the flash

31 Mei, 2015

“Jalannya jauh juga ya, Ba?” kata Radya ketika diajak Baba berjalan dari halte busway ke kantor.

“Insya Allah, tidak akan terasa jauh, Mas,” jawab Baba menghibur.

“Coba jadi the Flash, Ba,” kata Radya, “pasti cepat sampai ke kantor Baba.”

“Aha, coba aja Mas, berlari sekencang the Flash,” Baba menantang Radya.

“Ya, ga bisa lah,” jawab Radya, “kan, the Flash cuma cerita.”

“Benar mas, the Flash hanya cerita komik,” ujar Baba, “bukan tokoh nyata. Tetapi kita bisa ambil pelajaran.”

“Pelajaran apa, Ba?” tanya Radya.

“The Flash melakukan segala sesuatunya dengan cepat, sehingga ia bisa menyelesaikan banyak pekerjaan,” Baba menjelaskan.

“Semakin cepat kita bergerak, seperti menahan waktu, dengan demikian semakin banyak hal yang dapat kita lakukan,” lanjut Baba, “sebaliknya, semakin lambat kita bergerak, kita yang akan terlibas oleh waktu, bisa jadi tak satupun yang telah kita selesaikan.”

“Hmmm,” Radya bergumam mencoba memahami.

“Begini, Mas,” ujar Baba, “jatah waktu bagi setiap orang sama, 24 jam setiap harinya.”

“Ada orang yang bersegera menyelesaikan tugasnya sehingga banyak yang ia capai, ia pandai mengelola waktunya” Baba melanjutkan, “tapi ada juga orang yang menunda-nunda sehingga tak satu pun yang berhasil diselesaikan. Malah selalu merasa waktunya kurang.”

“Ooh,” kata Radya.

“Nah, maka itu, kita harus berusaha untuk bersegera dalam setiap kebaikan, insya Allah banyak manfaatnya,” kata Baba.

“Alhamdulillah, sampai juga di kantor Baba!” seru Radya gembira.

(@nd, 29052015)

View on Path

Iklan

tentang kematian

30 Mei, 2015

Cukuplah kematian sebagai pengingat.

Ia hadir ketika sudah saatnya. Tak seorang pun dapat mengelakkannya. Ia tidak dipercepat, tak pula ditunda.

Tidak melulu menjelma setelah sakit sekian lama. Tak jarang mengejutkan tanpa sebab.

Orang baik, disayang banyak orang. Ketika hidupnya bahkan hingga ke pembaringan terakhir. Barangkali ia beristirahat dengan tenang.

Orang jahat, dibenci banyak orang. Ketika hidupnya apalagi matinya. Barangkali ia disibukkan dan penuh gelisah.

Hingga hari berbangkit. Hingga semakin yakin ia pada fananya dunia.

Semua yang dahulu dikejarnya, tak mampu berdiri membela. Apa yang dahulu disia-siakan justru berjuang untuknya.

Maka ketika ia datang, bersediakah kita?

(@nd, 12081436)

View on Path


Tentang bermanfaat

28 Mei, 2015

Namanya mukhlis. Nama yang sederhana namun begitu indah. Saya tidak begitu mengenalnya. Hanya saja apa yang dilakukannya begitu menakjubkan.

Sandal-sandal yang berderet rapi di teras masjid, ia sendirian yang menyusunnya.

Sampah plastik yang ditemukannya di sepanjang jalanan yang dilalui, ia sendirian yang memungutnya.

Sayup-sayup teringat hadits tentang iman itu 70 cabang, yang tertinggi adalah kalimat لاإله الا الله sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan.

Suatu malam, saya bertemu dengannya di selokan. Saya mengira ia mencari sesuatu yang hilang. Ternyata ia sedang membersihkan selokan dari sampah dedaunan agar alirannya lancar, dan ia sendirian.

Demikianlah dari apa yang saya lihat, pun saya dengar dari orang lain.

Seolah-olah menjelma hadits Nabi: “Sebaik-baik manusia, adalah ia yang bermanfaat bagi sesamanya.”

Namanya sendiri menjawabnya: mukhlis. Ia telah beriman pada namanya dan juga amalannya. Semoga Allah memberkati dia.

(@nd, 10081436)

View on Path


berbakti kepada ortu

26 Mei, 2015

Berbakti kepada orang tua membuka kesempatan untuk ke surga.

View on Path


24 Mei, 2015

رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا

(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.

QS 73:9 – at Masjid Alawiyah

View on Path


Ikan, kail, atau lainnya?

22 Mei, 2015

Banyak orang yang bilang jangan memberi ikan, tapi beri kailnya. Ketika orang yg diberi kail menolaknya, belum tentu karena dia tidak mau maju, tetapi barangkali yang dia butuhkan bukanlah ikan.

@nd, 04081436 – at Jakarta Convention Center (JCC)

View on Path


jangan bantu

22 Mei, 2015

Seorang perempuan suku pedalaman berkata: “Jika anda datang untuk membantu kami, pergilah! Jika anda datang untuk memahami bagaimana kami bekerja, berjuang untuk hidup dan menghidupi keluarga, silakan bersama kami.”

– Dharmawan Samsu –

View on Path


%d blogger menyukai ini: