Sakit kepala hebat

11 September, 2017

“Sakit apa sih?” tanya setiap orang yang berjumpa ataupun menyapa melalui SMS/WA/Messenger/Path/Instagram.

Untuk mengusir rasa penasaran, saya jawab, “Cephalgia kronis (sakit kepala hebat) akibat infeksi bakteri dan pengentalan darah (hiperagregasi), kemungkinan karena capek, kurang minum air putih, banyak ngopi, dan asap rokok, serta riwayat pembekuan darah di bawah tempurung kepala (subdural hematoma) karena pernah kecelakaan >15 tahun yg lalu.”

“Indikasi lainnya bagaimana?” tanyanya lagi.

“Jumlah trombosit normal, DB negatif, kolesterol normal, asam urat normal, tensi darah normal, gula darah normal, gas lambung tinggi dan ada mual,” jawab saya.

Foto torax, CT kepala, pengukuran tensi dan temperatur, serta 3 kali tes darah melalui laboratorium mendukung ditegakkannya diagnosis tersebut.

“Dikasih obat apa aja?” rupanya masih bertanya.

“Omeprazole dan ondansetron untuk mengatasi mual dan sakit lambungnya. Parasetamol untuk mengatasi demamnya. Cefixime untuk antibiotiknya. Metilprednisolon untuk menekan imunitas dan mengurangi efek pembengkakan,” sesuai perawatan yang saya terima.

Dalam tiga hari dirawat inap, mengalami peningkatan berat badan 2 kg. Selain itu dalam rangka rawat jalan saya dibekali Flunarizine untuk mengatasi sakit kepala dan Clopidogrel bisulfate untuk mengencerkan darah. Selama perawatan mesti menghindari perdarahan, termasuk kerokan. Bahkan untuk cabut gigi pun harus stop obat pengencer 5 hari sebelumnya.

Untuk mencegah sakit kepala berulang harus membatasi kopi, cokelat, keju, vetsin berlebihan dan asap rokok.

Ketika menandatangani tagihan di kasir RS, besarnya ongkos overhaul kali ini hampir-hampir bikin sakit kepalanya kambuh. Syukurlah semua ditanggung majikan. Alhamdulillah ala kulli hal. Jadi semangat untuk sembuh dan masuk kerja lagi.

@ndi.ep 20121438 – at Wisma Mulia

View on Path


Bekerjalah

11 September, 2017

Bekerja adalah salah satu sarana untuk bersyukur kepada Allah. Tidak sedikit orang yang tidak sanggup untuk bekerja, begitu juga banyak orang yang kehilangan pekerjaannya.

Ketika kita masih memiliki pekerjaan atau melakukan sesuatu untuk dikerjakan, hal itu patut disyukuri. Banyaknya tugas, tanda kita masih dipercaya untuk menunaikannya.

Menunda pekerjaan, dengan begitu sama saja melalaikan amanah yang diserahkan kepada kita. Sangat sedikit yang mampu bersyukur, sehingga seorang hamba tidaklah sampai pada kebaktian tertinggi, kecuali dengan mensyukuri nikmat Tuhannya.

Maka apabila kita telah selesai dengan satu urusan, sangat dianjurkan tetap bekerja keras untuk urusan yang lainnya. Kemudian menyandarkan pamrih hanya kepada Allah.

@ndi.ep, 20121438

– at Wisma Mulia

View on Path


%d blogger menyukai ini: