menikah

17 Oktober, 2016


Bismillah.

Di antara pintu rezeki adalah menikah. Disinggung dalam beberapa ayat dan hadits bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. 3 orang yg dijamin rezekinya adalah budak yg membebaskan dirinya sendiri, orang yg berjihad di jalan Allah, dan orang yg menikah.

Menikah adalah ritual agama yg menyatukan dua jenis anak adam (laki2 dan perempuan), melampiaskan kebutuhan biologis secara halal, menyatukan dua keluarga. 

Kita disebut sedang salat ketika sedang menjalani ritual salat, selama salat itu pula semua yg kita lakukan bernilai ibadah. Kita disebut berpuasa ketika menahan makan minum dan jimak sejak fajar hingga magrib, selama puasa itu pula yg kita lakukan bernilai ibadah. Begitupula menikah, selama masih bersama istri dan belum bercerai (baik ditinggal hidup maupun mati) maka selama menjalani pernikahan akan selalu bernilai ibadah.

Menikah itu antara laki2 dan perempuan, bukan laki2 dg laki2 atau perempuan dg perempuan.

Menikah melampiaskan hajat biologis secara halal. Dalam hadits disebutkan jika menaruh kemaluan di tempat yg haram (zina) mendapat dosa, maka menaruhnya di tempat yg halal akan mendapat pahala. Pahala menikah yg kadarnya sebanding besarnya dengan besarnya dosa zina.

Menikah juga menyatukan dua keluarga. Maka itu tidak boleh seorang suami melarang istrinya berbakti kpd ortunya atau berbuat baik kpd kerabatnya. Begitupula tidak boleh seorang istri menjadi penyebab suami durhaka kpd ortunya. 

Karena pernikahan adalah sebuah bahtera ibadah yg besar, maka perbaiki niat kita menikah menjadi niat ibadah.

Menikah menggenapi setengah agama. Dengan menikah dan menjalani pernikahan, seseorang sdh memiliki bekal setengah agama, shg kalaupun dia tidak melakukan ibadah sunnah lainnya kecuali menikah itu sudah mencukupi. 

Wallahu a’lam.

Disarikan dari pengajian Ust. Khalid Basalamah di Majelis Taklim Wisma Mulia, Jakarta, 17 Oktober 2016.

@ndi, 16011438


demi Allah

17 Oktober, 2016

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ رَأَى عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَجُلاً يَسْرِقُ فَقَالَ لَهُ عِيسَى سَرَقْتَ قَالَ كَلاَّ وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ ‏.‏ فَقَالَ عِيسَى آمَنْتُ بِاللَّهِ وَكَذَّبْتُ نَفْسِي ‏”‏ ‏.‏

Abu Hurairah radiyallahu anhu menceritakan hadits dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, di antaranya adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: Isa bin Maryam melihat seorang laki-laki mencuri, lalu Isa berkata kepada orang tersebut: “Kamu mencuri.” Orang itu berkata: “Bahkan tidak, demi Tuhan yang tidak ada sesembahan selain Dia, (saya tidak mencuri).” Maka Isa berkata: “Aku beriman kepada Allah dan aku mendustakan diriku sendiri.”
(HR. Muslim)

http://sunnah.com/muslim/43/195


pengampunan

17 Oktober, 2016

​Abu Bakar Ash-Shidiq murka begitu tahu ada di antara kerabatnya yg turut andil dalam penyebaran kisah bohong yg menimpa putrinya, Aisyah Ash-Shidiqah, istri Rasulullah s.a.w. sehingga beliau bersumpah untuk menghentikan santunan yg rutin diberikan kepada kerabatnya itu. 
Kemudian Allah s.w.t. menurunkan ayat Alquran surat Annuur: 22, sehingga Abu Bakar membatalkan sumpahnya dan tetap menyantuni kerabatnya demi mengharap ampunan Allah.
Kebanyakan orang bereaksi seperti reaksi pertama Abu Bakar. Tidak sudi lagi menafkahi orang yg mengkhianatinya. Hanya sedikit orang yang bereaksi seperti reaksi kedua Abu Bakar. Mengampuni orang yg mengkhianatinya demi mengharap ampunan Allah.
Inilah dermawan yg sebenarnya. Memberi tanpa harap kembali. Namun jadi sasaran empuk bagi orang2 yg suka mengkhianati. Sang dermawan akan tetap mendapat pahalanya, sedangkan si pengkhianat akan tetap mendapat dosanya.
@ndi, 16011438


%d blogger menyukai ini: