Personal loan

image

Ponsel saya berbunyi, terdengar suara perempuan menyapa nama saya, katanya saya terundang untuk memperoleh fasilitas personal loan sebesar maksimum sekian kali dari limit kartu kredit saya, dengan kemudahan tanpa survei dan cicilan rendah serta diskon biaya provisi.

“Personal loan? Maksudnya saya disuruh berutang, begitu?” tanya saya memotong.

“Ya, Bapak. Masak saya harus bilang utang. Kasar banget dong,” tukasnya, lalu ia melanjutkan, “maksudnya, Bapak dapat memanfaatkan dana untuk keperluan apapun.”

“Jadi kalau saya pinjam katakanlah seratus juta. Berapa besaran yang harus saya kembalikan?” saya bertanya lagi.

“Itu tergantung kepada tenor pengembalian yang Bapak kehendaki,” jawabnya.

“Apakah kalau saya pinjam seratus juta, saya harus mengembalikan seratus juta juga atau lebih?” saya mengonfirmasi.

Dia menjawab, “Ya tentu saja lebih dong, Pak.”

“Kok, bisa lebih?” tanya saya.

“Kan, pakai bunga, Pak. Eh, tapi tawaran kami bunganya rendah, lho, Pak. Hanya 1,5% saja, …” jawabnya sambil terus memberikan argumen mengapa saya perlu mengambil personal loan tersebut.

Saya bertanya, “Mbak, kelebihan bayar atau bunga itu, riba, bukan begitu?”

“Riba?” dia terkejut. “Iya, riba, menurut mbak, riba itu berpahala atau tidak?” tanya saya.

“Eh, riba itu. Ya jangan pandang negatifnya dulu, Pak. Kan, Bapak bisa memanfaatkan dana itu untuk berbuat kebaikan, jadi Bapak pun dapat pahala,” jelasnya.

Cerdas! Kata saya dalam hati. Saya bertanya lagi, “Maaf, Mbak seorang muslimah?”

“Bukan, Pak,” jawabnya.

“Baiklah, apapun agama Anda, saya yakin riba itu tidak dibenarkan, bukan begitu?” tanya saya.

“Iya, Pak. Tapi kan, kalau dananya Bapak manfaatkan untuk kebaikan, masak tidak berpahala?” ia menyangsikan kata-katanya sendiri.

“Mbak tentu tahu kisah Robin Hood,” kata saya, “Dia mengambil harta dengan merampok lalu disedekahkan kepada fakir miskin. Apakah dia telah berbuat baik?”

Dia balik bertanya, “Tapi kan, ini pinjaman, Pak. Bukan merampok?”

“Jika Anda punya bibit yang baik, lalu ditanam di tanah yang buruk, gersang, tidak bernutrisi. Akankah, bibit itu tumbuh dan menjadi pohon yang baik, berbuah baik?” saya buat perumpamaan.

“Tentu saja tidak, Pak,” jawabnya.

“Nah, Mbak. Saya tidak mau jadi Robin Hood. Saya juga tidak mau bibit kebaikan saya sia-sia karena menggunakan dana yang berhubungan dengan riba,” kata saya.

“Kalau begitu, bagaimana saya bisa membantu Bapak untuk memanfaatkan personal loan ini?” marketingnya terus jalan.

“Kalau saya pinjam seratus dan saya hanya berkewajiban mengembalikan seratus saja, tanpa ada biaya atau kelebihan,” saya menegaskan.

“Wah, kalau begitu, semua perbankan tidak bisa, dong, Pak?” tanyanya.

“Ada yang bisa tidak, Mbak? Kalau ada saya boleh coba tuh,” tanya saya.

“Sayangnya tidak ada. Oke deh, Pak. Terima kasih, mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, dan selamat siang,” katanya menutup pembicaraan.

@nd, 300915

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: