refleksi [maulid] wafat nabi

24 Januari, 2013

Betapa banyak yg berhari raya di hari kamis ini padahal Rasulullah membiasakan berpuasa di hari kamis.

Betapa banyak yg membaca yasin di malam jumat padahal Rasulullah menganjurkan membaca alkahfi.

Betapa banyak yg lupa bersalawat setelah azan dan yg bersenandung di antara azan dan ikamah padahal Rasulullah memberitahu itu salah satu saat diijabahnya doa.

Betapa banyak yg meninggalkan sunnah dan menghidupkan bidah namun mengaku mencintai Rasulullah?

Shallallahu alaihi wa alaa alihi wasallam.

(refleksi [maulid] wafat nabi)
Betapa banyak yg mengenal 12 rabiul awal sbg hari lahir nabi walaupun banyak ulama sejarah tidak sepakat, namun sedikit yg mengetahui tgl tsb disepakati sbg hari wafatnya.*

*Imam Ibnu Hajar al-Asqalany di dalam kitab Al-Fath (Fathul Bari) mengatakan bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa Rasulullah wafat di waktu dhuha hari Senin di bulan Rabiul Awal yaitu hari kedua belas. Demikian pula Imam Ibnu Katsir menyatakannya di dalam Sirah Nabawiyah.

 

 

Iklan

super bonus! pahala rabiul awal!

23 Januari, 2013

Raihlah Pahala di Hari Kamis, Jumat, Sabtu, Ahad dan Senin

_

Bismillâh.

Mulai besok, Kamis (24 Januari 2013) hingga Senin––pekan depan––(28 Januari 2013) adalah lima hari yang Allah berikan secara berturut² bagi Kaum Muslimîn untuk meraih pahala yang tiada terkira, insyâ Allâh. Bagaimana tidak? Pada lima hari tesebut, terdapat dua ‘Puasa Sunnah’ dan satu hari yang sangat agung, yakni hari Jumat.

❒ Besok, Kamis (12 Rabî’ul Awwâl 1434 H) dan Senin (16 Rabî’ul Awwâl 1434 H) adalah hari yang dinanti Kaum Muslimîn setiap pekannya untuk berpuasa, yakni ‘Puasa Sunnah Senin & Kamis'[1].

❒ Sedangkan lusa dan dua hari setelahnya, Jumat (13 Rabî’ul Awwâl), Sabtu (14 Rabî’ul Awwâl) dan Ahad (15 Rabî’ul Awwâl) adalah hari yang dinanti Kaum Muslimîn setiap bulan (Hijriah)-nya untuk berpuasa, yakni ‘Puasa Yaumul Bidh'[2].

_______________________

Footnote:

[1] Sunnah-nya Puasa Senin & Kamis berdasarkan hadis² berikut:

✔ Aisyah radhiyallahu’anha berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَحَرَّىَ صِيَام الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيس

“Sesungguhnya Rasulullah––shallallâhu ‘alaihi wasallam––senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. an-Nasâi dan Ibnu Mâjah. Lihat: Shahih Ibni Majah, 1414]

✔ Dari, Abû Hurairah––radhiyallâhu ‘anhu, ––Rasulullah––shallallâhu ‘alaihi wasallam––bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Amalan-amalan diperhadapkan kepada Allah Ta’ala pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka ketika diperhadapkan amalanku sedang aku sedang berpuasa.” (HR. at-Tirmidzi. Lihat: Shahih at-Targhib, 1041)

_

[2] Sunnah-nya Puasa Yaumul Bidh berdasarkan hadis² berikut:

✔ Abû Hurairah––radhiyallâhu ‘anhu––berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku (yakni: Nabi––shallallâhu ‘alaihi wasallam––) telah berwasiat kepadaku (untuk mengerjakan): puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat di waktu duha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. al-Bukhari no.1981, dan Muslim no.721)

✔ Dari Abdullâh bin Amr––radhiyallâhu ‘anhu––, Nabi––shallallâhu ‘alaihi wasallam––bersabda,

….وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ

“..Dan berpuasalah tiga hari pada setiap bulan, karena sesungguhnya kebaikan itu akan (dilipat gandakan) dengan sepuluh (kali) yang semisalnya. Oleh karenanya, seolah-olah engkau berpuasa selama sebulan penuh. (HR. al-Bukhari no.1976 dan Muslim no.1159)

✔ Abû Dzar ––radhiyallâhu ‘anhu––, Nabi––shallallâhu ‘alaihi wasallam––bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Wahai Abû Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari dalam setiap bulannya, maka berpuasalah pada (tanggal) 13, 14 dan 15.” (HR. at-Tirmidzi no.761. Hadits ini dinilai ‘hasan’ oleh Imâm at-Tirmidzi, dan dinilai ‘hasan shahîh’ oleh Muhaddits al-Ashr)

https://www.facebook.com/naufan.surya


si pelit

23 Januari, 2013

Pernah ada seorang kaya yang sangat pelit, terhadap tetangganya yang miskin pun ia tidak pernah mau berbagi. Sehingga si miskin tetangganya mengumpulkan uang sedemikian rupa untuk menjamu si kaya dengan hidangan yang cukup mewah sambil berharap agar si kaya mau berubah menjadi dermawan. Si kaya pun memenuhi undangan makan si miskin. Terhidang di hadapannnya berbagai makanan yang enak-enak. Si kaya sangsi bagaimana mungkin si miskin ini dapat menyediakan jamuan yang mewah. Mengetahui bahwasanya cuma-cuma, ia pun menikmati seluruh hidangan dengan lahap sampai kenyang. Ketika si kaya bersendawa karena kekenyangan, seketika itu pula ia muntah dan menangis tersedu-sedu. Si miskin memerhatikan hal ini dan mengira bahwa si kaya sudah sadar akan kepelitannya selama ini. Si miskin memberanikan diri bertanya, “Apa gerangan yang menyebabkanmu menangis begini, wahai Fulan?”

Si kaya mengusap air matanya, menatap wajah si miskin kemudian berkata, “Saya menangis karena sedih dan merasa sayang harus memuntahkan makanan enak yang saya makan dengan cuma-cuma ini.”


lupa nikmat

20 Januari, 2013

Kebanyakan dari kita melupakan firman Allah yang artinya, “sesungguhnya manusia, kepada Tuhannya, tidak berterima kasih”, QS 100:6. Yaitu ketika Allah mencabut salah satu nikmat-Nya dari kita, seketika itu pula kita mengingat-ingat musibah dan melupakan begitu banyak nikmat lainnya. Seakan-akan tidak ada orang lain yang lebih menderita daripada kita.

Padahal musibah yang kita rasakan hanyalah sedikit dari cobaan yang Allah timpakan kepada kita. Padahal begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sebelum musibah itu datang atau barangkali musibah kita sesungguhnya lebih ringan daripada penderitaan orang lain, namun kita melupakan nikmat tersebut dan tidak mensyukurinya.

Seorang tabiin yang istimewa karena sudah disebut namanya semasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, Uwais al-Qarni –semoga Allah mengasihi beliau– memiliki tips sederhana untuk melanggengkan rasa syukur. Dahulunya ia pernah berdoa kepada Allah untuk menyembuhkannya dari penyakit buras di seluruh tubuhnya, namun minta disisakan sedikit di sekitar perutnya. Allah pun mengabulkan doanya. Dengan sisa penyakit yang sedikit itu ia tidak melupakan nikmat Allah.

Sedangkan kita, barangkali malah mengisi waktu saat ditimpa musibah dengan keluhan dan berburuk sangka kepada Allah dengan rasa putus asa. Padahal keluhan adalah tanda bahwa kita kurang bersyukur. Padahal tidaklah berputus asa dari kasih sayang Allah kecuali orang-orang kufur nikmat.

Makanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditimpa cobaan mengganti keluhan dengan ucapan, “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” (segala puji bagi Allah atas segala perkara yang menyusahkan ini). Hal ini dimaksud agar kita tetap mengingat Allah dengan segala nikmat yang telah Ia berikan walau dalam keadaan sempit sekalipun.


celengan radya

16 Januari, 2013

celengan-1-

“Baba, celengan Radya kan sudah penuh,” kata Radya penuh maksud. “Oya, kalau sudah penuh mau diapakan?” tanya Baba menyelidik. “Nanti kan, celengannya dibuka. Terus uangnya dihitung,” jawab Radya, “lalu bisa dimasukkan ke bank. Iya kan, Ba?” Baba mengomentari, “Boleh dimasukkan ke bank, boleh juga untuk membeli keperluan Radya sendiri.”

-2-

“Baba, buka celengannya dong,” pinta Radya, “kan, sudah penuh nih, gak bisa memasukkan uang lagi.” Baba memeriksa celengan tersebut, “Belum kok, Mas. Mengapa tidak buka sama-sama dengan celengannya adik Tsuraya dan adik Athiya?” “Wah, masih lama,” jawab Radya, “celengannya adik Tsuraya dan adik Athiya masih belum penuh.” Baba menimpali, “Kalau begitu, boleh aja dibuka, tapi Mas sendiri ya?” Radya mengangguk. Beberapa saat kemudian, “Ehhh, gak bisa kebuka, nih Ba!” keluh Radya. Baba mengulurkan bantuan memegang celengan sehingga memudahkan Radya membukanya. Broll! Krincring…! “Wah, uangnya banyak ya, Ba?”

-3-

“Wah, uangnya mas Radya banyak juga ya,” celetuk Baba, “mau digunakan untuk apa, Mas?” Radya menimpali, “Kan, hape Baba, Samsung Galaxy Note, ya?” “Aha, Radya mau beli hape?” tanya Baba disambut anggukan Radya. “Uang Radya, cukup buat beli hape gak?” tanya Radya. “Kalaupun cukup, Radya tetap harus memikirkan beli pulsa. Apa Radya punya uang lagi?” Baba menggali lebih jauh, Radya terdiam.

-4-

“Sepertinya, uang Radya gak cukup deh,” Bubu menyambung percakapan, “Mas Radya perlu 4 buah celengan lagi supaya bisa membeli hape seperti punya Baba.” Radya menjawab, “Kalau begitu, kita buka sekalian celengan adik Tsuraya dan adik Athiya, ya Bu?” Bubu buru-buru menjelaskan, “Hei, itu namanya mengambil hak orang lain. Tidak boleh, mas!” Radya terdiam. Bubu memberi solusi, “Bagaimana kalau mas simpan lagi uangnya, lalu menabung lebih banyak lagi, supaya bisa membeli hape seperti hape Baba?”

-5-

“Ya udah, uangnya buat jajan saja,” tukas Radya. “Lho, kalau dijajanin, nanti malah gak bisa kebeli hapenya dong, Mas?” tanya Baba. “Ya udah disimpan saja,” jawab Radya. “Disimpannya sendiri, atau titip Baba atau Bubu, atau disimpan di bank?” tanya Bubu. “Kalau disimpan di bank, ada yang menjamin uang Radya aman. Kalau dititip ke Baba atau Bubu, maka Baba atau Bubu yang menjamin. Sedangkan jika disimpan sendiri, Radya bertanggung jawab penuh dan jika nanti kehilangan, Radya tidak dapat meminta Baba menggantinya. Bagaimana?” Baba menawarkan pilihan. “Radya maunya disimpan sendiri aja,” pilih Radya.

-6-

“Mas Radya, mau menyimpan uangnya di celengan atau di dompet?” tanya Bubu. “Di dompet aja, Bu. Kan celengannya sudah rusak, tidak dapat dipake lagi,” jawab Radya. “Ngomong-ngomong, uang Radya ini ada berapa sih?” tanya Baba. “Mas mau pake buat jajan, ah,” paling Radya sambil mengambil selembar uang seratus ribuan. “Hei, itu terlalu besar,” Bubu melanjutkan, “Mas boleh saja mengambil uang tabungan mas sendiri untuk jajan, namun secukupnya.”

-7-

“Bagaimana kalau Radya hitung dulu uangnya, supaya Radya dapat memikirkan untuk keperluan apa saja uang sebanyak ini?” Baba mengusulkan. Radya menyetujui sambil menghitung uang yang ada di dalam dompet barunya. “Ada 32,” jawab Radya seketika. “32?” tanya Baba. “Oh, barangkali jumlah lembarannya ada 32 lembar, benar demikian?” timpal Bubu. “Waduh, Mas. Jumlahnya memang 32 lembar, mungkin lebih, tetapi Radya tetap harus tahu berapa nilai tabungan Radya yang tunai saat ini. Kalau Radya tahu berapa nilai rupiahnya, Radya boleh belanjakan sesukanya, seperlunya,” ujar Baba mengarahkan Radya yang disambut dengan antusias.

-8-

Radya menutupi tangisannya pada guling yang dipeluknya memandang dompet barunya yang berisi uang. Baba melihatnya dan bertanya, “Mas Radya, ada masalah apa? Mengapa menangis?” Dengan terisak-isak Radya menjawab, “Kan, Mas hitung uangnya, seribu dua ribu, terus… uangnya kebanyakan… Mas gak bisa hitung lagi… hiks.” Baba tersenyum, “Oh, Radya kesulitan menghitungnya? Mau Baba ajari berhitung uang?” Radya mengangguk kemudian meraih bolpoin dan kertas untuk belajar berhitung.

-9-

“Bubu, pak Muhidin kan gak punya uang,” ujar Radya mengenai tukang ojek langganannya lalu meminta persetujuan ibunya, “Boleh gak, Radya kasihkan (sebagian) uang Radya?” yang disambut oleh senyuman Bubu.


rambutnya nanti juga tumbuh

15 Januari, 2013

Tsuraya, 4 tahun, yang masih doyan menggunting, kali ini menggunting rambut boneka barbie. Baba bertanya, “Lho, mbak. Kok rambut barbie-nya digunting? Kan ga bisa tumbuh lagi?” Dengan ringan, Tsuraya menjawab, “Biar Aya sampoin, rambutnya nanti juga tumbuh.”


kan radya sayang baba

15 Januari, 2013

babaPada daftar jawaban soal pekerjaan rumah: coba tulis kata-kata yang huruf akhirnya “a”, yang  ditulis oleh Radya terdapat kata “baba”. Bubu bertanya, “lho, kok ada kata ‘baba’? bukannya ‘baba’ adalah panggilan untuk ayahmu, mas?” Dengan enteng Radya menjawab, “Biarin aja, Bu. Kan, Radya sayang Baba.” 🙂


%d blogger menyukai ini: