jangan sia-siakan ramadan

Waktu adalah sesuatu yang amat berharga, ia datang dan berlalu tanpa pernah kembali. Hanyalah yang pandai memanfaatkannya yang tidak akan merugi, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu akankah kita sia-siakan kesempatan ini?

Ramadan adalah bulan puasa. Orang yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa puasa seorang hamba adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang menentukan balasannya. Penyandaran ibadah kepada diri Allah menunjukkan betapa agung ibadah tersebut. Balasan dari Allah terhadap puasanya seorang hamba tentu tidak ternilai betapa tingginya.

Dalam Ramadan terkumpul dua jihad. Jihad di siang hari dengan menahan lapar dan dahaga. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam mengatakan bahwa betapa banyak orang yang puasa kecuali hanya memetik lapar dan dahaga. Padahal puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan, minum dan syahwatnya melainkan meninggalkan perkara yang sia-sia dan keji. Sebab setan-setan dari kalangan jin dibelenggu sehingga tidak dapat membisikkan was-was dan pintu neraka ditutup sehingga membuka kesempatan yang luas untuk meraih pintu surga. Maka kesia-siaan dan kejahatan yang hadir di bulan Ramadan adalah murni datangnya dari hawa nafsu manusia.

Jihad di malam hari adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah salat tarawih. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bahwa siapa yang menegakkan salat tarawih di malam Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai maka akan dicatat baginya salat semalam suntuk. Tentu saja dalam melaksanakan kedua jihad itu diperlukan kesabaran.

Ramadan adalah bulan Alquran, karena diturunkan di bulan tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bersama malaikat yang mulia Jibril alaihissalam mendaras Alquran setiap bulan Ramadan. Maka berlomba-lombalah manusia tadarus Alquran untuk mendapat keutamaannya. Dan di sepuluh terakhir Ramadan terdapat sebuah malam yang nilainya setara dengan seribu bulan. Para ulama ahlussunnah telah menjelaskan bahwa siapa yang beramal di malam tersebut maka amalannya bernilai seribu bulan. Siapa yang sedekah di dalamnya setara sedekah seribu bulan. Siapa salat di dalamnya setara salat seribu bulan. Siapa tilawah Alquran di dalamnya setara tilawah seribu bulan. Itulah malam yang dikenal sebagai Lailatul Qadr, malam yang penuh keutamaan.

Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam memerintahkan keluarganya untuk mengencangkan ikat pinggang dan berkonsentrasi untuk meraih malam Al-Qadr dengan memperbanyak istigfar, zikir, salat, membaca Alquran, dan sedekah. Menggalakkan itikaf di masjid jami sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan berburu malam Al-Qadr dengan khusyuk beribadah.

Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu masihkah ingin kita sia-siakan kesempatan ini?

(disarikan dari tausiyah Ustadz Muhammad Yahya hafizhahullah pada kultum tarawih di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: