tsuraya dan ayat kursi

31 Mei, 2014

Pada suatu siang, siaran kajian bertema keutamaan Ayat Kursi menemani perjalanan pulang kami dari rumah eyang. Tsuraya duduk di kursi tengah terkantuk-kantuk lalu lelap tertidur, sementara Athiya, adiknya, duduk di kursi depan menikmati kudapan. Setelah salat magrib, Tsuraya yang masih mengenakan mukenanya menghampiri Baba dan berkata, “Ba, Aya gak bisa.” Baba bertanya, “Tidak bisa apa, Anakku yang cantik?” Tsuraya kemudian duduk di pangkuan Baba, “Kan, kata radio harus baca ayat Kursi setiap selesai salat? Aya gak bisa.” Baba tersenyum, “Oh, Tsuraya tidak hapal bacanya?” Tsuraya mengangguk, Baba melanjutkan, “Barakallahufik. Ayo kita sama-sama melafalkannya.”

Iklan

Wasiat Rasulullah

18 Mei, 2014

عن أبي العباس عبدالله بن عباس رضي الله عنه قال كنت خلف النبي صلى الله عليه وسلم يوماً فقال ” يا غلام , إني أعلمك كلمات : احفظ الله يحفظك , احفظ الله تجده تجاهك , إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله , واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك , وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك , رفعت الأقلام وجفت الصحف ” رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي : احفظ الله تجده أمامك , تعرف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة , واعلم أن ما أخطأك لم يكن ليصيبك وما أصابك لك يكن ليخطئك , واعلم أن النصر مع الصبر , وأن الفرج مع الكرب , وأن مع العسر يسراً

Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

(HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih. Dalam riwayat selain Tirmidzi : “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”)

[Tirmidzi no. 2516]

Riwayat hidup ‘Abdullah bin ‘Abbas sudah banyak dikenal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendo’akannya dengan sabdanya :
“Ya Allah, jadikanlah dia paham tentang agamanya dan ajarkanlah kepadanya penafsiran Al Qur’an”.

Nabi juga mendo’akannya agar diberi hikmah dua kali. Ada riwayat yang sah dari dirinya bahwa dia pernah melihat Jibril dua kali. Ia adalah ulama yang kaya ilmu di kalangan umat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihatnya sebagai seorang anak yang patut menerima pesan beliau.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya : “Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu”, maksudnya hendaklah kamu menjadi orang yang taat kepada Tuhanmu, melaksanakan semua perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu”, maksudnya hendaklah beramal karena-Nya dengan penuh ketaatan sehingga Allah tidak memandangmu sebagai orang yang menyalahi perintah-Nya, niscaya kamu akan mendapati Allah menjadi penolongmu di saat situasi sulit, seperti yang pernah terjadi pada kisah tiga orang yang tertimpa hujan lebat lalu mereka berlindung di dalam gua, kemudian pintu gua tertutup batu. Pada saat itu mereka berkata kepada sesamanya : “Ingatlah kebaikan yang pernah kamu lakukan, lalu mohonlah kepada Allah dengan kebaikan itu supaya kamu diselamatkan”. Kemudian masing-masing menyebut kebaikan yang pernah dilakukan, maka batu penutup gua itu kemudian terbuka lalu mereka dapat keluar. Kisah mereka ini popular dan terdapat pada Hadits shahih.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah”, memberikan petunjuk supaya bertawakkal kepada Allah, tidak bertuhan kepada selain-Nya, tidak menggantungkan nasibnya kepada siapa pun baik sedikit ataupun banyak.

Allah berfirman :
“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah maka Allah pasti akan memberinya kecukupan”. (QS. Ath Thalaq : 3)

Berapa besar ketergantungan seseorang kepada selain Allah baik dalam hatinya maupun dalam angan-angannya, maka sebesar itu pula ia telah menjauhkan diri dari Allah untuk bergantung kepada sesuatu yang tidak kuasa memberinya manfaat atau kerugian. Begitu juga takut kepada selain Allah.
Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menegaskan dengan sabdanya : “Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu”.
Begitu pula dalam hal kerugian, “niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu”. Inilah yang disebut iman kepada taqdir.
Iman kepada taqdir adalah wajib, baik taqdir yang baik maupun yang buruk. Apabila seorang mukmin telah yakin dengan hal ini, maka apa perlunya dia meminta kepada selain Allah atau memohon pertolongan kepada yang lain. Begitu pula jawaban Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada malaikat Jibril ketika ia bertanya kepada beliau saat berada di langit (ketika mi’raj) : “Apakah engkau membutuhkan pertolongan?” Beliau menjawab : “Kalau kepadamu tidak”.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”, menguatkan keterangan tersebut diatas, maksudnya tidak berlawanan dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya.

Kemudian sabda beliau : “Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”, maksudnya beliau mengingatkan kepada manusia di dunia ini, terutama orang-orang shalih bahwa mereka itu selalu dihadapkan kepada ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah :
“Sungguh Kami pasti memberi cobaan kepada kamu sekalian dengan sesuatu berupa rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar, yaitu mereka yang bila ditimpa musibah, mereka berkata : ‘Sungguh kami semua adalah milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nyalah kami kembali’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan limpahan karunia dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang terpimpin”. (QS. 2 : 155-157)

Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu pastilah dipenuhi pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az Zumar : 10)

[Hadits Arbain Nawawiyah No. 19 dengan syarah Ibnu Daqieqil ‘Ied]

http://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslimmedia.arbain


boleh gak?

14 Mei, 2014

Baba dapat telpon dari rumah, suara Bubu di seberang sana bertanya, “Ba, ini dapat kiriman makanan dari tetangga kita, katanya syukuran kelahiran anaknya. Boleh dimakan gak?”

Baba menjawab, “Boleh, insya Allah.” Tiba-tiba terdengar sahutan di latar, “Boleh katanya tuh!”

“Eh, siapa itu?” tanya Baba. “Si kecil ngocol tuh, Ba, hehehe” jawab Bubu sambil terkekeh, “dari tadi merengek: ‘Bubu, mau makan ayamnya’. Bubu bilang tanya Baba dulu.” Baba pun turut tertawa mendengar kelakuan Athiya.

Bertetangga dengan non muslim memang perlu adab dan toleransi. Memberi atau menerima hadiah dan tolong menolong dalam urusan duniawi adalah hal yang dibolehkan. Adapun urusan akidah dan ibadah merupakan hal yang sudah jelas batasannya.

Maka itu, menerima atau mengirim makanan, jika bukan untuk sesaji atau dalam rangka hari raya non muslim, bukan termasuk hal yang dilarang oleh ajaran Islam. Wallahu a’lam.


lorong sunyi masjid taqwa

6 Mei, 2014

Masjid Jami Taqwa terletak di lorong satu kota Cepu, dekat pasar, dan dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Hotel Cepu Indah. Sebagaimana masjid yang dikelola warga Muhammadiyah, tidak akan kita dengarkan kumandang tarhim menjelang subuh dan nyanyian salawatan sebelum atau setelah azan magrib. Hanya suara azan dan ikamah yang boleh dikumandangkan melalui pengeras suara dari masjid yang arsitekturnya sangat sederhana itu. Walaupun suara dari masjid kadang membantu jamaah tamu yang hendak salat untuk menemukannya ketika terlewati suara azan.

Jamaah yang memakmurkannya berupaya mengamalkan sunah merapatkan saf salat dan berzikir dengan tenang. Kotak amal tersembunyi di sisi lain masjid sehingga hampir saja saya mengira tidak diperkenankan untuk berinfak. Dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan, menyandang nama masjid bagai tak sebanding dengan bangunan musala megah yang terletak di lorong dua. Bagaimanapun jalan sunyi itu masih terobati dengan ramainya jamaah salat jumat yang memenuhi masjid.


%d blogger menyukai ini: