Nasihat pantas sandang

9 April, 2015

Nak, kalau kamu belum mampu menanggungnya, jangan paksakan untuk memilikinya.

Kalau kamu masih meributkan mahalnya bahan bakar, jangan paksa dirimu memiliki kendaraan bermotor.

Kalau kamu masih meributkan uang recehan, jangan paksa dirimu menjadi penderma.

Kalau kamu masih meributkan mahalnya bersekolah, jangan paksa dirimu menjadi siswa di tempat itu.

Kalau kamu masih meributkan sukarnya pendidikan, jangan paksa dirimu menjadi orang berilmu.

Kalau kamu masih meributkan kesuksesan orang lain, jangan paksa dirimu untuk berprestasi.

Kalau kamu masih meributkan orang yang mengikutimu, jangan paksa dirimu memimpin mereka.

Kalau kamu masih merisaukan kehilangan apa yang kamu cintai, jangan paksa dirimu melekat kepadanya.

Cukuplah bagimu, Nak. Berbekal yang cukup untuk keperluanmu. Berbuat benar dan baik dalam hidupmu.

Mudah-mudahan, kelak kamu menyandangnya, kamu sanggup menanggungnya.

(@nd, 19061436)

View on Path


Perisa dan pewarna

9 April, 2015

“Perisa dan pewarna,” sebut Tsuraya ketika membaca label botol pewarna makanan. “Hih, Bubu!” teriaknya tiba-tiba.

Bubu menghampiri dan bertanya, “Ada apa sih, Aya? Kok teriak begitu?”

“Ini kan, perisa dan pewarna,” jawab Tsuraya. “Berbahaya! Kita kan tidak boleh makan makanan yang mengandung perisa dan pewarna,” lanjutnya menjelaskan dengan lagak menggurui.

“Oh begitu?” timpal Bubu dengan santai, “Ya sudah, nanti Bubu berikan ke Bu Erte saja.”

“Lho, kok dikasih ke Bu Erte?” tanya Tsuraya bingung.

“Iya lah, kan Bu Erte kalau bikin susu kedele yang biasa kamu minum itu menggunakan perisa dan pewarna makanan,” jawab Bubu.

“Lho, eh,” Tsuraya pun terdiam dan salah tingkah, diikuti kerlingan mata Bubu.

#08042015

View on Path


%d blogger menyukai ini: