baju

27 September, 2016

​Baju, adalah yg membedakan manusia dengan binatang. Baju menjadikan penyandangnya bermartabat. Baju menunjukkan derajat manusia di antara manusia lainnya. Baju bisa juga berarti wajah kita di hadapan manusia, gaya hidup, agama, dan pilihan politik kita.

@ndi, 26092016

al-Imam asy-Sya’bi mengatakan

ﻗﺼﺔ ﻳﻮﺳﻒ ﻓﻲ ﻗﻤﻴﺼﻪ

“Kisah Nabi Yusuf ada pada bajunya.” (Fa bi Hudahum, hlm. 200)

Al-Mawardi mengatakan,

ﺃَﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘَﻤِﻴﺺِ ﺛَﻠَﺎﺙَ ﺁﻳَﺎﺕٍ : ﺣِﻴﻦَ ﺟَﺎﺀُﻭﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺪَﻡٍ ﻛَﺬِﺏٍ، ﻭَﺣِﻴﻦَ ﻗُﺪَّ ﻗَﻤِﻴﺼُﻪُ ﻣِﻦْ ﺩُﺑُﺮٍ، ﻭَﺣِﻴﻦَ ﺃُﻟْﻘِﻲَ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻪِ ﺃَﺑِﻴﻪِ ﻓﺎﺭﺗﺪ ﺑﺼﻴﺮﺍ

Tentang baju gamis, ada 3 ayat, [1] ayat tentang kedatangan saudara Yusuf menghadap Ya’qub dengan darah dusta. [2] ayat tentang baju gamis Yusuf yang koyak di belakang. [3] ayat yang menceritakan baju Yusuf ketika dilemparkan ke ayahnya, kemudian penglihatannya kembali normal.

(Tafsir al-Qurthubi, 9/149)

Iklan

Tentang adab

23 September, 2016

“Manifestasi eksternal keadilan dalam kehidupan dan masyarakat tidak lain adalah keberadaan adab di dalamnya. Saya menggunakan konsep (makna) dari adab di sini menurut arti awal istilah, sebelum adanya inovasi dari para ahli bahasa yang jenius. 

Adab dalam arti dasar asli adalah mengundang untuk perjamuan. Ide perjamuan menyiratkan bahwa tuan rumah adalah orang terhormat dan terpandang, dan banyaknya orang yang hadir; bahwa orang-orang yang hadir adalah mereka yang menurut perkiraan tuan rumah layak menerima undangan kehormatan, dan karena itu mereka adalah orang-orang dari berbudi pekerti luhur dan berpendidikan sehingga diharapkan untuk berperilaku sebagaimana layaknya keadaan mereka, dalam ucapan, perilaku dan etiket.

Dalam arti yang sama bahwa makanan akan dihidangkan menurut aturan tata boga yang halus, tata cara dan etiket, begitu juga berpengetahuan untuk memuji dan menikmati, dan mengambil dengan cara etis sebagaimana layaknya sifat mulia. Dan ini adalah alasan mengapa kita mengatakan adanya analogi antara makanan dan kehidupan jiwa. 
Dalam kebajikan, adab juga berarti untuk mendisiplinkan pikiran dan jiwa; yaitu akuisisi kualitas yang baik dan atribut dari pikiran dan jiwa; yaitu untuk melakukan hal yang benar sebagai lawan dari tindakan yang keliru, hal yang benar sebagai lawannya salah; yaitu untuk menjaga dirinya dari aib.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme (p.149-150)


investasi ilmu dan amal

23 September, 2016

Hadits ketiga yang tercantum pada arbain nawawi diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khattab, yang menyatakan bahwa Islam dibina di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah, penegakkan salat, penunaian zakat, pergi haji ke baitullah, dan puasa ramadan.

hadits ini berisi tentang pondasi Islam, tidak cukup dengan mengetahui ketuhanan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, iman itu juga menuntut persaksian bahwa Nabi Muhammad -sallallahu alaihi wasallam- adalah utusan pembawa risalah Tuhan, yang mengajarkan umat tentang ilmu mengenal Allah, hak dan kewajiban yang ada di antara Allah dengan hamba-Nya. pondasi keislaman berikutnya adalah pengamalan, yaitu salat, zakat, haji, dan puasa. ilmu itu akan melahirkan amal sedangkan ilmu adalah jalan keimanan. tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal.

jika hadits pertama dan kedua pada arbain nawawi diriwayatkan dari khalifah Umar bin Al-Khattab, maka hadits ketiga ini diriwayatkan oleh salah seorang anaknya, yaitu Abdullah bin Umar -semoga Allah meridai keduanya. sejarah mencatat bahwa Abdullah bin Umar adalah salah seorang sahabat yang menjadi sumber rujukan ilmu (ulama) bagi umat Islam di masanya. sebagaimana kata pepatah, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. anak-anak yang berdedikasi terhadap ilmu akan lahir dari orang tua yang memiliki komitmen serta pelayanan terhadap ilmu.

ilmu yang bermanfaat adalah investasi yang terus menghasilkan selama masih dimanfaatkan, adapun anak saleh yang mendoakan adalah hasil dari investasi ilmu dari orang tua kepada anak-anaknya. khalifah Umar bin Al-Khattab memahami hal ini dengan sangat baik dan berhasil mengumpulkan hasilnya dari kedua jenis investasi tersebut. maka apakah kita tidak tertarik untuk memulainya? Semoga Allah melimpahkan taufik.

@ndi, 21121437


penghalang persatuan

23 September, 2016

yang menghalangi kita untuk bersatu padu adalah hawa nafsu kita, kepentingan kita, dan egoisme kita, masih lebih besar daripada kepentingan bersama. sementara itu lawan telah bersatu padu mengalahkan ego individunya demi amanat idealisme mereka.

@ndi, 23092016


moderat

23 September, 2016

menjadi moderat akan selalu menghadapi lawan dari dua kutub ekstrem. dianggap lembek oleh kutub keras, dianggap keras oleh kutub lembek.

@ndi, 22092016


hijrah ilmu

21 September, 2016

​banyak orang mengira dunia yang dia peroleh sebagai tanda keridaan dari Allah pada dirinya: kesehatan, harta, wanita, anak-anak, jabatan, usaha yang berkembang. sehingga mereka hanya mau berhijrah dari suatu kondisi kekurangan menuju keberlimpahan.

adapun jika kondisinya tidak jelas, atau akan mengurangi pendapatannya, atau kehilangan posisinya, sangat sulit mengiyakan untuk berhijrah.

padahal Nabi -sallallahu alaihi wasallam- telah bersabda bahwa barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang dia cari atau kepada wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya. diriwayatkan oleh imam al-bukhari dan imam muslim.

hadits tersebut mengajarkan bahwa, hijrah tergantung pada niatnya. setiap orang akan memperoleh hasil sesuai apa yang dia niatkan. 

maka, ketika berhijrah pun, niatkanlah yang terbaik, berlimpah, dan lebih bermanfaat. hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, sudah barang tentu “the best” lah. Allah yang telah menciptakan pasti menjamin hidup kita dengan kecukupan.

tahukah bahwa hadits itu diriwayatkan dari khalifah umar bin al khatthab? seorang sahabat terbaik yang dimiliki oleh Islam, yang telah berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, berjuang bersama Rasulullah, dan masyarakat Islam di masa pemerintahannya selama 10 tahun adalah masyarakat yang cemerlang.

dan sebagai khalifah, kepala negara, penguasa dunia, ia sendiri tidak perlu malu untuk meriwayatkan hadits. sebagai bukti hijrahnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati untuk memuliakan ilmu.
Semoga Allah melimpahkan taufik.
@ndi, 19121437


adab menuntut ilmu

20 September, 2016

​ketika malaikat jibril menyamar sebagai seorang lelaki tak dikenal datang di hadapan Rasulullah -sallallahu alaihi wasallam- dan bertanya jawab tentang islam, iman, ihsan, dan sebagian tanda-tanda kiamat -sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim- sesungguhnya dia sedang mengajarkan agama dengan cara yang indah.

bukan saja karena isi tanya jawabnya yang berbobot dan menjadi rukun keislaman yang wajib diketahui setiap muslim. melainkan terlebih utama adalah adab dalam menuntut ilmu. lihat betapa jelasnya ilustrasi adab yang diperagakan oleh malaikat Jibril: 

bagaimana penampilannya, rambutnya yang klimis, pakaian yang putih bersih, cara duduk di hadapan ahli ilmu, cara bertanya yang baik, cara membenarkan pernyataan guru, cara menyimak pelajaran. sungguh itulah model adab terbaik yang semestinya dimiliki oleh setiap penuntut ilmu.

dengan berkembangnya dunia digital dan internet, kita kehilangan lebih banyak lagi adab. padahal ilmu tidaklah didapat kecuali dengan adab yang benar. padahal ilmu diraih untuk menjadi beradab dan berperadaban. akan tetapi hilangnya adab menjadikan kebiadaban.

ilmu tidak lagi dicari dari majelis taklim ataupun pondok pesantren. para ustaz dijatuhkan martabatnya. pendapat para ulama saling dibenturkan. penempuh jalan internet kehilangan rasa dalam menghargai ilmu.

orang-orang yang tidak saling mengenal,secara tiba-tiba saling terhubung. berkomunikasi tanpa batasan ruang dan waktu. sebagian masih berpegang pada prinsip untuk menjaga maruah satu sama lain. sebagian lainnya terbuka dan saling menyerang dengan prasangka masing-masing. orang mulia dihinakan, orang hina ditinggikan. 

maka dari itu, jika kita benar-benar ingin meraih faedah ilmu dan keberkahannya, serta iringan doa dari ulama yang mengajarkan ilmu, sudah sepatutnya kita memperbaiki penampilan, berlatih kesopanan, membiasakan pembicaraan yang  bermanfaat, serta menjaga adab. 

semoga Allah melimpahkan taufik.
@ndi, 18121435


%d blogger menyukai ini: