sopan santun bertelepon

22 Januari, 2014

sebuah panggilan masuk di hp saya dari nomor yg belum saya simpan, saya angkat, “halo.”

suara di seberang berkata, “halo juga.”

“maaf, anda siapa dan apa yg dapat saya bantu?” tanya saya.

“oh gitu ya…, sama teman sendiri lupa?” jawab suara di seberang.

“maaf, saya tidak menyimpan data anda. mohon kiranya memperkenalkan diri,” pinta saya.

“oh gitu sekarang, sudah lupa sama teman. atau apakah karena nomor saya baru, ya?” kata suara di seberang.

“lho. ya kalau tidak mau memperkenalkan diri, bagaimana saya mengetahui dengan siapa saya bicara?” jelas saya.

“saya cuma mau ngobrol sama kamu. tapi karena kamu ga mengenali. ya sudah. kamu simpan nomor saya. lalu ingat2 dulu siapa saya. oke? selamat malam!” telepon ditutup sepihak oleh suara di seberang.

tinggallah saya terbengong2. kok bisa ya? ada orang dewasa yg sopan santun berteleponnya kalah dengan anak TK?


memaknai doa agar hujan berhenti

22 Januari, 2014

Ketika musim banjir dan hujan sekarang, beredarlah doa populer yang berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radiyallahu anhu:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah! Berilah hujan ke dataran tinggi, beberapa anak bukit, lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

Kemudian beredar pula tanggapan apakah doa itu masih relevan dengan kondisi baik waktu dan tempatnya? Lalu mengorelasikan dengan asbabul wurud Rasulullah membacakan doa tersebut? Dan mendiskusikan antara tekstual dan kontekstual doa tersebut?

Sebenarnya jika kita mau merenungi dan memahami, bahwa baik tekstual dan kontekstual serta kondisional dari doa tersebut, kita akan menemukan betapa banyak faidah dan relevansi doa itu bagi kita. Teks lengkap doa itu bisa kita baca di sini. Secara ringkasnya, seseorang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam mengeluhkan kemarau yang membinasakan dan untuk berdoa minta hujan. Setelah Rasulullah berdoa, hujan turun selama sepekan dan tidak berhenti. Orang itu datang kembali karena hujan telah membinasakan, maka Rasulullah membaca doa di atas sehingga hujan berhenti dan matahari kembali bersinar cerah.

Dalam kondisi hujan dan bencana banjir yang kita hadapi, tentu tidak ada ruginya kita membaca doa tersebut. Di antara faidah yang bisa kita petik:
1. Mengikuti amal yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semua orang tahu dan sepakat bahwa sikap ittiba’ adalah kecintaan yang sempurna kepada beliau, dan tentu saja mendapat pahala.
2. Doa itu berisi agar hujan dialihkan ke tempat selain pemukiman, karena lebih membutuhkan dan lebih memberi manfaat. Allah maha mengetahui di mana tempat-tempat yang tepat untuk diturunkannya hujan yang bermanfaat. Maka doa ini mengajarkan kita untuk percaya dan mengembalikan keimanan kita seutuhnya dan murni kepada Allah saja.
3. Doa itu menyebutkan tempat-tempat agar hujan dialihkan yaitu dataran tinggi, perbukitan, lembah dan tanah subur. Apabila kita lihat kondisinya sekarang, tempat-tempat itu sudah rusak dan tidak berfungsi sesuai peruntukkannya. Ketika melihat iklan pengembang pemukiman: BEBAS BANJIR, kita akan dapati pemukiman tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau Daerah Resapan Air (DRA). Maka karena kerusakan yang kita buat sendiri, wajar saja jika banjir melanda.

Bagaimanapun, secara harafiah dan maknawi, doa ini telah mengajak kita merenungi kembali apakah kita telah benar-benar mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semoga dengan mengamalkannya, Allah segera menghentikan hujan dan menerbitkan kembali cerahnya sinar matahari. Wallahu a’lam.


marginal friends

22 Januari, 2014

apa sih maksudnya “marginal friends”? secara harafiah adalah “teman-teman yang termasuk orang-orang terpinggirkan” atau kata iwan fals yaitu “orang pinggiran”. Pinggir dalam makna luas: strata sosial, penghasilan, kecerdasan, kemampuan, bahkan penampilan. Dalam banyak hal, orang pinggiran ini tidak menjadi sentra perhatian, melainkan sebagai figuran dalam cerita yang dimainkan. Jika kebanyakan orang lebih suka untuk hidup sukses mulia, dekat dengan pengambil kebijakan, atau bersama dengan para tokoh demi memenuhi skenario hidup yang diinginkannya, ada sebagian orang yang seperti dipilih, untuk selalu berada di dekat orang pinggiran, baik disengaja maupun tidak.

sikap yang dimiliki orang terpilih ini seperti magnet yang menarik orang-orang pinggiran untuk merasa nyaman berada di dekatnya. di saat orang lain menjauhi orang pinggiran, orang terpilih ini menyediakan dirinya untuk bersama mereka, mendengarkan mereka, bermain dengan mereka, membantu mereka dari kesusahan hidup, dan memberikan semangat dan harapan walaupun hanya secercah. walau si orang terpilih tahu para orang pinggiran ini tidak menyumbangkan tambahan apapun bagi dirinya, karirnya, hartanya, apalagi popularitasnya, kecuali hanya memberikan kepada kehidupan yang dijalaninya: sebuah makna.


%d blogger menyukai ini: