Personal loan

30 September, 2015

image

Ponsel saya berbunyi, terdengar suara perempuan menyapa nama saya, katanya saya terundang untuk memperoleh fasilitas personal loan sebesar maksimum sekian kali dari limit kartu kredit saya, dengan kemudahan tanpa survei dan cicilan rendah serta diskon biaya provisi.

“Personal loan? Maksudnya saya disuruh berutang, begitu?” tanya saya memotong.

“Ya, Bapak. Masak saya harus bilang utang. Kasar banget dong,” tukasnya, lalu ia melanjutkan, “maksudnya, Bapak dapat memanfaatkan dana untuk keperluan apapun.”

“Jadi kalau saya pinjam katakanlah seratus juta. Berapa besaran yang harus saya kembalikan?” saya bertanya lagi.

“Itu tergantung kepada tenor pengembalian yang Bapak kehendaki,” jawabnya.

“Apakah kalau saya pinjam seratus juta, saya harus mengembalikan seratus juta juga atau lebih?” saya mengonfirmasi.

Dia menjawab, “Ya tentu saja lebih dong, Pak.”

“Kok, bisa lebih?” tanya saya.

“Kan, pakai bunga, Pak. Eh, tapi tawaran kami bunganya rendah, lho, Pak. Hanya 1,5% saja, …” jawabnya sambil terus memberikan argumen mengapa saya perlu mengambil personal loan tersebut.

Saya bertanya, “Mbak, kelebihan bayar atau bunga itu, riba, bukan begitu?”

“Riba?” dia terkejut. “Iya, riba, menurut mbak, riba itu berpahala atau tidak?” tanya saya.

“Eh, riba itu. Ya jangan pandang negatifnya dulu, Pak. Kan, Bapak bisa memanfaatkan dana itu untuk berbuat kebaikan, jadi Bapak pun dapat pahala,” jelasnya.

Cerdas! Kata saya dalam hati. Saya bertanya lagi, “Maaf, Mbak seorang muslimah?”

“Bukan, Pak,” jawabnya.

“Baiklah, apapun agama Anda, saya yakin riba itu tidak dibenarkan, bukan begitu?” tanya saya.

“Iya, Pak. Tapi kan, kalau dananya Bapak manfaatkan untuk kebaikan, masak tidak berpahala?” ia menyangsikan kata-katanya sendiri.

“Mbak tentu tahu kisah Robin Hood,” kata saya, “Dia mengambil harta dengan merampok lalu disedekahkan kepada fakir miskin. Apakah dia telah berbuat baik?”

Dia balik bertanya, “Tapi kan, ini pinjaman, Pak. Bukan merampok?”

“Jika Anda punya bibit yang baik, lalu ditanam di tanah yang buruk, gersang, tidak bernutrisi. Akankah, bibit itu tumbuh dan menjadi pohon yang baik, berbuah baik?” saya buat perumpamaan.

“Tentu saja tidak, Pak,” jawabnya.

“Nah, Mbak. Saya tidak mau jadi Robin Hood. Saya juga tidak mau bibit kebaikan saya sia-sia karena menggunakan dana yang berhubungan dengan riba,” kata saya.

“Kalau begitu, bagaimana saya bisa membantu Bapak untuk memanfaatkan personal loan ini?” marketingnya terus jalan.

“Kalau saya pinjam seratus dan saya hanya berkewajiban mengembalikan seratus saja, tanpa ada biaya atau kelebihan,” saya menegaskan.

“Wah, kalau begitu, semua perbankan tidak bisa, dong, Pak?” tanyanya.

“Ada yang bisa tidak, Mbak? Kalau ada saya boleh coba tuh,” tanya saya.

“Sayangnya tidak ada. Oke deh, Pak. Terima kasih, mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, dan selamat siang,” katanya menutup pembicaraan.

@nd, 300915

Iklan

Keutamaan salat subuh

29 September, 2015

Berikut ini sepenggal kisah tentang Hajjaj bin Yusuf As-Saqafi, gubernur Irak pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Dia terkenal sangat kejam dan otoriter dalam menjaga stabilitas keamanan dan membasmi semua pemberontakan.

Suatu ketika dalam sebuah perjalanan Hajjaj bin Yusuf terperosok ke dalam sungai dan nyaris tenggelam. Seorang nelayan mengenali sang gubernur kemudian berusaha menyelamatkannya.

Setelah berhasil naik ke atas perahu, sang gubernur bertanya, “Apakah kamu mengenaliku?” Si nelayan menjawab lugas, “Ya, kamu adalah Hajjaj si Lalim.”

Hajjaj kembali bertanya, “Lalu mengapa kamu menolongku?” Si nelayan tersenyum lalu berkata, “Sesungguhnya saya tidak menyelamatkan kamu, melainkan saya benar-benar tidak suka jika kamu mati syahid apabila tenggelam di sungai.”

Hajjaj geram dengan jawaban si nelayan, ia pun bertanya, “Apakah kamu tadi pagi salat subuh?” Si nelayan menjawab, “Ya!” Maka Hajjaj berkata, “Kalau begitu, kamu selamat dari pedang saya.”

http://rumaysho.com/1819-keutamaan-shalat-shubuh.html


Pakai jilbab

29 September, 2015

Lagi santai, Bubu nunjukin gambar manekin pakai jilbab plus hiasan bunga2 dan mutiara di Instagram ke Mas Radya.

Bubu: “Mas, jilbab yang kaya begini bagus ngga?”

Radya: “Ih parahhh.. masa jilbab rame begitu? Masa kalung dipakai di atas kepala? Itumah jilbabnya buat diketawain.”

Bubu: “Hihihi.. diketawain? Memang harusnya pakai jilbab yang baik itu gimana Mas?”

Radya: “Pake jilbab itu biasa aja, ga pake hiasan2 juga udah cantik. Bagus lagi pake cadar.”

Bubu: “Mmm.. kalau Bubu perlu pake cadar apa ngga?”

Radya: “Pakai cadar boleh, ngga pakai juga boleh. Kan cadar ngga wajib, yang wajib jilbab.”

Bubu: “Okedeh, barokallahufiik ^^”

‪#‎Radya_9y5m‬
@chee, 290915


Ga pakai baju

29 September, 2015

Ketika menunggu antrean apotek, seorang wanita datang bersama anak laki-lakinya kemudian duduk di kursi di depan kami. Si anak asyik bermain dengan tabletnya, sementara si ibu kerepotan antara mengelola ketiga ponsel pintarnya dan dompet di tangannya. Melihat wanita tersebut, Athiya berkata, “Baba, masak ibu itu gak pakai baju?”

Dari belakang, tampak tali kutangnya mengintip dari kaos yukensi yang ketat, sedangkan bagian depan sebagiannya terbuka. Ketika berdiri di atas sandal haihil nya, terlihat ia mengenakan legging ketat.

Pantas saja Athiya yang berusia 4 tahun itu berkomentar demikian. Baba berkata, “Oya, kasihan ya, Dek. Ibu itu kekurangan bahan pakaian.” Athiya menimpali, “Emangnya, dia orang miskin?”  Baba menjawab, “Sepertinya tidak. Kita doakan saja mudah-mudahan ia bisa berbaju dan berjilbab seperti kamu ya.”

@nd, 260915


gara-gara telat inget

18 September, 2015

Ada teman saya yang bercerita via WhatsApp tentang pentingnya belajar bahasa Arab sbb:

GARA2 TELAT INGET

Habis datengi walimahan, Dadan & Dudung duduk santai di warung kopi.

“Dan, dah enak2 kerja di Arab, gaji gede, koq malah balik ke Tambun?” Tanya Dudung.

“Bukannye keluar Dung, ane baru sebulan kerja langsung dipecat tanpa pesangon, gaji juga nggak dibayar…”

“Lha…? Koq bisa gitu???”

“Pas lagi nganter juragan, di tengah jalan ade batu gede. Sebenernye ane dah mao lewat pinggir, eeeh si juragan malah nunjuk2 ke arah batu sembari teriak2, “Hajar! Hajar! Hajaaaaarrr!!!”

“Terus ?”

“Ya ane tabrak… JDERRR!!! Sampe mobilnye ringsek & jumpalitan. Juragan masuk rumah sakit, kepalenye bocor. Langsung ane dipecat…

Habis dipecat, ane baru inget… Bahasa Arabnye ‘Hajar’ artinye ‘Batu’…”

catatanbelajarbahasaarab.wordpress.com


tentang superhero

16 September, 2015

Nak, kamu suka sekali nonton superhero? Tahukah kamu mengapa superhero itu terlihat begitu hebat?

Di antara mereka ada yang sangat kuat, ada yang sangat cepat, ada yang sangat lentur, ada yang bisa terbang, ada yang pakai perkakas, menunjukkan bahwa mereka itu serba bisa.

Kebanyakan superhero mengenakan topeng dan kostum aneh. Mereka takut ketahuan identitasnya ketika sedang beraksi. Berupaya ikhlas secara pribadi tapi haus publisitas dengan topengnya.

Para superhero itu, melakukan segalanya sendirian. Hampir-hampir tanpa bantuan. Kalau saja mereka bersama-sama tentu banyak konflik kepentingan. Mereka tak mampu bekerja sama.

Kamu lihat juga, tak satupun di antara superhero yang menikah. Kalaupun ada hanya seumur jagung. Mereka pandai bercinta tapi tak pandai mengelola cinta. Mereka tak suka komitmen.

Superhero itu potret inferior kita. Ingin tampak hebat, walau tidak benar-benar hebat. Ingin selalu dipuji, walau tak berani tampil terpuji. Ingin sendirian dan bebas dari tanggung jawab.

@nd, 02121436


tentang KTA

11 September, 2015

Nomor telepon muncul tanpa nama di layar ponsel, ketika diangkat terdengarlah suara perempuan (P) di seberang.

P: “Halo, selamat siang.”

Saya (S): “Selamat siang.”

P: “Pak Eka, saya P dari DBS.”

S: “Oh iya mba P, ada apa ya?”

P: “Bapak sudah dapat penawaran KTA?”

S: “KTA apa itu mbak?”

P: “Kredit tanpa agunan, Pak.”

S: “Oh, pinjaman tunai ya, Mbak?”

P: “Iya, Pak. Kami menawarkan KTA yang cukup ringan bagi Bapak untuk mencicil.”

Biasanya saya langsung tutup atau menolak jika mendapat penawaran kredit semacam ini. Tapi kali ini saya coba sebuah test case.

S: “Mbak, kreditnya bebas riba, tidak?”

P: “Riba? Eh, itu bukannya syariah ya, Pak?”

S: “Mbak tahu riba?”

P: “Ya, tahu lah, Pak. Saya kan muslim.”

S: “Nah, karena mbak seorang muslimah. Saya bertanya apakah KTA yang mbak tawarkan itu bebas riba?”

P: “Maksud Bapak?”

S: “Menurut mbak, riba itu apa?”

P: “Riba itu kan bunga, kan Pak? Wah, kalau KTA, ya pakai bunga, Pak.”

S: “Kreditnya pakai bunga? Jadi menurut mbak, sebagai seorang muslimah, bagaimana?”

P: (terdiam sejenak)
Lalu komunikasi telepon pun ditutup.

***


%d blogger menyukai ini: