bulan tersenyum

28 Mei, 2012

“Baba, lihat bulannya tersenyum,” kata Tsuraya, 3,5 tahun, kepada babanya ketika melihat bulan sabit di malam awal bulan Rajab. “Indah sekali, bukan?” jawab baba. “Iya, Baba. Bulannya tidak sedih tidak marah,” kata Tsuraya. “Begitu pula dirimu, Nak. Jika engkau tersenyum, tiada gundah gulana, tiada amarah di wajahmu, semua akan nampak indah,” ujar baba memikat hati Tsuraya yang sering temper tantrum jika keinginannya tidak kesampaian.

“Baba, lihat! Bulannya mengikuti kita,” seru Tsuraya. “Demikianlah, Nak, keberadaannya di langit yang tinggi tidak menafikan kebersamaannya dengan kita. Apalagi Allah sang pencipta, Yang Mahatinggi, senantiasa bersama kita kapanpun di manapun. Semua masalahmu ada jawabannya, mintalah kepada Allah saja.” ucap baba, sebagai introspeksi diri sendiri.


%d blogger menyukai ini: