bolehkah saya tidak berpuasa

21 Juni, 2015

Seorang wanita bertanya kepada seorang syaikh, “Sesungguhnya saya sedang hamil sehingga saya tidak berpuasa. Tahun depan saya akan melahirkan dan menyusui, sehingga saya pun tidak berpuasa. Pada tahun berikutnya  saya masih menyusui  dan juga akan tidak berpuasa. Bagaimana pendapatmu, wahai syaikh?”

Syaikh menjawab, “Wahai Ibu, para sahabiyah dahulu, mereka hidup di tengah teriknya matahari. Mereka, semoga Allah meridai, juga bekerja membantu suaminya. Bekerja di rumah tanpa pembantu. Mereka juga hamil, melahirkan dan menyusui. Akan tetapi mereka bersemangat untuk tetap berpuasa.”

Syaikh melanjutkan, “Sedangkan kalian, wahai wanita zaman sekarang, kalian tinggal dalam naungan penyejuk udara. Kalian pergi kemana-mana dengan kendaraan yang nyaman. Pekerjaan di rumah kalian dikerjakan oleh pembantu rumah tangga. Bandingkan diri kalian di sisi para sahabiyah? Bagaimana bisa kalian beralasan untuk tidak berpuasa?”

***

Wahai saudari muslimah, ketahuilah bahwa uzur untuk tidak berpuasa bagi wanita hamil dan menyusui itu benar adanya. Namun ketahui juga bahwa puasa yang ditinggalkan itu harus diganti.

Apabila kalian mengkhawatirkan diri kalian dan bayi kalian, maka kalian wajib mengganti puasa dan memberi makan orang miskin (fidyah) sesuai bilangan hari yang ditinggalkan. Adapun jika hanya mengkhawatirkan diri kalian sendiri, maka tak ada bedanya dengan orang yang sakit, yaitu wajib mengganti puasanya saja.

Percakapan di atas, semestinya menjadi introspeksi bagi wanita muslimah. Betapa keadaan para sahabiyah dahulu jauh lebih kekurangan daripada keadaan kita saat ini. Dan mereka, semoga Allah meridai,  lebih berhak mengambil uzur tidak berpuasa.

Sebaliknya, me

reka sangat bersemangat untuk beribadah, kalaupun mereka meninggalkan puasanya maka mereka  bersemangat untuk menggantinya.

Semoga Allah memberkati.


kangen

19 Juni, 2015

11393693_865029296919842_7434987062777000305_o


16 Juni, 2015

Switch off… oh please… shall I?

View on Path


16 Juni, 2015

Ramadan is coming. Let us repent and do righteousness. Wishing a Ramadan Mubarak.

May Allah accept all the good deeds and forgive all sins, and made each of us as a righteous person afterwards.

View on Path


15 Juni, 2015

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

QS 2:126

View on Path


engeline

14 Juni, 2015

View on Path


connectivity

14 Juni, 2015

Connectivity means connectedness at the right place and the right time.

Togetherness means being at the same place at the same time, and disconnected from any connection. – at Kuala Lumpur International Airport (KUL)

See on Path


tentang kualitas

14 Juni, 2015

Kualitas kebersamaan itu dalam segala hal : waktu, tempat, fasilitas, selera dan terutama, hati.

Sampai jumpa lagi! – at Renaissance Kuala Lumpur Hotel

View on Path


tentang bergunjing

8 Juni, 2015

“Ah dia mah gitu, suka ngomongin orang. Padahal dia lebih parah, …”

“Aku ga abis pikir kok bisa ya dia begitu? Padahal kan selama ini dia selalu dibaikin.”

“Dia tuh orangnya baik, tapi sayangnya suka ngomong kejelekan orang lain.”

“Aku tuh ga mengeluh ya, tapi kok bisa sih dia begitu sama aku?”

***

Ga suka sama orang yang suka bergunjing, tapi mempergunjingkan orang tsb, apakah impas? Ataukah bertukar keburukan?

Menegurnya langsung lebih baik daripada membicarakannya dengan orang lain, walaupun dengan maksud menjadi pelajaran bagi orang lain.

Jika kasusnya perlu jadi pelajaran berharga, alangkah baiknya identitas orang yang dibicarakan, disembunyikan.

Jangan sampai menjadi agen penyebaran kebencian.

Sudah kebaikan kita ditukar dengan keburukannya, kita pun menambahkan keburukan pada diri kita dengan perbuatan itu.

View on Path


tentang pura-pura

6 Juni, 2015

Belajar pura-pura

Pernah lihat uang palsu? Bagaimana kita menguji bahwa uang itu palsu? Ketika uang itu dibelanjakan. Akankah uang tersebut laku?

Demikian juga dengan belajar. Orang yang belajarnya pura-pura, akan ketahuan ketika ujian. Apakah ia dapat menjawab soal dengan benar?

Akankah yang hasil belajarnya pura-pura, kelak laku di pasaran?

(Ust. Amam Fuadi)
@06062015 – at rumah belajar Ibnu Abbas

See on Path


%d blogger menyukai ini: