baba jelek

“Baba jelek!”

Begitulah, Athiya mengungkapkan kemarahannya karena apa yang ia ingini tidak dipenuhi oleh Baba.

Selanjutnya ia akan pergi memeluk bantal dan menangislah. Atau dapat saja membanting sesuatu yang berada di dekatnya. Bahkan, bisa jadi Baba menjadi sandsack baginya.

Seringkali, reaksi Baba adalah dengan memberikan kesempatan untuk meluapkan kekesalannya, kemudian anak itu pun berhentilah. Atau anak itu dipeluknya hingga ia merasa nyaman atau sebaliknya malah berontak. Kadangkala membuat lelucon sehingga anak itu tertawa dan melupakan amarahnya.

Apabila Athiya sudah menguasai dirinya, air matanya sirna dan ia pun kembali ceria.

***

Suatu malam, sesaat setelah doa sebelum terpejam, Baba mengecup keningnya dan membisikkan,”Baba yang jelek ini sayang Athiya.”

Seutas senyuman pun tersungging di bibir mungil Athiya, sebagai pengantar mimpi bahagianya di malam itu.

(@nd, 11071436)

View on Path

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: