bening hati

26 Agustus, 2012

Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) ditanya, “Siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Setiap orang yang Makhmum (disucikan) hatinya, dan jujur lisannya (dalam perkataan).” Mereka berkata, “Jujurnya lisan, kami mengetahui hal itu, tetapi apakah Makhmum-nya hati itu?” Beliau berkata, “Dia adalah orang yang takwa dan bening. Tidak memiliki dosa (tidak cenderung berbuat dosa), atau pun pelanggaran, atau pun kebencian kepada orang lain, tidak pula kedengkian.”

(disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah)

سُئل النبي صلى الله عليه وسلّم: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ ؟

قَالَ : كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ.
قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ ؟
قَالَ : ( هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ )

—————————————-
صححه الألباني في “صحيح ابن ماجة
Iklan

jangan bandingkan

26 Agustus, 2012

Janganlah suka membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan orang lain. Menganggap orang lebih bahagia atau kenapa hidup kita begitu nestapa. Kita tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui dan perjuangkan untuk mencapai kehidupan mereka yang sekarang. Dan di atas segalanya, kita tidak tahu seberapa bersyukur orang-orang tersebut atas kehidupannya.

–Tere Liye, novel ‘Rembulan Tenggelam Di wajahmu’


dilema fatwa dan kenyataan

26 Agustus, 2012

Menjelang pilkada Gubernur DKI putaran kedua, media massa melambungkan berita mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh salah satu cabang dari lembaga keulamaan di Indonesia. Dan sebagaimana pada umumnya berlaku fasik, media massa mengemas berita sebegitu rupa sehingga fatwa tersebut seolah-olah berpotensi menguntungkan salah satu kandidat dan mengganjal kandidat yang lain. Padahal yang namanya fatwa tidak sembarangan dikeluarkan tanpa adanya permintaan dari umat dan tentu saja dengan mempertimbangkan pemahaman keagaamaan dan kondisi kekinian.

Di masa krisis moralitas seperti sekarang, kebanyakan umat berada dalam dilema antara mengikuti fatwa dan menilai kenyataan. Bagi mereka mungkin adalah pilihan yang sama-sama buruk, sehingga memerlukan fatwa untuk menguatkan mana yang lebih sedikit mudaratnya. Sayangnya ketika fatwa yang dikeluarkan tidak sesuai dengan “hati nurani” (atau mungkin “hawa nafsu”) maka menjadilah sebagian besar dari mereka keringat dingin dan mencari-cari justifikasi yang dapat disesuaikan dengan kepentingan masing-masing.

Lagipula, agama adalah nasehat. Fatwa sebagai salah satu sarana nasehat dari pemuka agama kepada umatnya, seharusnya disikapi dengan adil dan tidak perlu dipolitisasi. Karena ekslusivitasnya pun sebaiknya yang tidak berkompeten dan tidak mumpuni menjaga lisan dan hatinya untuk mengomentari. Oleh karenanya orang-orang dari luar komunitas umat yang dituju oleh fatwa itu sendiri sebaiknya juga menahan diri untuk berkomentar.

Wallahu waliyut taufiq.

http://nasihatonline.wordpress.com/2012/08/08/memilih-pemimpin-karena-agama-masih-pantaskah/


antara petruk dan pinocchio

25 Agustus, 2012

Kisah Petruk dan Pinocchio (Pinokio) barangkali sama-sama lawasnya walaupun berasal dari negara yang berbeda. Petruk dilahirkan di lingkungan Jawa oleh penggubah kisah-kisah pewayangan sebagai salah satu dari empat punakawan, sedangkan Pinocchio dilahirkan di Italia oleh penulis cerita anak-anak Carlo Collodi sebagai anak-anakan kayu buatan Geppetto. Kisah mereka satu sama lain jelas jauh berbeda, kesamaan di antara keduanya barangkali adalah karakter hidung yang panjang.

Namun perjalanan kisah Petruk tidak seberuntung kisah Pinocchio yang mendunia lewat propaganda Disney, kisah-kisah Petruk terbatas berputar di tanah Jawa saja, itupun disajikan dalam bentuk lakon pewayangan yang sangat tidak akrab bagi dunia anak-anak zaman sekarang. Barangkali komik karya Tatang S adalah media yang bertahan memopulerkan Petruk dan Gareng sebagai dua sejoli dari Kampung Tumaritis hanya pada generasi 1980-an saja.

Ketika sedang mewarnai layang-layang yang kami buat di Museum Layang-Layang Indonesia, berkunjunglah sebuah keluarga dengan lima orang anak berusia SD dan TK. Pemandu museum mengajukan pertanyaan kepada anak-anak itu mengenai karakter Petruk dan Gareng yang ditampilkan dalam bentuk layang-layang, “Siapakah tokoh berhidung panjang itu?”, dijawablah oleh salah seorang anak, “Pinokio!”


pesan di balik layang-layang

25 Agustus, 2012

Tidak jauh dari rumah, situs menarik yang bisa menjadi pilihan liburan keluarga adalah Museum Layang-Layang Indonesia, hanya dengan tiket Rp10 ribu untuk ATM (Audiovisual, Tour dan Membuat) Layang-layang. Museum milik pribadi ibu Endang Ernawati (istri mantan Ka Bulog Widjanarko Puspoyo) yang terletak di Jl. Haji Kamang No. 38 Pondok Labu, Jakarta Selatan, selain memamerkan layang-layang berbagai bentuk dan jenis juga menawarkan berbagai kegiatan budaya seperti membuat keramik dan membatik. Di kala sepi pengunjung seperti saat liburan lebaran kemarin, kita dapat menikmati waktu kunjungan dengan lebih intensif.

Sebagai warisan budaya, layang-layang memiliki peran sebagai media komunikasi rakyat, dibuat dan diterbangkan dalam rangka kegiatan tertentu, misalnya untuk menandai musim panen, bahkan di adat tertentu dianggap mampu mengusir roh jahat. Dalam novel The Kite Runner karangan Khaled Hosseini disuguhkan pesan bahwa layang-layang dapat menjadi alasan pengikat persaudaraan.

Bermain layang-layang memang mengasyikkan, membuatnya pun merupakan keasyikan tersendiri. Mengunjungi museum, mengenal berbagai macam layang-layang dari seluruh nusantara dan dunia, membuat layang-layang dan menerbangkannya, serta mengobrol dengan pemandu wisata adalah keasyikan yang bisa dinikmati bersama-sama dengan keluarga. Ada pesan di balik layang-layang, mengenai kebersamaan, keceriaan, kesabaran, kepedulian, dan kekeluargaan.


small

23 Agustus, 2012

small

It suddenly struck me that that tiny pea,
pretty and blue, was the Earth.
I put up my thumb and shut one eye,
and my thumb blotted out the planet Earth.
I didn’t feel like a giant. I felt very, very small.
– Neil Armstrong


amalan sunnah penyempurna amalan wajib

22 Agustus, 2012

Beberapa keutamaan penting dari puasa enam hari di bulan Syawal adalah untuk memperbaiki setiap kesalahan dari puasa wajib di bulan Ramadan, karena tidak satupun orang yang bebas dari dosa dan kesalahan yang membuat nilai puasanya berkurang. Pada hari kiamat, beberapa amalan nafilnya digunakan untuk menambal kekurangan pada amalan wajib, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hal yang pertama dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah salat, Tuhan kita subhanahu wata’ala akan berkata kepada malaikat-Nya – walaupun Dia Maha mengetahui – ‘Lihat amalan salat hamba-Ku, apakah sempurna atau tidak.’ jika sempurna maka akan dicatat sempurna, jika didapatkan ada kekurangan maka Dia berkata, ‘Lihat dan carilah apakah hamba-Ku mengerjakan salat sunah?’ jika ia mengerjakan salat sunah maka dikatakan, ‘Sempurnakan salat wajib hamba-Ku dengan salat sunah yang ia kerjakan.’ Maka semua amal ibadahnya akan dipertimbangkan dengan cara yang serupa.” (H.R. Abu Dawud).


%d blogger menyukai ini: