celengan radya

celengan-1-

“Baba, celengan Radya kan sudah penuh,” kata Radya penuh maksud. “Oya, kalau sudah penuh mau diapakan?” tanya Baba menyelidik. “Nanti kan, celengannya dibuka. Terus uangnya dihitung,” jawab Radya, “lalu bisa dimasukkan ke bank. Iya kan, Ba?” Baba mengomentari, “Boleh dimasukkan ke bank, boleh juga untuk membeli keperluan Radya sendiri.”

-2-

“Baba, buka celengannya dong,” pinta Radya, “kan, sudah penuh nih, gak bisa memasukkan uang lagi.” Baba memeriksa celengan tersebut, “Belum kok, Mas. Mengapa tidak buka sama-sama dengan celengannya adik Tsuraya dan adik Athiya?” “Wah, masih lama,” jawab Radya, “celengannya adik Tsuraya dan adik Athiya masih belum penuh.” Baba menimpali, “Kalau begitu, boleh aja dibuka, tapi Mas sendiri ya?” Radya mengangguk. Beberapa saat kemudian, “Ehhh, gak bisa kebuka, nih Ba!” keluh Radya. Baba mengulurkan bantuan memegang celengan sehingga memudahkan Radya membukanya. Broll! Krincring…! “Wah, uangnya banyak ya, Ba?”

-3-

“Wah, uangnya mas Radya banyak juga ya,” celetuk Baba, “mau digunakan untuk apa, Mas?” Radya menimpali, “Kan, hape Baba, Samsung Galaxy Note, ya?” “Aha, Radya mau beli hape?” tanya Baba disambut anggukan Radya. “Uang Radya, cukup buat beli hape gak?” tanya Radya. “Kalaupun cukup, Radya tetap harus memikirkan beli pulsa. Apa Radya punya uang lagi?” Baba menggali lebih jauh, Radya terdiam.

-4-

“Sepertinya, uang Radya gak cukup deh,” Bubu menyambung percakapan, “Mas Radya perlu 4 buah celengan lagi supaya bisa membeli hape seperti punya Baba.” Radya menjawab, “Kalau begitu, kita buka sekalian celengan adik Tsuraya dan adik Athiya, ya Bu?” Bubu buru-buru menjelaskan, “Hei, itu namanya mengambil hak orang lain. Tidak boleh, mas!” Radya terdiam. Bubu memberi solusi, “Bagaimana kalau mas simpan lagi uangnya, lalu menabung lebih banyak lagi, supaya bisa membeli hape seperti hape Baba?”

-5-

“Ya udah, uangnya buat jajan saja,” tukas Radya. “Lho, kalau dijajanin, nanti malah gak bisa kebeli hapenya dong, Mas?” tanya Baba. “Ya udah disimpan saja,” jawab Radya. “Disimpannya sendiri, atau titip Baba atau Bubu, atau disimpan di bank?” tanya Bubu. “Kalau disimpan di bank, ada yang menjamin uang Radya aman. Kalau dititip ke Baba atau Bubu, maka Baba atau Bubu yang menjamin. Sedangkan jika disimpan sendiri, Radya bertanggung jawab penuh dan jika nanti kehilangan, Radya tidak dapat meminta Baba menggantinya. Bagaimana?” Baba menawarkan pilihan. “Radya maunya disimpan sendiri aja,” pilih Radya.

-6-

“Mas Radya, mau menyimpan uangnya di celengan atau di dompet?” tanya Bubu. “Di dompet aja, Bu. Kan celengannya sudah rusak, tidak dapat dipake lagi,” jawab Radya. “Ngomong-ngomong, uang Radya ini ada berapa sih?” tanya Baba. “Mas mau pake buat jajan, ah,” paling Radya sambil mengambil selembar uang seratus ribuan. “Hei, itu terlalu besar,” Bubu melanjutkan, “Mas boleh saja mengambil uang tabungan mas sendiri untuk jajan, namun secukupnya.”

-7-

“Bagaimana kalau Radya hitung dulu uangnya, supaya Radya dapat memikirkan untuk keperluan apa saja uang sebanyak ini?” Baba mengusulkan. Radya menyetujui sambil menghitung uang yang ada di dalam dompet barunya. “Ada 32,” jawab Radya seketika. “32?” tanya Baba. “Oh, barangkali jumlah lembarannya ada 32 lembar, benar demikian?” timpal Bubu. “Waduh, Mas. Jumlahnya memang 32 lembar, mungkin lebih, tetapi Radya tetap harus tahu berapa nilai tabungan Radya yang tunai saat ini. Kalau Radya tahu berapa nilai rupiahnya, Radya boleh belanjakan sesukanya, seperlunya,” ujar Baba mengarahkan Radya yang disambut dengan antusias.

-8-

Radya menutupi tangisannya pada guling yang dipeluknya memandang dompet barunya yang berisi uang. Baba melihatnya dan bertanya, “Mas Radya, ada masalah apa? Mengapa menangis?” Dengan terisak-isak Radya menjawab, “Kan, Mas hitung uangnya, seribu dua ribu, terus… uangnya kebanyakan… Mas gak bisa hitung lagi… hiks.” Baba tersenyum, “Oh, Radya kesulitan menghitungnya? Mau Baba ajari berhitung uang?” Radya mengangguk kemudian meraih bolpoin dan kertas untuk belajar berhitung.

-9-

“Bubu, pak Muhidin kan gak punya uang,” ujar Radya mengenai tukang ojek langganannya lalu meminta persetujuan ibunya, “Boleh gak, Radya kasihkan (sebagian) uang Radya?” yang disambut oleh senyuman Bubu.

Satu Balasan ke celengan radya

  1. […] tidak tahan juga Radya ingin membelanjakan uang tabungannya. Ketika diajak ke Living Plaza Cinere untuk membeli knock down shelf di Ace Hardware, mampir […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: