bersabar dan berbuat kebaikan

عن الزبير بن عدي قال: أتينا أنس بن مالك رضي الله عنه فشكونا إليه ما نلقى من الحجاج فقال: إصبروا، فإنه لا يأتي عليكم زمان إلا الذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم، سمعته من نبيكم صلى الله عليه وسلم.

(رواه البخاري)

Dari Zubair bin ‘Adi mengatakan, pernah kami mendatangi Anas bin Malik radiyallahu anhu, kemudian kami mengutarakan kepadanya keluh kesah kami tentang kekejaman Al-Hajjaj. Maka dia menjawab; ‘Bersabarlah, sebab tidaklah kalian menjalani suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai Tuhan kalian. Aku mendengar ini dari Nabi kalian sallallahu ‘alaihi wasallam.’ (Diriwayatkan Al-Bukhori)

***

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini di dalam Sahih-nya pada Kitab Al-Fitan yang berisi tentang berita akhir zaman dan bagaimana cara menyikapinya sesuai tuntunan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan Imam An-Nawawi, penulis Riyadus Salihin, menempatkannya pada Kitab Al-Muqadimat, Bab Bersegera Dalam Berbuat Kebaikan. Perbedaan peletakan ini dapat dimaklumi sebagai fikih sang penulis kitab disebabkan banyaknya faedah yang dapat dipetik dari hadits ini.

Anas bin Malik radiyallahu anhu adalah salah seorang sahabat yang oleh berkat doa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dikaruniai umur yang panjang (103 tahun). Ia mengalami beberapa periode umat Islam yang penuh dinamika: sejak hijrah Nabi hingga masa kerajaan dinasti Umayah. Dengan keilmuan dan pengalaman hidup yang sangat kaya itulah maka tidak mengherankan apabila beliau didatangi manusia untuk mengambil faedah darinya.

Al-Hajjaj yang dimaksud pada hadits ini adalah bin Yusuf Ats-Tsaqafi, seorang pembesar di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayah, yang memerintah dengan cara-cara kekerasan dan sangat mudah menumpahkan darah. Namun, kebijakannya ini telah berhasil membuat keadaan di wilayahnya menjadi aman, suatu pencapaian yang tidak didapatkan oleh pemimpin-pemimpin daerah sebelum dirinya.

Fitnah turun kepada umat ini seperti hujan dan akan terus menerus menimpa seperti gelombang laut yang bergulung dan silih berganti menerpa pantai. Di antara fitnah itu adalah kepemimpinan dan kondisi yang lebih buruk daripada sebelumnya. Maka itu pandangan orang yang berilmu dalam menyikapi fitnah adalah menganjurkan manusia untuk bersabar dalam menempuh cobaan.

Termasuk hal itu adalah untuk bersabar terhadap kebijakan penguasa, tidak keluar dari ketaatan kepada penguasa. Seandainya Anas bin Malik mewasiatkan untuk memberontak tentu akan timbul kerusakan yang besar ketika itu. Namun beliau memerintahkan untuk bersabar sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentu bukan tanpa maksud jika Imam An-Nawawi meletakkan hadits di atas pada Bab Bersegera Dalam Berbuat Kebaikan. Dengan kabar bahwa zaman yang akan datang lebih parah kondisinya dan begitu banyaknya kerusakan maka sangat tidak elok jika kita berlambat-lambat dalam berbuat kebaikan.

View on Path

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: