Meruqyah orang sakit

6 September, 2017

Dikisahkan bahwa ‘Abdul ‘Aziz dan Tsabit pernah menemui Anas bin Malik. Tsabit berkata pada Anas saat itu, “Wahai Abu Hamzah (nama kunyah dari Anas), aku sakit.” Anas berkata, maukah aku meruqyahmu (menyembuhkanmu) dengan ruqyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Tsabit pun menjawab, “Iya, boleh.” Lalu Anas membacakan doa,
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Artinya:

“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. (Hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi.” 

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi membawakan judul bab dalam Shahih Muslim, “Disunnahkan meruqyah orang sakit.” Maksudnya mendoakan agar sembuh yaitu dengan membaca doa di atas.

Kita juga dapat ambil pelajaran pula bahwa meruqyah itu bukan hanya pada kesurupan jin, namun pada penyakit lainnya pun bisa.

Jadi doa ketika menjenguk lebih penting bagi orang sakit karena ia perlu cepat sembuh, dan doa memudahkan segalanya.

Bukan hanya membawakan buah atau makanan enak, apalagi kalau makanan yang disediakan di RS sudah seenak yang di foto begini. 😋

@ndi.ep, 16121438
– at RS Puri Cinere

View on Path


Menjamak salat saat sakit

6 September, 2017

Menjamak salat zuhur dan asar atau magrib dan isya di saat sakit, adalah salah satu pilihan fikih. 

Pilihan ini bersandar pada ayat Alquran bahwa Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan, dan hadits Ibnu Abbas radiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah shallalllahu alaihi wasallam pernah menjamak salat di Madinah bukan karena khawatir maupun safar, melainkan karena beliau bermaksud tidak menyulitkan umatnya.

Menurut Imam Nawawi, sebagian imam membolehkan menjamak salat ketika bermukim karena suatu keperluan tapi tidak dijadikan kebiasaan. 

Mengapa disebut pilihan fikih? Karena ada dua pendapat tentang menjamak salat ketika sakit: yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. 

Yang membolehkan menggunakan dalil umum dan asumsi bahwa sakit adalah kondisi menyulitkan, bukan kebiasaan, dan suatu keperluan. 

Yang tidak membolehkan menggunakan alasan bahwa tidak ada dalil yang pasti mengenai kebolehan menjamak salat ketika sakit, padahal Rasulullah pernah beberapa kali sakit tetapi tidak menjamak salat. Sedangkan dalil umum dan asumsi tidak dapat dijadikan hujjah. 

Kedua pendapat tersebut telah dikemukakan oleh para imam mujtahid dari kalangan Hanabilah, Malikiyah, Hanafiyah dan Syafi’iyah. Bagi kita yang awam dipersilakan mengambil mana yang dapat dipakai.

Biarlah tugas mengkritik itu kita serahkan kepada para ulama mujtahid. Sebagai orang sakit tugasnya adalah bertobat, berobat, makan menu sehat dan beristirahat yang cukup. 

@ndi.ep, 15121438

picture by @karunjw

– at RS Puri Cinere

View on Path


%d blogger menyukai ini: