ikhlas beramal

27 Januari, 2016

Al-Harits Al-Muhasibi rahimahullahu berkata, “Orang yang jujur (ikhlas) adalah orang yang tidak peduli, walaupun terhadap setiap penilaian yang keluar dari hati orang lain, (ketidakpeduliannya itu) demi perbaikan hatinya sendiri. Dia tidak senang apabila manusia mengetahui perbuatan baiknya sekecil apapun. Apabila dia benci jika keburukannya diketahui, maka hal itu menjadi bukti bahwa ia mencintai martabat di sisi manusia. Maka bukanlah hal ini termasuk akhlak orang-orang yang jujur dalam amalnya.”

عن الحارث المحاسبي رحمه الله قال الصادق هو الذي لا يبالي، ولو خرج عن كل قدر له في قلوب الخلائق، من أجل صلاح قلبه، و لا يحب الطلاع الناس على مثاقيل الذر من حسن عمله، فإن كرامته لذلك  دليل على أنه يحب الزيادت عندهم، وليس هذا من أخلاق الصديقين.

(Imam An-Nawawi, Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran)


istigfar, Ba!

25 Januari, 2016

Baba dan Bubu sedang bercakap-cakap mengenai segala hal yang dilakukan atau terjadi pada hari itu. Tsuraya duduk memperhatikan apa yang dibicarakan kedua orang tuanya. Lagi serunya membincangkan sesuatu yang berkaitan dengan perilaku orang lain, tiba-tiba Tsuraya berkata, “Istigfar, Ba!”

Baba dan Bubu pun terdiam sejenak lalu beristigfar. Baba memeluk gadis cilik kelas 1 ibtidaiyah itu dan tersenyum, “Barakallahufik, Tsuraya. Sudah memperingatkan kami tentang gibah.”


belajar dari terorisme

18 Januari, 2016

Terorisme menurut bahasa adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan, terutama tujuan politik. Kata terorisme sendiri berasal dari bahasa Perancis yang mengacu secara khusus kepada aksi teror yang dilakukan oleh pemerintahan Perancis pada tahun 1793-1794.  Terorisme menjadi topik hangat kembali setelah beberapa peristiwa pengeboman. Aksi-aksi teror menyita perhatian publik di media massa maupun media sosial. Tidak sedikit yang menarik benang merahnya ke kaum muslim, walaupun tidak melulu, karena para pelaku teror itu kebanyakan beragama Islam.

Dari sisi ideologis, kebanyakan teroris meyakini bahwa pemerintah yang sah bukanlah ulil amri yang patut dipatuhi, yang boleh diperangi, karena dianggap kafir baik karena secara personal bukan muslim atau karena hukum yang dibuat bukan di atas dasar Kitab dan Sunnah. Adapun dari sisi ekonomi dan sosial, terorisme muncul di tengah keputusasaan dan hadir untuk memenuhi harapan. Terorisme berkembang sebagai reaksi atas masalah ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, praktik korupsi, dan lahir dari sikap inferior yang ekstrem.

Di dalam sejarah Islam, pemikiran seperti ini berasal dari dua sumber: Dzul Khuwaishirah dan Abdullah bin Saba’. Diriwayatkan bahwa Dzul Khuwaishirah meragukan keadilan Rasulullah -sallallahu alaihi wasallam- dalam membagi ghanimah (harta rampasan perang). Para pengikutnya disebut sebagai Haruri atau lebih terkenal dengan istilah Khawarij. Pemberontakan besar mereka yang pertama telah menyebabkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan -radiyallahu anhu.

Adapun Abdullah bin Saba’ telah meramu pemikiran Khawarij ini, menempelkannya kepada sebuah golongan politis dan membungkusnya dalam sebuah akidah baru bernama Rafidhah alias Syiah. Kaum ini tidak mengakui kepemimpinan yang sah kecuali kepemimpinan dari kalangan mereka sendiri. Pemberontakan dan aksi-aksi teror berikutnya di dalam peradaban Islam pastilah dilakukan oleh kedua saudara kembar ini: Khawarij dan Syiah, atau oleh orang-orang yang teracuni oleh pemikiran mereka.

Ibarat tanaman, bibit terorisme tumbuh subur dalam lingkungan yang korup, mendapat pupuk dari pemikiran ekstrem, dan mendapat oksigen melalui publikasi media massa. Tidak dimungkiri pula adanya teror yang dilakukan dan sengaja dipelihara untuk memenuhi kepentingan dan untuk tujuan tertentu. Bagaimanapun terorisme memberikan pelajaran bahwa sikap bijak dalam beragama, menjaga persatuan dan memperjuangkan keadilan adalah hal-hal yang diperlukan untuk mengatasinya.


iman yang cengeng

11 Januari, 2016

“Payah sekali, punya iman kok cengeng,” begitu katanya. Lahirnya, kalimat itu ada benarnya. Sayangnya, diungkapkan sebagai cibiran.

Sejatinya iman itu bukanlah buah, melainkan proses. Oleh karenanya, iman itu kadang naik dan kadang turun. Orang beriman adalah orang yang senantiasa memperbaiki iman mereka.

Di saat imannya naik, mereka meningkatkan amal ibadah dengan sunah-sunah tambahan di luar yang wajib. Di saat imannya turun, mereka tetap menjaga amal ibadah yang telah diwajibkan atas mereka.

Cengeng adalah kata sifat yang menunjukkan makna mudah menangis, mudah tersinggung, lemah dan tidak mandiri. Frasa “iman yang cengeng” dapat bermakna iman yang lemah, tidak teguh, dan mudah berubah.

Perkataan, “punya iman kok cengeng”, dapat saja dimaknai sebagai pengingat agar beriman itu haruslah kuat, meneguhkan hati dan kukuh. Tidak mudah goyah walaupun banyak godaan di sekelilingnya.

Teguhnya hati dan kukuhnya iman diperoleh dengan proses ilmu dan pengetahuan. Semakin dalam keilmuan yang digalinya akan semakin kukuh pondasi imannya. Sebaliknya yang dangkal ilmunya, sangat dianjurkan untuk belajar lebih banyak lagi.

Adapun orang yang berkata atau setuju dengan kalimat, “punya iman kok cengeng”, mestilah menjaga lisannya. Bisa saja perkataan itu keluar tanpa ilmu atau dengan maksud mengejek. Semoga ia mendapat petunjuk.


hukuman yang menyenangkan

11 Januari, 2016

Sebungkus pilus milik Radya yang tergeletak di atas meja, Tsuraya telah menghabiskannya. Radya kesal dan menyembunyikan sandal Tsuraya di dekat tempat sampah. Tsuraya pergi sekolah dengan sandalnya yang lain.

Baba menyuruh Radya mengembalikan sandal Tsuraya. Radya mencari sandal menemukan sebelah saja. Hari itu hari Sabtu, adalah jadwal petugas kebersihan mengambil sampah. Kemungkinan besar sandal terbawa bersama sampah.

Tsuraya bersalah karena memakan pilus tanpa izin pemiliknya. Tsuraya harus minta maaf kepada Radya dan tidak mengulanginya lagi. Radya bersalah karena menghilangkan sandal Tsuraya. Selain minta maaf dan tidak mengulanginya, Radya mendapat hukuman.

Hukuman untuk membeli sandal baru untuk Tsuraya. Radya tidak punya uang. Isi celengannya sudah habis untuk jajan. Hukumannya diganti. Radya harus membersihkan lantai kamar mandi setiap hari Minggu, selama sebulan.

Hari Minggu, Radya menjalani hukuman.  Radya tidak tahu bagaimana membersihkan lantai kamar mandi. Baba menunjukkan caranya. Athiya pun ikut membantu kakaknya. Mereka berdua menyikat lantai kamar mandi dengan gembira.


Pintu 5 – sebuah cerpen

4 Januari, 2016

“Mohon maaf, laporan Anda tidak dapat kami proses,” ujar petugas kepada si pelapor. “Mengapa, pak? Bukankah semua bukti telah kami sampaikan?” tanya si pelapor heran. “Bagaimana kami mau memproses, sedangkan pintu itu saja tidak pernah ada?” jawab petugas.

Si pelapor itu terdiam, tergambar dalam ingatannya, bahwa beberapa hari yang lalu dia telah melalui sebuah jalan keluar dari sebuah taman wisata. Jalan keluar yang biasa telah dipadati oleh antrean kendaraan yang mengular hingga 2 kilometer. Hari itu hari terakhir liburan sekolah. Tiba-tiba ia melihat papan putih bertuliskan hitam, “Pintu 5” dan di bawahnya tertulis rute terdekat.

Awalnya ia ragu untuk mengambil jalan itu. Jalanan berbatu, sama sekali belum diaspal. Seorang petugas di pintu meminta karcis kontrol, “Hendak ke mana, pak?”, tanya petugas. “Saya hendak ke arah Setu, Cilangkap,” jawabnya. “Bapak ikuti saja jalan ini nanti di pintu belok kiri ke jalan raya. Jika Bapak ada kesulitan silakan tanya petugas di pintu depan,” kata petugas itu memberi pengarahan.

Sepanjang jalanan tanah yang dilalui, ada beberapa anak kecil yang menadahkan tangan, meminta-minta. Mereka melempari mobil-mobil yang berlalu tanpa memberikan apapun dengan kerikil sambil berteriak, “Sialan lu!” Aduhai, pendidikan macam apa yang mereka dapatkan sehingga demikian?

Di pintu yang berhubungan langsung dengan jalan raya terlihat beberapa orang yang mengatur lalu lintas kendaraan keluar. Seorang yang tidak berseragam menghampiri mobil si pelapor, “Hendak ke mana, pak?” tanya petugas. “Saya mau ke Setu,” jawabnya. “Silakan keluar pintu, belok kiri langsung lurus ke arah Setu,” katanya lalu melanjutkan, “Uang parkirnya pak.”

“Uang apa?”
“Serelanya, pak.”
“Lho, bukannya sudah termasuk harga tiket masuk taman?”
“Ya, pak. Tiket masuk urusan Taman, ini keluar buat bantu kami, warga yang mengelola.”
Si pelapor pun memberikan selembar uang mata pecahan kecil kepada orang itu sambil mendongkol dalam hati, “Sialan, jebakan betmen.”
Tampak seringai senyuman dari orang-orang yang mengatur pintu itu.

Antara petugas yang mengambil karcis kontrol dengan pintu yang terhubung jalan raya adalah lahan kosong yang luas. Hanya pintu itu satu-satunya jalan keluar. Mau tidak mau, ia dan mobil lainnya yang melalui jalan itu harus memberikan uang “serelanya” kepada orang-orang yang menjaga pintu.

Ia kesal, twitter dan kicauannya di media sosial tidak mendapat respon dari pengelola taman wisata. Ia pun melapor kepada yang berwajib atas kejadian yang dianggap menipu pelanggan. Tetapi, petugas tidak dapat memprosesnya. Karena “Pintu 5” itu, katanya sama sekali tidak pernah ada.

Dengan penasaran ia pun menuju lokasi kejadian. Dari dalam taman wisata, tidak terlihat ada pintu. Bahkan tumbuh di sana semak-semak yang tinggi. Dari luar taman pun, ketika ia melewati pagar yang diyakininya sebagai pintu keluar, pagar itu rapat, dan sama sekali tidak ada tanda bahwa pernah ada pintu di situ.


%d blogger menyukai ini: