7 bentuk durhaka kepada orang tua

(disampaikan oleh Ust. Zainal Abidin di pertemuan orang tua murid Rumah Belajar Ibnu Abbas, 22-04-1435)

Berbuat baik atau berbakti kepada orang tua adalah perkara penting setelah menauhidkan Allah. Telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa tidak ada dosa yang disegerakan balasannya di dunia kecuali 2 dosa: berzina dan durhaka kepada orang tua. Oleh karenanya penting pula untuk mengenal bentuk-bentuk kedurhakaan kepada orang tua, di antaranya:

1. Berkata dengan kasar dan meninggikan suara di hadapan orang tua. (QS 17:23)

2. Membantah ucapan orang tua. Membantah adalah putik-putik kesombongan.

3. Tidak segera memenuhi panggilan orang tua. Telah masyhur kisah tentang Juraij di dalam kitab Riyadus Salihin, si ahli ibadah yang mendapat celaka akibat tidak segera memenuhi panggilan orang tuanya.

4. Mencela, mencerca dan menghina orang tua. Menghina orang tua orang lain sehingga orang lain tersebut menghina orang tua kita, begitu pula mempermalukan orang tua di hadapan orang lain adalah bentuk dari celaan, cercaan dan hinaan kepada orang tua.

5. Membohongi atau berdusta kepada orang tua. Menyembunyikan sesuatu di hadapan orang tua atau bermain belakang (backstreet) dan memanfaatkan ketidaktahuan orang tua untuk kepentingan dirinya.

Pelajaran dari kisah anak-anak Nabi Yaqub alaihissalam yang disebut di dalam surat Yusuf ketika mereka menyadari kesalahannya mereka memohon kepada ayahnya untuk memintakan ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka, hal ini adalah bentuk memohon rida orang tua dengan harapan Allah meridainya. (QS 12:97-98)

6. Membebani dan memperbudak orang tua. Menjadikan orang tua sebagai pelayan (memperbudak) dan memanfaatkan tenaga orang tua untuk melayani kepentingan dirinya. Inilah salah satu pertanda akhir zaman yang diriwayatkan dalam hadits Jibril: “ketika sahaya perempuan melahirkan majikannya.”

7. Tidak berterima kasih dan tidak merasa cukup dengan pemberian orang tua. Membanding-bandingkan kondisi orang tuanya dengan orang tua lain yang dikaruniai kelebihan. Menuntut orang tuanya dengan permintaan yang tidak mampu dipenuhi. Tidak menghargai jerih payah orang tua dalam menghidupi dan menafkahinya.

Anak-anak yang mengetahui dan terlibat dalam kesulitan yang dihadapi orang tua akan menjadi anak-anak yang bersyukur kepada Allah dan lebih berterima kasih kepada orang tua. (QS 31:14)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: