LERAK: Pembersih Ramah Lingkungan untuk Popok Kain Bebas Masalah

20 September, 2013

Bismillah

Siapa ngga kenal buah lerak? Kalau Anda pecinta batik, pengguna popok kain, atau sekedar penggiat kelestarian alam, ada baiknya Anda kenal buah ini. Kalau belum kenal, yuk baca ulasan singkat berikut.

Lerak adalah nama lokal dari Sapindus rarak Dc. Klasifikasinya sebagai berikut:

  • Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
  • Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
  • Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
  • Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
  • Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
  • Sub Kelas: RosidaeOrdo: Sapindales
  • Famili: Sapindaceae
  • Genus: Sapindus
  • Spesies: Sapindus rarak Dc

Lerak (terutama Sapindus rarak De Candole, dapat pula S. mukorossi atau dikenal juga sebagai rerek atau lamuran adalah tumbuhan yang dikenal karena kegunaan bijinya yang dipakai sebagai deterjen tradisional. Batik biasanya dianjurkan untuk dicuci dengan lerak karena dianggap sebagai bahan pencuci paling sesuai untuk menjaga kualitas warna batik.

Tumbuhan lerak berbentuk pohon dan rata-rata memiliki tinggi 10m walaupun bisa mencapai 42 meter dengan diameter 1m. Pohon lerak besar dengan kualitas kayu yang setara kayu jati banyak ditebang karena memiliki nilai ekonomis. Bentuk daunnya bulat-telur berujung runcing, bertepi rata, bertangkai pendek dan berwarna hijau. Biji terbungkus kulit cukup keras bulat seperti kelereng, kalau sudah masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin dan mengkilat.

Biji lerak mengandung saponin, suatu alkaloid beracun. Saponin inilah yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci, dan dapat pula dimanfaatkan sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai, bahkan memandikan dan membersihkan binatan peliharaan. Kandungan racun biji lerak juga berpotensi sebagai insektisida. Kulit buah lerak dapat digunakan pada wajah atau kulit untuk mengurangi jerawat dan kudis. Pada popok kain, lerak adalah alternatif pencuci popok kain yang efektif menghilangkan bau, lembut di kain dan yang pasti anti galau karena sangat ramah lingkungan.

Buah lerak relatif mudah didapatkan dan biasanya dijual di pasar-pasar tradisional. Ada beberapa cara membuat sabun alami dari lerak:

  1. Ambil 2-3 biji lerak, cuci bersih, rendam di +/- 200ml air dingin sehari-semalam (+/- 24 jam), geprek biji yang sudah lunak, kocok2 di air rendaman, saring. Sabun lerak siap dgunakan.
  2. Ambil 2-3 biji lerak, cuci bersih, rendam di +/- 200ml air panas semalaman (+/- 12 jam), geprek biji yang sudah lunak, kocok2 di air rendaman, saring. Sabun lerak siap dgunakan.
  3. Ambil 10-15 biji lerak, cuci bersih, geprek/kupas dan potong kecil-kecil kulit lunak yang melapisi biji, rebus selama +/- 1 jam dengan 2 liter air sampai jadi 1 liter larutan berwarna kecoklatan, saring. Sabun lerak siap dgunakan. Kelebihannya bisa disimpan di kulkas.

Untuk takarannya, cara 1 dan 2 dibuat hanya untuk sekali cuci. Cara 3 bisa untuk 4-5 kali cuci. Ketiganya efektif untuk mencuci hingga 12 paket popok kain modern, total 24-36 buah luaran (cover) dan penyerap (insert/soaker). Takaran air secukupnya. Pengalaman pribadi, saya pakai +/- 10 liter air untuk pencucian dengan tangan dan +/- 50 liter untuk pencucian dengan mesin cuci.

Bisa deh bilang, dengan sabun lerak jadi tambah jatuh cinta sama popok kain dan teman-temannya.

Semoga bermanfaat 🙂

– dari berbagai sumber –


KB OHH.. KB

1 September, 2013

Perempuan menikah usia subur yang sudah punya 2 anak, di jaman ini, biasanya akan galau untuk menambah jumlah anak lagi. Alasannya beragam, mulai dari biaya, repot, kurang sabar, dll.

Dari berbagai metode KB yang ditawarkan penyedia layanan kesehatan, metode hormonal berupa pil, suntik, dan susuk KB (menurut buku “Metode Ovulasi Billings”) dapat mempertinggi resiko penyakit jantung dan stroke. KB fisik berupa IUD juga beresiko pendarahan jika anatomi (atau fisiologi ya – ketauan deh awamnya.. xixixixix) rahim kurang cocok.

Sebetulnya KB pun bisa dilakukan secara alami (udah tau ya? xixixixixix). Di awal abad 20, Dr. H. Knaus ( Australia ) dan Dr. K. Ogino ( Jepang ) memperkenalkan metode kalender yang merupakan metode KB berdasarkan perhitungan panjang – pendeknya siklus. Agak kurang efektif untuk yang periode atau interval menstruasinya tidak teratur.

Pada tahun 1960-1970, pasangan Dr. John dan Evelyn Billings menemukan metode KB alami berdasarkan deteksi mukosa servix yang terkenal dengan nama “Metode Ovulasi Billings”. Silakan baca resensinya di sini: http://kbapusimob.blogsome.com/2008/08/06/belajar-memakai-metode-ovulasi-billings/) atau baca bukunya kalau mau tahu lebih detail, terlalu panjang kalau dijabarkan di sini ^^

Ada juga metode yang namanya “azl” a.k.a. coitus interuptus (silakan cari referensinya sendiri yaa), tapi biasanya perlu keikhlasan terutama dari Bapak2 untuk mengalami intervensi semacam ini.. xixixixixi

Menyusui juga bisa menjadi alternatif KB alami, tapi memang harus sangat intens, dan sangat tergantung reaksi hormonal tubuh ibu. Biasanya kemampuan ini diturunkan secara genetik (menurut survey kecil-kecilan yang ngga jelas standarnya – alias baru asumsi sajah.. xixixixixi)

Oya baru inget, sekarang sudah ada alat yg namanya “Ovutest Scope” untuk memantau kematangan sel telur. Yang ini lebih praktis daripada metode Billings, harganya lumayan, tapi worthed karena bisa dipakai berkali-kali. #bukaniklan #kbalami

ada yang mau nambahin?


%d blogger menyukai ini: