antara petruk dan pinocchio

25 Agustus, 2012

Kisah Petruk dan Pinocchio (Pinokio) barangkali sama-sama lawasnya walaupun berasal dari negara yang berbeda. Petruk dilahirkan di lingkungan Jawa oleh penggubah kisah-kisah pewayangan sebagai salah satu dari empat punakawan, sedangkan Pinocchio dilahirkan di Italia oleh penulis cerita anak-anak Carlo Collodi sebagai anak-anakan kayu buatan Geppetto. Kisah mereka satu sama lain jelas jauh berbeda, kesamaan di antara keduanya barangkali adalah karakter hidung yang panjang.

Namun perjalanan kisah Petruk tidak seberuntung kisah Pinocchio yang mendunia lewat propaganda Disney, kisah-kisah Petruk terbatas berputar di tanah Jawa saja, itupun disajikan dalam bentuk lakon pewayangan yang sangat tidak akrab bagi dunia anak-anak zaman sekarang. Barangkali komik karya Tatang S adalah media yang bertahan memopulerkan Petruk dan Gareng sebagai dua sejoli dari Kampung Tumaritis hanya pada generasi 1980-an saja.

Ketika sedang mewarnai layang-layang yang kami buat di Museum Layang-Layang Indonesia, berkunjunglah sebuah keluarga dengan lima orang anak berusia SD dan TK. Pemandu museum mengajukan pertanyaan kepada anak-anak itu mengenai karakter Petruk dan Gareng yang ditampilkan dalam bentuk layang-layang, “Siapakah tokoh berhidung panjang itu?”, dijawablah oleh salah seorang anak, “Pinokio!”


pesan di balik layang-layang

25 Agustus, 2012

Tidak jauh dari rumah, situs menarik yang bisa menjadi pilihan liburan keluarga adalah Museum Layang-Layang Indonesia, hanya dengan tiket Rp10 ribu untuk ATM (Audiovisual, Tour dan Membuat) Layang-layang. Museum milik pribadi ibu Endang Ernawati (istri mantan Ka Bulog Widjanarko Puspoyo) yang terletak di Jl. Haji Kamang No. 38 Pondok Labu, Jakarta Selatan, selain memamerkan layang-layang berbagai bentuk dan jenis juga menawarkan berbagai kegiatan budaya seperti membuat keramik dan membatik. Di kala sepi pengunjung seperti saat liburan lebaran kemarin, kita dapat menikmati waktu kunjungan dengan lebih intensif.

Sebagai warisan budaya, layang-layang memiliki peran sebagai media komunikasi rakyat, dibuat dan diterbangkan dalam rangka kegiatan tertentu, misalnya untuk menandai musim panen, bahkan di adat tertentu dianggap mampu mengusir roh jahat. Dalam novel The Kite Runner karangan Khaled Hosseini disuguhkan pesan bahwa layang-layang dapat menjadi alasan pengikat persaudaraan.

Bermain layang-layang memang mengasyikkan, membuatnya pun merupakan keasyikan tersendiri. Mengunjungi museum, mengenal berbagai macam layang-layang dari seluruh nusantara dan dunia, membuat layang-layang dan menerbangkannya, serta mengobrol dengan pemandu wisata adalah keasyikan yang bisa dinikmati bersama-sama dengan keluarga. Ada pesan di balik layang-layang, mengenai kebersamaan, keceriaan, kesabaran, kepedulian, dan kekeluargaan.


<span>%d</span> blogger menyukai ini: