Karena

22 Desember, 2016

​karena, tak satupun yang rela keyakinannya diserang secara frontal, dinista secara terang-terangan, dibunuh secara sadis.

karena, tak seorangpun yang sanggup meyakini tanpa adanya bukti, sanggup menjalani tanpa tuntunan, sanggup melihat tanpa cahaya.

karena, tak sekalipun kita mampu berdiri tanpa bantuan orang lain, mampu bergerak tanpa pertolongan orang lain, mampu hidup tanpa ada orang lain.

karena, adanya orang lain maka adanya kita, adanya sesama maka adanya kenal mengenal, adanya kebutuhan maka adanya bantu membantu.

karena, soal keyakinan adalah soal penerimaan, sedangkan soal toleransi adalah soal pemberian, adapun menerima dan memberi itu tidak dapat dipaksakan.

@ndi, 22031438

Iklan

ga ada kamu

14 Desember, 2016

Ketenangan pagi di suatu hari jumat pun pecah, terdengar suara Athiya yang menangis dan Tsuraya yang berteriak, “Ini gelang Aya!”

“Bukan, ini gelang Athiya!” Athiya balas berteriak sambil menyembunyikan tangannya.

Tsuraya meraih tangan adiknya dan berusaha melepas gelang yang melingkarinya. “Ini kan gelangnya Aya!”

“Gelang Athiya!” Seru sang adik.

“Duh! Ada apa ini?” Tanya Bubu yang menghampiri sumber keributan.

“Athiya mengambil gelang Aya,” jawab Tsuraya yang masih memegangi tangan adiknya.

“Itu kan gelang dari tante, buat Athiya,” sanggah sang adik meringis lara.

“Bohong, gelangnya Athiya bukan yang itu!” Sang kakak menggugat dan berhasil melepaskan gelang dari tangan Athiya.

“Gelang Athiya kemana dong? Huaaaa…!” tangis si adik pecah.

“Ya ampun! Tsuraya, bagaimanapun, mengambil kembali milik kamu sendiri tidak boleh dengan kasar dan menyakiti. Apalagi Athiya itu adik kamu!” Bubu menengahi dan melanjutkan, “Athiya juga, yang bukan milik kamu, bilang baik-baik kepada pemiliknya jika mau memakai atau meminjamnya.”

“Bagaimana kalian berdua ikut pergi bersama Eyang Uti, kalau bertengkar seperti ini?” Tanya Bubu kepada kakak-beradik itu. “Kasihan Eyang Uti, jadi repot nanti.”

Athiya pun pergi keluar rumah dengan rasa dongkol di hatinya. Sedangkan Tsuraya, membongkar kembali baju-baju dari dalam tasnya yang sedianya dibawa untuk pergi bersama neneknya.

***

Tak lama kemudian, Tsuraya menghampiri ibunya meminta maaf, “Bubu, maafkan Aya, ya.”

“Iya sayangku, Bubu maafkan,” Bubu memandang tulus wajah gadis kecil yang dipenuhi penyesalan itu.

“Aya mau ikut Eyang Uti pergi. Tapi, baju-bajunya sudah dibongkar” kata Tsuraya. Bubu tersenyum dan bertanya, “Lagipula, siapa yamg suruh kamu membongkar bajumu?”

“Tadi, Bubu bilang gak boleh ikut Eyang?” Jawab Tsuraya.

“Oya?” Bubu balik bertanya, “Bubu gak bilang begitu. Bubu bilang, kalau kalian bertengkar seperti tadi sedangkan kalian ikut Eyang Uti, tentu akan merepotkan.”

“Hmmm…,” gumam Tsuraya.

“Ya sudah, sekarang pak lagi baju-bajumu itu.”

***

Tiba-tiba pintu rumah terbanting, sosok Athiya berdiri di tengah pintu dan berkata sambil menahan isaknya, “Athiya maunya pergi bersama Mbak Aya!”

—selesai—


%d blogger menyukai ini: