Fenomena kesurupan

13 April, 2015

“Baba, mas takut,” ujar Radya ketika mendengarkan suara yang mencekam dari latar program acara radio. “Takut, mengapa?” tanya Baba. “Itu, Lain Dunia, cerita tentang kesurupan,” jawab Radya.

“Apa yang kamu takutkan?” Baba bertanya, “bukankah nanti ustaz narasumber akan menjelaskan hal yang benar tentang kesurupan?”

Radya balik bertanya, “Memangnya, kesurupan itu apa sih, Ba?”

“Kesurupan itu terjadi karena tidak berzikir kepada Allah,” jawab Baba, “sehingga memberi ruang bagi setan untuk mengganggu manusia.”

“Ih seram,” sahut Radya, “nanti orang yang kesurupan bisa ngamuk seperti harimau.”

“Tidak melulu demikian, mas,” Baba menyanggah, lalu melanjutkan, “bahkan seringkali, orang yang tidak mau salat, karena kesurupan.”

“Kok, bisa begitu, Ba?” tanya Radya ingin tahu.

“Lah iya,” Baba pun menjelaskan, “ketika seseorang tidak mau salat, sebenarnya setan sedang merasukinya, membisikkan agar menunda salat, menyuruh tidak usah salat, dan membenarkan alasan-alasan yang membuatnya tidak salat.”

Radya menyimak dengan saksama. Lalu Baba bertanya, “Mas, sudah salat isya belum?” Radya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum paham.

Baba pun berkata, “Nah, kalau tidak mau kesurupan, hayo salat dulu, sana!”

(@nd, 22061436)

View on Path


Taharah

13 April, 2015

Pernah, seorang aktivis dakwah berkata kepada saya, “Kalau ngaji itu harus progresif. Jangan hanya membahas fikih ibadah melulu, setiap kali memulai taharah lagi.”

Bertahun-tahun kemudian, saya pun memahami, apa yang dikatakan itu perlu dikoreksi. Bukanlah tanpa alasan apabila pembahasan taharah selalu ditempatkan di permulaan kitab-kitab fikih yang ditulis para ulama.

Taharah adalah bersuci. Membersihkan diri dari hadas dan najis. Menjadi syarat sahnya salat. Orang yang salat tanpa taharah, salatnya tidak sah. Karena salat adalah kewajiban, maka taharah pun menjadi wajib dipelajari.

Penempatan taharah di permulaan kitab pun menyiratkan pentingnya bersuci dalam menuntut ilmu. Pentingnya bersuci sebelum mengaji. Tidak hanya suci badan, pakaian dan tempat. Tetapi juga suci dalam niat dan pikiran.

Sekarang, tidak perlu risau ketika belajar fikih taharah. Justru dengan mempelajarinya, kita dapat membenahi amal ibadah kita dengan baik dan benar.

#umdatulahkam

View on Path


%d blogger menyukai ini: