taman-taman surga di masjid nabawi

Didasari oleh hadits riwayat Al-Bukhari & Muslim yang menyebutkan, “tempat antara mimbarku dan rumahku adalah satu taman dari taman-taman surga”, kebanyakan peziarah di Masjid Nabawi begitu bersemangat untuk mendapati Al-Rawdah. Tak peduli waktu dan kondisinya, sampai harus mengantri berdesak-desakan, menunggu waktu buka tirai, berebutan, bahkan sampai menginjak jamaah lain yang terjatuh, demi mendapatkan salah satu taman surga. Banyak di antara mereka yang karena semangat untuk salat di Al-Rawdah malah meninggalkan keutamaan salat di saf pertama. Padahal di Masjid Nabawi, taman surga tidak hanya di Al-Rawdah.

Setiap bada salat Subuh, bada salat Asr, dan bada salat Magrib, akan mudah bagi yang mau untuk mendapati beberapa taman surga di Masjid Nabawi. Taman-taman yang lebih sejuk, damai dan orang-orang yang duduk di dalamnya tidak berdesak-desakan. Majelis yang dinaungi oleh sakinah, rahmat dan dikelilingi para malaikat. Yang apabila orang-orang yang mendatanginya menyebut nama Allah, akan Allah sebut nama mereka di majelis yang lebih mulia di sisi-Nya. Di taman-taman itu ada yang membacakan Alquran dan mempelajarinya, baik dari tahsin (memperbagus bacaan), tafsir (pemahaman), dan hukum-hukum tentang halal dan haram. Ada pula yang mempelajari hadits Nabi.

Bagaimana bisa perkumpulan orang-orang yang membaca kitabullah dan mempelajarinya disebut sebagai taman surga? Bukankah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda: “‘Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah.’ Mereka bertanya, ‘Apakah taman surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Halaqah dzikir (majelis ilmu).'” (HR At-Tirmidzi). Selain itu, mendatangi majelis ilmu di Masjid Nabawi, selain bermanfaat bagi kehidupan juga dijanjikan pahala yang setara dengan pahala jihad. Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barang siapa mendatangi masjidku ini, tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau dia ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barang siapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Duhai, seandainya para peziarah itu tahu keutamaan majelis ilmu di Masjid Nabawi, tentu mereka tidak hanya berebut Al-Rawdah, tetapi juga memperebutkan taman-taman surga lainnya.

Referensi :

Abu Muawiah (2010, October 13). Keistimewaan Masjid Al-Haram dan Nabawi | Al-Atsariyyah.Com. Retrieved February 28, 2014, from http://al-atsariyyah.com/keistimewaan-masjid-al-haram-dan-nabawi.html

Al-Khalafi, A. A. (2004, August 19). Menziarahi Kota Madinah Al-Munawwarah – almanhaj.or.id. Retrieved February 28, 2014, from http://almanhaj.or.id/content/995/slash/0/menziarahi-kota-madinah-al-munawwarah61482/

Syamhudi, K. (2002). Adab majelis ilmu. retrieved February 28, 2014, from http://majalah-assunnah.com/index.php/kajian/hadits/253-adab-majelis-ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: