Terjemah Aqidah Wasithiyah – 03

29 Januari, 2012

TERJEMAH AL-AQIDAH AL-WASITHIYYAH
Penulis: Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah

[sebelumnya]

9. Dan firman Allah subhanahu wata’ala: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al Hadid: 3)

10. Dan firman-Nya: “Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (kekal) yaitu yang tidak mati.” (QS Al Furqan: 58)

{Ilmu Allah meliputi seluruh makhluk-Nya}

Dan firman-Nya: “Dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS At Tahrim: 2), dan firman-Nya: “Dan Dia Mahabijaksana lagi Maha menguasai pengetahuan.” (QS Saba: 1), dan firman-Nya: “Dia lebih dahulu mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya.” (QS Saba: 2)

Dan firman-Nya: “Dan di sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahui itu semua kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan lautan. Dan tidaklah satu helai dari daun-daun yang gugur melainkan Dia telah lebih dahulu mengetahuinya, dan tidak pula sebutir biji-bijian yang jatuh di kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah atau sesuatu yang kering, melainkan sudah tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Al An’am: 59)

Dan firman-Nya: “Dan tidaklah mengandung seorang perempuan dan tidak pula yang melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan Dia.” (QS Fathir: 11), dan firman-Nya: “Agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS At Thalaq: 12)

{bersambung, Insya Allah}


Konsep Bawah dan Atas

29 Januari, 2012

“Baba, kok di dalam rumah ada gambar bintang?” tanya Radya yang melihat layar Samsung Galaxy 5 milik babanya yang masih menampilkan aplikasi Google Sky Map. Baba menggunakan aplikasi tersebut untuk mempermudah mengenali bintang-bintang ketika melakukan observasi bersama Radya seperti pada tulisan sebelumnya. Radya pun mengangkat ponsel pintar itu, memutar posisinya dan dengan penuh gairah menelusuri semua gambar bintang yang ditampakkan. “Baba, semua arah ada bintangnya, kok bisa?” seru Radya lagi.

“Zenith adalah posisi yang tegak lurus di atas kita, sedangkan Nadir adalah posisi yang tegak lurus di bawah kita. Segala yang berada di sekitar titik Nadir tidak dapat kita lihat karena berada di belahan yang lain dari langit. Bukan berarti Nadir itu ada di bawah, tetapi ia tetap berada di atas bagi orang-orang yang tinggal di belahan yang lain dari bumi,” Baba menjelaskan. Melihat Radya yang bersusah payah berupaya memahami penjelasan itu, Baba kemudian mengambil sebuah bola plastik dan menandai dengan spidol sebuah titik.

“Bola ini ibarat bumi dan titik ini adalah tempat kita,” ujar Baba dengan mengarahkan titik berada di posisi atas bola dan menaunginya dengan telapak tangan, “Telapak tangan ini langit yang berada di atasnya.” Kemudian Baba memindahkan posisi telapak tangan ke bagian bawah bola dengan titik tetap menghadap ke atas, “Telapak tangan ini langit yang berada di bawahnya.” Kemudian Baba menghadapkan titik ke arah bawah, “Pada posisi ini langit yang berada di bawah bola adalah atas bagi si titik, dan langit yang berada di atas bola adalah bawah bagi si titik.”

Tiba-tiba Radya memindahkan posisi titik menghadap ke samping kanan dan meletakkan telapak tangannya menghadap ke titik, “Dan ini adalah atas si titik,” kemudian meletakkan telapak tangannya pada arah sebaliknya, yaitu dari samping kiri dan berkata, “dan ini adalah bawah si titik.” Dengan senyuman Baba berkata, “walaupun langit itu ternyata berada di samping bola.”


Orion dan Radya

29 Januari, 2012

Malam gelap masih belum larut, rembulan masih hilal belum tampak seperti tandan, Radya mengajak Baba menatap langit melihat bintang-bintang. Baba mengambil Samsung Galaxy 5 miliknya dan membuka aplikasi Google Sky Map. Radya mampu membedakan antara planet dengan bintang. Planet adalah bintang kembara, benda langit yang cahayanya terang tidak berpendar, karena hanya memantulkan sinar matahari. Sedangkan bintang adalah bintang tetap, benda langit yang bersinar dan cahayanya berkelap-kelip, letaknya yang sangat jauh membuatnya terlihat kecil di langit malam. Andai saja bintang yang besar itu dekat, sudah pasti ia lebih terang cahayanya dibandingkan sinar matahari.

Orion adalah salah satu rasi bintang yang mudah terlihat di ekuator langit (ketika diobservasi oleh Radya, Orion sedang berada di dekat zenith). Dalam mitologi Yunani, Orion adalah sang pemburu. Di Jawa disebut sebagai rasi Waluku, yang kemunculannya sebagai penanda waktu menanam padi pada sawah tadah hujan. Radya mengamati Orion dengan seksama, di sekitarnya ada rasi bintang dua ekor anjing (Canis Major dan Canis Minor), serta rasi bintang binatang buruan yaitu Taurus si kerbau dan Lepus si kelinci. Agak ke utara terlihat bintang kembara (planet) yang besar dan terang yaitu Jupiter. Radya menikmati pemandangan langit dengan antusias dan rasa puas.

[26Januari2012/02RabiulAwal1433]


Ini Bagian Kalian dan Ini Hadiah Untukku

29 Januari, 2012

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Kitab Sahih keduanya, dari Abu Humaid As-Sa’idi: “Ketika Ibn Al-Lutbiyyah, orang yang dipekerjakan untuk mengumpulkan zakat, datang kepada Rasulullah (shallallahu alaihi wasalam), dia berkata: ‘Ini bagian kalian dan ini hadiah untukku’, lalu Rasulullah (shallallahu alaihi wasalam) berdiri, memuji dan menyanjung Allah kemudian bersabda: ‘Aku mempekerjakan beberapa orang di antara kalian untuk suatu pekerjaan yang Allah kuasakan kepadaku, kemudian seseorang di antaranya datang kepadaku dan berkata: ‘Ini bagian kalian dan ini hadiah untukku.’ Mengapa dia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak atau ibunya dan menunggu sehingga hadiah itu datang kepadanya? Demi Allah, tidak satupun di antara kalian yang mengambil sesuatu tanpa hak, kecuali ia akan datang kepada Allah di hari kebangkitan dengan memikulnya. Aku tidak ingin melihat siapapun di antara kalian memikul unta yang merintih, atau sapi yang melenguh, atau domba yang mengembik ketika dia berjumpa dengan Allah.’ Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya (tinggi-tinggi sehingga) ketiaknya yang putih terlihat, dan bersabda: ‘Wahai Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?'”

hadits tersebut oleh para ulama dijadikan dalil dari haramnya bagi pekerja atau pegawai untuk mengambil atau menerima hadiah (alias suap) dari suatu pekerjaan yang (memang tugas yang harus) dilakukannya, padahal ia telah menerima upah atas pekerjaannya itu, sehingga yang demikian (menerima hadiah) itu termasuk pengkhianatan terhadap pemberi kerja.

Faidah hadits:

  1. Diwajibkan bagi pegawai melaporkan hasil pekerjaan kepada si pemberi kerja
  2. Disunnahkan untuk memuji dan menyanjung Allah sebelum berpidato atau berkhutbah
  3. Adalah adab ketika memperingatkan manusia dari sebuah perbuatan buruk yaitu dengan tidak menyebutkan nama si pelaku
  4. Dibolehkan mempekerjakan orang lain untuk membantu menyelesaikan suatu urusan yang dikuasakan kepada kita
  5. Tidak boleh mengambil sesuatu sebagai hadiah bagi diri si pegawai di luar dari upah yang diberikan oleh si pemberi kerja
  6. Ancaman terhadap orang yang mengambil sesuatu tanpa hak yaitu akan menghadap Allah dengan memikulnya
  7. Disunnahkan berdoa kepada Allah dengan mengangkat tangan

Wallahu a’lam.


%d blogger menyukai ini: