rumah bibi berantakan

messyroomAnak-anak sering pergi bermain ke rumah Bibi, begitu kami memanggil orang yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah kami, begitu Bibi selesai dengan urusan pekerjaan. Selain bercerita tentang bermain dengan ayam dan dengan anak-anak keponakan Bibi, anak-anak juga sering menceritakan kondisi rumah bibi yang sederhana. Komentar mereka seakan-akan mengharapkan agar orang tuanya dapat membagikan sesuatu buat Bibi dan keluarganya. Sehingga tak jarang kami berbagi dengan Bibi dan keluarganya dari kelebihan karunia yang diberikan Allah.

Tsuraya, dalam kesempatan menghabiskan plafon 2000 kata per harinya di malam hari sebelum tidur, menyebutkan, “Rumah Bibi berantakan.” Bubunya menanggapi, “Mengapa rumah Bibi berantakan?”

“Barang-barangnya banyak,” jawab Tsuraya. “Bibi gak sempat membereskan rumahnya, ya?” tanya Bubu. “Iya, Bibi capek,” Tsuraya menjawab sambil memainkan sendok di gelas teh manisnya. “Mengapa Bibi capek?” Bubu balik bertanya. “Bibi capek beresin rumah Tsuraya,” jawab Tsuraya.

“Kasihan ya, rumah Bibi berantakan. Karena capek, Bibi gak sempat membereskan rumahnya sendiri,” Baba menimpali disambut dengan jawaban, “Iya,” setuju Tsuraya. “Kalau begitu, Bibi kita berhentikan saja, supaya tidak capek, dan bisa membereskan rumahnya sendiri. Bagaimana?” tanya Baba.

Tsuraya menjawab, “Nanti, yang beresin rumah Tsuraya, siapa dong?”

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: