Tari ondel-ondel

28 Agustus, 2017

“Ba, Aya boleh ikut nari gak?” tanya Tsuraya suatu hari ke Baba. “Kamu sudah tanya Bubu?” Baba balik bertanya. “Udah, tapi kata Bubu harus izin sama Baba. Boleh ya, Ba? Please…,” pinta Tsuraya memohon. “Menari untuk apa?” tanya Baba. “Untuk pentas seni panggung tujuhbelasan di RW, Ba,” jawab Tsuraya. “Kamu menari apa, sama siapa?” tanya Baba lagi. Tsuraya menjawab, “Menari topeng betawi, Ba. Sama teman-teman Aya, yang ngajarin juga mamanya Quinsha.” Baba terdiam beberapa saat, lalu Tsuraya memberi alasan, “Lagian narinya gak gemulai kok, Ba.” Baba kemudian memberi jawaban, “Baiklah, boleh ikut,” Tsuraya pun berseru, “Hore!” Baba melanjutkan,” tapi kalau naik panggungnya malam hari tidak boleh lewat jam 9 malam ya.”

Tsuraya gembira sekali dan berlatih dengan semangat bersama teman-temannya. Selalu saja ada cerita tentang tarinya sepulang latihan. Tak sabar menanti datangnya hari Minggu untuk maju ke punggung. Hingga hari Jumat tiba, kabar duka pun tiba. Nenek buyutnya wafat dan kami sekeluarga berencana bertakziyah ke kampung halaman. Bubu memohon izin kepada mamanya Quinsha bahwa Tsuraya kemungkinan tidak bisa ikut menari di panggung.

Tsuraya sedih, karena kehilangan nenek buyutnya tetapi lebih sedih lagi karena tidak bisa ikut naik panggung bersama teman-temannya. Takdir, kami tidak jadi berangkat ke kampung halaman, dan Tsuraya pun tidak ikut latihan terakhir tarinya sebelum pentas.

Hari Minggu malam, selepas Isya, Tsuraya menghampiri Baba dan berkata, “Ba, Aya boleh nonton pentas gak?” Baba bertanya, “Buat apa, kan kamu gak jadi naik panggung?” Tsuraya menjawab, “Aya mau datang melihat teman-teman menari di panggung. Memberi semangat buat mereka.”

Baba bertanya lagi bertubi-tubi, “Kamu sudah salat Isya? Sudah minum jus? Sudah makan? Sudah menyiapkan buku pelajaran untuk besok? Sudah bantu menyiapkan buku untuk adikmu, Athiya?” semua pertanyaan dijawab, “Sudah.”

“Di mana tempat pentasnya?” tanya Baba. “Di lapangan RT 01, dekat Toko Rumah Galuh,” jawab Tsuraya. “Malam-malam begini, ke sana naik apa?” Baba kembali bertanya. “Naik sepeda, Ba,” jawabnya tegas. “Kamu berani? Gak takut?” selidik Baba. “Aya gak takut hantu, kok,” jawaban Aya membuat Baba tertawa. Baba berkata, “Kamu tanya ibumu, kalau diizinkan, Baba gak akan biarkan kamu berangkat sendiri.” Tsuraya bertanya, “Trus, Aya berangkat sama siapa?” Baba menjawab, “Ya, Baba antar ke sana.”

Bubu mengizinkan, lalu anak dan bapak itu berkendara sepeda motor ke tempat pentas seni. Tsuraya bertemu teman-temannya yang sedang menunggu giliran naik panggung. Mereka bercengkerama dengan riang. Ketika tim tari itu naik panggung, Tsuraya tampak menyemangati mereka hingga selesai.

Dalam perjalanan pulang Baba bertanya, “Kamu sedih?” Tsuraya merendahkan suara, “Iya sedih gak bisa naik panggung.” Lalu terdengar suara ceria, “Tapi gak lagi. Aya senang sudah melihat teman-teman, dan mereka senang Aya hadir menonton mereka.” Baba tersenyum bangga dengan gadis cilik itu dan tak menyangka ketika ia mengucapkan, “Terima kasih, Baba. Sudah mengantar Aya.”

@ndi, 27082017

View on Path

Iklan

Layu

25 Agustus, 2017

Kau tahu aku menyukai wayang, maka engkau berkisah tentang pandawa lima, rama dan lesmana, satria panji, dan mengajariku membuat wayang dari daun singkong.

Kau tahu aku menyukai perjuangan, maka engkau berkisah tentang perang jepang, perang kemerdekaan, penderitaan di masa awal republik ini berdiri, dan aku terlelap di pangkuanmu. 

Kau tahu aku menyukai bahasa, maka kau bercerita aji saka, mengajariku hanacaraka, berkirim surat denganku dalam aksara jawa, yang selalu kuakhiri dengan kalimat “matur sembah sungkem”.

Kau tahu aku suka prakarya, maka kau ambil benang wol dan hakpen, kau tunjukkan caranya merenda, serupa merenda kata dalam puisi, jalin menjalin dengan indahnya. 

Kau tahu aku pandai mengaji, maka kau memintaku mengeja alif ba ta, membaca alquran, serta beberapa doa dan zikir untuk selalu lisanmu melafalkannya.

Kau tahu aku suka aroma tembakau, maka kau sediakan sejumput tembakau dan cengkih, untuk kuletak di atas kertas piper dan kulinting. Lalu kau bakar, kau isap dan hembuskan, sambil menggosok gigi.

Kau tahu aku suka aroma kopi, maka kau tunjukkan bijih dan alat penggiling manual. Kau ajari aku cara menikmati kopi hangat: kopi hitam maupun kopi susu.

Kau tahu aku suka unggas, kau biarkan aku bermain dengan kalkun, ayam dan bebek. Memelihara mereka, membeli dedak, mengaduk cacahan sayur untuk makanan unggas. 

Kau tahu aku sedang jatuh cinta, maka engkau bercerita tentang rama dan sinta, samiaji dan drupadi, arjuna dan subadra, tentang pengorbanan dan kesetiaan. 

Kau tahu aku kerepotan dengan seorang anak, maka engkau menasihatiku untuk memperbanyak anak, tetap bersabar dan terus bersyukur.

Kau tahu aku mencintaimu, maka suaramu bersemangat saat aku menelepon, wajahmu berseri saat aku datang, senyummu ceria saat aku tertawa, rintihanmu lipur saat aku hadir. 

Kaulah ibu yang melahirkan ibuku, kini pergi meninggalkan semua lelah dan payah, teriring doa husnul khatimah, ampunan dan kasih sayang Allah kepadamu senantiasa melimpah. 

@ndi, 03121438

picture by @karunjw 

tadabur QS 57: 19-24

in memoriam ibunda Hj. Siti Hadiah

View on Path


Belajar jujur

24 Agustus, 2017

Haus, Andi pun pergilah ke warung penjual minuman. Tidak ada seorangpun di sana, baik pembeli lain maupun penjualnya. Setelah mencari-cari tak ketemu sang penjual, Andi mengambil sebotol air mineral dan meletakkan uang dua lembar duaribuan rupiah di atas meja penjual, lalu meninggalkan warung.

Beberapa saat kemudian, Andi kembali ke warung dan bertemu dengan penjual yang sedang melayani pembeli lain. Melihat Andi, sang penjual bertanya, “Mau beli apa, Mas?”

Andi menjawab apa adanya, “Tadi saya kemari tidak ada siapapun, lalu saya mengambil air mineral sebotol dan saya letakkan uang di meja.” Penjual melihat uang tersebut lalu berkata datar, “Kurang seribu, Mas.”

“Wah, kurang kah? Biasanya saya membayar empatribu saja,” kata Andi. Sang penjual menjawab, “Kita semua dekat sini sepakat air mineral sebotol dihargai limaribu rupiah.”

Setelah melunasi kekurangan bayar, Andi berlalu dengan sedikit rasa kecewa. “Duhai, seandainya tadi tak perlu kembali ke warung.”

ūüėā

@ndi, 24082017

View on Path


Tentang rezeki

22 Agustus, 2017

Sebagian orang berperang untuk memperebutkan rezeki dan kedudukan tinggi dalam kehidupan dunia. Mereka membuat strategi dan bersusah payah untuk meraihnya. Segala kesempatan dimanfaatkan untuk memenuhi hajatnya. Mereka menjalani sebab-sebab untuk mencapainya. 

Akan tetapi, Tuhan selalu punya jawaban atas keputusasaan orang-orang yang tidak berhasil, atas kekecewaan orang-orang yang gagal,  atas kemarahan orang-orang yang tersingkir, betapapun gigihnya mereka. Jawaban itu: kasih sayang. 

Allah menentukan rezeki dan kedudukan dengan kasih sayang-Nya dan sudah tentu itu lebih baik daripada apa yang telah kita kumpulkan. 

@ndi, 29111438

tadabur QS 43: 32

picture by @bumihijrah

View on Path


Pejalan kaki

21 Agustus, 2017

Malang nian nasib para pejalan kaki, sudah trotoar diambil oleh kaki lima, galian kabel, atau pelebaran jalan, melangkah di sisi jalan pun bertabrak motor, diklakson mobil. ūüė¶

View on Path


Panjat pinang 

17 Agustus, 2017

Fb menggunakan gambar panjat pinang sebagai apresiasi atas kemerdekaan bangsa Indonesia dan hari lahir RI. Padahal menurut artikel yang ditulis oleh seorang sejarawan yang pernah saya baca, panjat pinang adalah warisan kolonialisme. 

Bangsa Eropa membawa budaya permainan gladiator ke wilayah pendudukan sebagai sarana hiburan bagi mereka. Permainan gladiator mempertontonkan perbudakan, penindasan, egoisme, semangat untuk saling menjatuhkan, kepentingan sesaat, demi memperoleh hadiah yang sedikit dan tidak berharga. 

Permainan panjat pinang, memberi gambaran serupa itu. Walaupun sebagai permainan yang menghibur dan terus digemari, panjat pinang amat jauh dari peradaban dan tidak mewakili rasa kemerdekaan itu sendiri.

Ataukah justru menjadi simbol perlawanan rakyat yang putus asa dan kehilangan kemerdekaan oleh karena penjajahan dari bangsa sendiri? 

@ndi, 17082017



16 Agustus, 2017

Wahai ayah, anak adalah anugerah dari Allah yang semestinya engkau syukuri. Anak adalah amanah yang wajib engkau tunaikan hak-haknya. Anak juga ujian untuk menjadikanmu lebih bertakwa. 
Wahai ayah, semua fasilitas yang engkau berikan kepada anak-anakmu menjadi sebab kebaikan maupun keburukannya. Berikanlah yang terbaik, dan hindarkanlah dari yang buruk. 
Wahai ayah, apa yang diperlukan anak-anakmu bukan sekadar materi, bukan pula sekadar cinta dan kasih sayang. Mereka lebih sangat memerlukan doa dan keteladanan darimu.
Wahai ayah, madrasah pertama bagi anak-anakmu adalah ibu mereka. Adapun engkau adalah kepala sekolahnya. Maka didiklah sang ibu, niscaya ia mendidik anak-anakmu dengan baik. 
Wahai ayah, adalah wajar anak-anak berbuat nakal atau membuatmu kesal. Namun hendaknya engkau menjaga lisanmu dari melaknat, gantilah ia dengan doa semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaiki mereka. 
Wahai ayah, seberapa besarnya perhatianmu, seberapa beratnya pengorbananmu, seberapa banyak upayamu untuk anak-anak. Sesungguhnya mereka bukan milikmu,  tapi milik Allah. Maka bertawakkal kepada-Nya, adalah pelipur bagimu. 
Wahai ayah, bersihkanlah dirimu dan banyak-banyaklah berdoa. 
@ndi, 23111438
Inspirasi dari ceramah Ustaz Jazuli,  Lc. 

Gambar oleh @afrinaldi.zulhen 

– at Masjid Jami’ Daarul Adzkar

View on Path


%d blogger menyukai ini: