Tari ondel-ondel

“Ba, Aya boleh ikut nari gak?” tanya Tsuraya suatu hari ke Baba. “Kamu sudah tanya Bubu?” Baba balik bertanya. “Udah, tapi kata Bubu harus izin sama Baba. Boleh ya, Ba? Please…,” pinta Tsuraya memohon. “Menari untuk apa?” tanya Baba. “Untuk pentas seni panggung tujuhbelasan di RW, Ba,” jawab Tsuraya. “Kamu menari apa, sama siapa?” tanya Baba lagi. Tsuraya menjawab, “Menari topeng betawi, Ba. Sama teman-teman Aya, yang ngajarin juga mamanya Quinsha.” Baba terdiam beberapa saat, lalu Tsuraya memberi alasan, “Lagian narinya gak gemulai kok, Ba.” Baba kemudian memberi jawaban, “Baiklah, boleh ikut,” Tsuraya pun berseru, “Hore!” Baba melanjutkan,” tapi kalau naik panggungnya malam hari tidak boleh lewat jam 9 malam ya.”

Tsuraya gembira sekali dan berlatih dengan semangat bersama teman-temannya. Selalu saja ada cerita tentang tarinya sepulang latihan. Tak sabar menanti datangnya hari Minggu untuk maju ke punggung. Hingga hari Jumat tiba, kabar duka pun tiba. Nenek buyutnya wafat dan kami sekeluarga berencana bertakziyah ke kampung halaman. Bubu memohon izin kepada mamanya Quinsha bahwa Tsuraya kemungkinan tidak bisa ikut menari di panggung.

Tsuraya sedih, karena kehilangan nenek buyutnya tetapi lebih sedih lagi karena tidak bisa ikut naik panggung bersama teman-temannya. Takdir, kami tidak jadi berangkat ke kampung halaman, dan Tsuraya pun tidak ikut latihan terakhir tarinya sebelum pentas.

Hari Minggu malam, selepas Isya, Tsuraya menghampiri Baba dan berkata, “Ba, Aya boleh nonton pentas gak?” Baba bertanya, “Buat apa, kan kamu gak jadi naik panggung?” Tsuraya menjawab, “Aya mau datang melihat teman-teman menari di panggung. Memberi semangat buat mereka.”

Baba bertanya lagi bertubi-tubi, “Kamu sudah salat Isya? Sudah minum jus? Sudah makan? Sudah menyiapkan buku pelajaran untuk besok? Sudah bantu menyiapkan buku untuk adikmu, Athiya?” semua pertanyaan dijawab, “Sudah.”

“Di mana tempat pentasnya?” tanya Baba. “Di lapangan RT 01, dekat Toko Rumah Galuh,” jawab Tsuraya. “Malam-malam begini, ke sana naik apa?” Baba kembali bertanya. “Naik sepeda, Ba,” jawabnya tegas. “Kamu berani? Gak takut?” selidik Baba. “Aya gak takut hantu, kok,” jawaban Aya membuat Baba tertawa. Baba berkata, “Kamu tanya ibumu, kalau diizinkan, Baba gak akan biarkan kamu berangkat sendiri.” Tsuraya bertanya, “Trus, Aya berangkat sama siapa?” Baba menjawab, “Ya, Baba antar ke sana.”

Bubu mengizinkan, lalu anak dan bapak itu berkendara sepeda motor ke tempat pentas seni. Tsuraya bertemu teman-temannya yang sedang menunggu giliran naik panggung. Mereka bercengkerama dengan riang. Ketika tim tari itu naik panggung, Tsuraya tampak menyemangati mereka hingga selesai.

Dalam perjalanan pulang Baba bertanya, “Kamu sedih?” Tsuraya merendahkan suara, “Iya sedih gak bisa naik panggung.” Lalu terdengar suara ceria, “Tapi gak lagi. Aya senang sudah melihat teman-teman, dan mereka senang Aya hadir menonton mereka.” Baba tersenyum bangga dengan gadis cilik itu dan tak menyangka ketika ia mengucapkan, “Terima kasih, Baba. Sudah mengantar Aya.”

@ndi, 27082017

View on Path

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: