Sepohon kayu

3 Juli, 2017

Sepohon kayu daunnya rimbun, lebat bunganya serta buahnya. Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya.

Kami bekerja sehari-hari, untuk belanja rumah sendiri. Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya. 

Kami sembahyang fardu sembahyang, sunahpun ada bukan sembarang. Supaya Allah menjadi sayang, kami bekerja hatilah riang. 

Kami sembahyang lima lah waktu, siang dan malam sudahlah tentu. Hidup di kubur yatim piatu, tinggallah seorang dipukul dipalu. 

Dipukul dipalu sehari-hari, barulah ia sadarkan diri. Hidup di dunia tiada bererti, akhirat di sana amatlah rugi. 

Sepohon kayu daunnya rimbun, lebat bunganya serta buahnya. Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya.
@nadamurni


Berangkat kerja 

3 Juli, 2017


وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berangkat pada pagi hari meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang beriman pada pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
-Surat Ali ‘Imran, Ayat 121

– at Wisma Mulia

View on Path


%d blogger menyukai ini: