelompok yang karena kebodohan mereka sampai mengafirkan umat Islam dan melakukan teror. Sehingga apabila kelompoknya bubar (dengan sendirinya ataupun dibubarkan oleh pemerintah), mereka kelimpungan tak tahu arah kemana melangkahkan kaki. Alih-alih insyaf dari kesalahannya, menutup mata dari majelis taklim, maka kembali kepada keadaannya semula yang jahil dari ilmu, kembali memuaskan hawa nafsu. Naudzu billahi min dzalik.

Ada lagi pemuda-pemuda yang dididik oleh pendidikan moderen, melihat dakwah dengan cara moderen, mengernyitkan mata dari kajian kitab-kitab salaf, lebih menjunjung metode berpikir khalaf, kemudian membuat-buat bidah baru atau merekonstruksi bidah-bidah lama dengan pijakan yang salah tentang hadits “man sanna sunnatan”. Maka ketika dakwah mereka mengawang-awang dan tidak lagi berpijak, mereka pun kehilangan pegangan, menerima semua konsep dan membenarkannya lalu hidup dalam kebingungan. Alih-alih insyaf dari kesalahannya, menutup mata dari majelis taklim, maka mereka mempersalahkan yang tidak dapat menerima pemikiran mereka, kembali memenuhi anggapan hawa nafsu. Naudzu billahi min dzalik.

Namun ada di antara umat yang tetap konsisten dan konsekuen terhadap jalan yang dirintis oleh 3 generasi terbaik umat Islam, berpijak pada pokok-pokok yang benar, tegas dan tidak bimbang, berdakwah dengan hikmah, ikhlas dalam beramal, tanpa pamrih maupun bergeming pada godaan kursi, berakhlak mulia dalam pergaulan.  Mereka duduk memenuhi majelis taklim, mengaji kitab-kitab salaf, menghadiri jamuan ilmu para ulama, terbimbing dalam berdakwah, berhujah dengan dalil dan pemahaman yang sahih saja. Mereka menghidupkan sunnah dan mematikan bidah dalam setiap gerak ibadah maupun kesehariannya, menjadi asing di tengah dunia, dan tidak dilirik oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang berhati jernih.

Allah-ul-musta’an


mencari berkah dari bismillah

13 November, 2011

Ngalap berkah atau tabaruk sering dilakukan oleh manusia dengan harapan mendapatkan berkah dari sesuatu, supaya dimudahkan segala urusannya. Sebagian dari mereka mencari berkah dari tanah kuburan orang yang dianggap wali, ada juga yang mencari berkah dari guntingan kain kiswah (penutup kabah), ada juga yang mengusap-usap suatu benda yang dianggap keramat, dan lain-lain yang ternyata hanya anggapan belaka. Adapun para nabi, mereka adalah manusia yang mendapat bimbingan langsung dari Allah sang pencipta alam semesta, telah mengajarkan bagaimana mencari berkah dengan benar dan lebih selamat dari sekadar anggapan-anggapan. Di antara tuntunan tabaruk yang dibenarkan adalah membiasakan mengucapkan basmalah atau tasmiyah setiap kali memulai aktivitas.

Basmalah adalah mengucapkan: “Bismillahirrahmanirrahim”, sedangkan tasmiyah adalah mengucapkan: “Bismillah”, masing-masing ucapan telah diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasalam mengenai waktu dan tempatnya, dan tidaklah yang satu lebih utama dari yang lain kecuali karena mengikuti waktu dan tempat yang diajarkan oleh beliau. Di antara manfaat dari membaca basmalah atau tasmiyah adalah memperoleh pertolongan Allah dan pengakuan keterlibatan Allah dalam kesuksesan usaha kita.

http://www.ziddu.com/download/17306775/Makalah01_PV_UshulutTsalatsah_UstAbdullahSyaroni_1.pdf.html

http://www.ziddu.com/download/17413842/PV_UshulutTsalatsah_UstAbdullahSyaroni_02.mp3.html


keutamaan para sahabat Rasulullah

10 November, 2011

Di antara dasar-dasar ahlussunnah wal jamaah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dalam menyikapi para sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasalam. Mereka mengakui dan meyakini kabar keutamaan empat sahabat yang terbaik yaitu Abu Bakar, Umar ibnul Khatthab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Mereka mencintai dan loyal kepada keluarga Rasulullah. Mereka loyal kepada istri-istri Rasulullah sebagai ummul mukminin. Mereka tidak membenci para sahabat seperti Syiah Rafidhah, dan mereka tidak menyakiti ahlul bait seperi golongan Nawashib. Mereka juga tidak meyakini bahwa para sahabat bebas dari dosa, melainkan para sahabat juga melakukan kesalahan tetapi mereka memiliki kebaikan yang banyak. Dan ahlussunnah wal jamaah meneladani keutamaan-keutamaan para sahabat Rasulullah radiyallahu anhum.

http://www.ziddu.com/download/17413841/hWasithiyah_UstMuhYahya_KeutamaanSahabatRasulullah.mp3.html


bukan SARA jika tidak bicara islam

10 November, 2011

Sebagai muslim saya meyakini bahwa Islam telah menyediakan seperangkat komplit panduan kehidupan manusia supaya dapat menjalani tujuan penciptaannya di bumi dengan baik dan benar. Karena Allah telah menyempurnakan agama-Nya dan tidak tersisa sedikit pun kasus kehidupan kecuali telah disampaikan oleh utusan-Nya kepada manusia. Hikmah-hikmah yang diperoleh dari menjalani Islam akan diperoleh dengan sendirinya tanpa pemeluknya repot mencari-cari tahu dengan sistem trial dan error. Namun tidak disangsikan bahwa sejak awal dakwah ini diusung oleh utusn Allah, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasalam, banyak yang merasa gerah dan berupaya menghalang-halangi cahayanya untuk menyinari seluruh permukaan bumi.

Di antara mereka membangkitkan sentimen persatuan kemanusiaan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan antar golongan. Padahal Islam justru memberi nilai lebih karena mengabaikan kesukuan, ras, dan antar golongan, dengan mengikat persaudaraan di atas keimanan kepada Allah dan satu agama yaitu Islam. Di antara mereka juga membangkitkan gaya hidup primitif dan alamiah dan menghidupkan kearifan lokal ataupun kebijaksanaan-kebijaksanaan yag dibuat oleh tokoh-tokoh spiritualis yang berafiliasi kepada agama-agama pagan, padahal Islam justru memberi nilai lebih karena menghidupkan gaya hidup yang holistik dan lebih selamat serta mengusung nilai-nilai yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta satu-satunya yang berhak diibadahi.

Sebagai contoh ketika zikir kepada Allah ditawarkan untuk menggantikan konsep inner peace yang datang dari buddhisme atau yoga yang datang dari hinduisme atau hypnotherapy yang datang dari kekristenan, maka zikir dianggap SARA. Ketika hukum-hukum doa dan praktik-praktik kesehatan nabawi ditawarkan sebagai pengganti konsep obat-obatan moderen yang datang dari barat atau konsep herba yang diramu dengan mantra dan tantra yang datang dari timur, maka doa dan obat dianggap SARA. Ketika tema keislaman diangkat pada setiap kali menjawab permasalahan hidup manusia, maka itu dianggap menyinggung isu SARA. Dengan demikian maunya para penghalang itu: mengambil kearifan lokal dari golongan, suku maupun konsep agama-agama lainnya, bukanlah SARA asalkan tidak dari Islam.


%d blogger menyukai ini: