iman yang cengeng

11 Januari, 2016

“Payah sekali, punya iman kok cengeng,” begitu katanya. Lahirnya, kalimat itu ada benarnya. Sayangnya, diungkapkan sebagai cibiran.

Sejatinya iman itu bukanlah buah, melainkan proses. Oleh karenanya, iman itu kadang naik dan kadang turun. Orang beriman adalah orang yang senantiasa memperbaiki iman mereka.

Di saat imannya naik, mereka meningkatkan amal ibadah dengan sunah-sunah tambahan di luar yang wajib. Di saat imannya turun, mereka tetap menjaga amal ibadah yang telah diwajibkan atas mereka.

Cengeng adalah kata sifat yang menunjukkan makna mudah menangis, mudah tersinggung, lemah dan tidak mandiri. Frasa “iman yang cengeng” dapat bermakna iman yang lemah, tidak teguh, dan mudah berubah.

Perkataan, “punya iman kok cengeng”, dapat saja dimaknai sebagai pengingat agar beriman itu haruslah kuat, meneguhkan hati dan kukuh. Tidak mudah goyah walaupun banyak godaan di sekelilingnya.

Teguhnya hati dan kukuhnya iman diperoleh dengan proses ilmu dan pengetahuan. Semakin dalam keilmuan yang digalinya akan semakin kukuh pondasi imannya. Sebaliknya yang dangkal ilmunya, sangat dianjurkan untuk belajar lebih banyak lagi.

Adapun orang yang berkata atau setuju dengan kalimat, “punya iman kok cengeng”, mestilah menjaga lisannya. Bisa saja perkataan itu keluar tanpa ilmu atau dengan maksud mengejek. Semoga ia mendapat petunjuk.


hukuman yang menyenangkan

11 Januari, 2016

Sebungkus pilus milik Radya yang tergeletak di atas meja, Tsuraya telah menghabiskannya. Radya kesal dan menyembunyikan sandal Tsuraya di dekat tempat sampah. Tsuraya pergi sekolah dengan sandalnya yang lain.

Baba menyuruh Radya mengembalikan sandal Tsuraya. Radya mencari sandal menemukan sebelah saja. Hari itu hari Sabtu, adalah jadwal petugas kebersihan mengambil sampah. Kemungkinan besar sandal terbawa bersama sampah.

Tsuraya bersalah karena memakan pilus tanpa izin pemiliknya. Tsuraya harus minta maaf kepada Radya dan tidak mengulanginya lagi. Radya bersalah karena menghilangkan sandal Tsuraya. Selain minta maaf dan tidak mengulanginya, Radya mendapat hukuman.

Hukuman untuk membeli sandal baru untuk Tsuraya. Radya tidak punya uang. Isi celengannya sudah habis untuk jajan. Hukumannya diganti. Radya harus membersihkan lantai kamar mandi setiap hari Minggu, selama sebulan.

Hari Minggu, Radya menjalani hukuman.  Radya tidak tahu bagaimana membersihkan lantai kamar mandi. Baba menunjukkan caranya. Athiya pun ikut membantu kakaknya. Mereka berdua menyikat lantai kamar mandi dengan gembira.


%d blogger menyukai ini: