hari kemerdekaan

image

Tanggal 17 Agustus di kalender di tandai dengan warna merah. Secara umum menandakan hari libur. Tetapi bagi pelajar dan pegawai negeri begitu juga pegawai swasta rekanan pemerintah, hari tersebut adalah hari upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Pagi-pagi sekali, mereka berangkat menuju ke tempat upacara. Ada yang berjalan kaki, mengendarai motor atau mobil, ada pula yang naik angkutan umum. Mereka mengenakan baju seragam dengan kode pakaian yang ditetapkan oleh masing-masing institusi.

Di jalanan yang lengang, karena hari libur, banyak kendaraan melaju kencang, melampaui batas kecepatan yang diizinkan. Di saat lampu lalu lintas berwarna merah, banyak pengendara sepeda motor yang berhenti di atas zebra cross, menyusahkan penyeberang jalan.

Di dalam upacara pengibaran bendera, kebanyakan perkhidmatan adalah seremonial. Penghormatannya semu. Mengheningkan cipta menjadi begitu bising. Peringatannya tidak lain adalah perayaan. Selepas itu makan-makan, diiringi musik dan lagu-lagu kebangsaan.

Di kampung-kampung, terpasang umbul-umbul dan pernak-pernik tujuhbelasan. Arak-arakan pawai di sepanjang jalan desa. Tanah lapang menjelma arena perlombaan dan panggung gembira. Nyaris, nilai-nilai perjuangan para pahlawan hanya sebaris kenangan di buku sejarah.

Anak-anak Rumah Belajar Ibnu Abbas, pada hari itu juga berangkat pagi-pagi. Bukan untuk upacara bendera, pawai maupun perlombaan. Melainkan untuk belajar, berjuang menghapal Alquran, mengamalkan perkhidmatan yang selayaknya. Bahkan turut menyalati jenazah yang wafat pada hari itu.

Anak-anak itu bersemangat menghidupkan nilai-nilai perjuangan. Bagi mereka, “Ayo Kerja” bukan sekadar slogan, tetapi bagian keseharian. Mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang mencerdaskan kehidupan: menuntut ilmu.

Apabila ada yang memaknai kemerdekaan dengan menuntut pemenuhan hak-hak nya. Malah demi hak pribadi atau golongannya sampai-sampai mengabaikan hak-hak orang lain atau kepentingan umum. Maka anak-anak Rumah Belajar, belajar memaknai kemerdekaan dengan menuntut diri mereka sendiri memenuhi kewajiban-kewajibannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: