Succession

31 Oktober, 2017

The time of success means you’re ready for succession, being replaced by your successor, just as the time when you replace your predecessor. #ThisIsSuccess

View on Path

Iklan

Sepeda

30 Oktober, 2017

Sofi dihampiri oleh teman-temannya yang kakak beradik, Tata dan Dede. Tata menaiki sepeda roda dua dengan tambahan dua roda bantuan, sedangkan Dede menaiki sepeda roda tiga. Mereka berbicara sebentar sehingga Sofi mengeluarkan sepeda roda tiganya.

Baba pun datang menyapa mereka satu persatu dan berkata, “Sofi, ayo naiki sepedanya, seperti Tata dan Dede.” Sofi merengut, tak suka dengan ucapan Baba, lalu mengajak kedua temannya, “Main, yuk!”

Tak disangka-sangka, Tata dan Dede pun turun dari sepedanya, mengikuti Sofi kemudian bermain bersama, meninggalkan tiga buah sepeda terdiam di depan pintu.

😅

@ndi, 09021439

View on Path


Medical check-up

27 Oktober, 2017

“Ketahuilah bahwa di dalam jasad ada sekerat daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah jantung.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

***

Setiap muslim wajib memelihara kesehatan tubuhnya agar memudahkan dalam melakukan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan sesama makhluk.

Akan tetapi kesehatan jantung secara fisik dan psikis perlu menjadi perhatiannya.

Karena jantung yang sehat secara fisik membuat kita mampu beraktivitas dengan baik dalam kehidupan dunia. Dan jantung yang sehat secara psikis membuat kita selamat dunia akhirat.

@ndi.ep 07021439

– at Beltway Office Park

View on Path


Update

18 Oktober, 2017

arrived home after a two-hour taxi ride, say hello to my dear, then stood an hour in front of the screen just to update the status … Lol

View on Path


Jangan

15 Oktober, 2017

Ketika Lukman memberi pelajaran kepada anaknya, ia menggunakan kata larangan, “jangan”. Tetapi tidak cukup dengan melarang, ia pun memberikan alasan mengapa ia melarang hal itu. Inilah salah satu metode pendidikan qurani.

***

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”

QS Luqman, 31: 13

picture by @karunjw

– at Masjid Al Muhajirin wal Anshor

View on Path


Katering

13 Oktober, 2017

Percakapan pada suatu siang dengan ibu katering.

Athiya : “Bu, kenapa ngga ada katering?”

Ibu katering: “Karena uti yg masakin katering qadarullah lagi sakit”

Athiya : “Emang ibu sendiri ngga bisa masak?”

Ibu katering: 😳😅

***

View on Path


Pantun Radya

8 Oktober, 2017

“Ba, dengar pantun yang Mas buat nih,” kata Radya suatu hari. Sepertinya, pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah begitu berkesan baginya. “Bagaimana pantunnya?” tanya Baba.

“Adik bermain dengan tali,” Radya memulai bacaan pantunnya. “Kakak baca koran duduk di kursi,” lanjutnya. “Bagaimana hati ini tak geli, kepala botak suka disisiri.”

“Hahahaha,” Baba pun tergelak mendengar pantun yang dibacakan oleh Radya. “Ada pantun apa lagi, Mas?” tanya Baba memancing.

“Ini pantun teka-teki. Baba harus bisa jawab ya?” Radya memulai tantangannya. “Oke,” jawab Baba.

“Berbaju melar, berbadan baja. Bersisik bukan ular, bermahkota bukan raja,” begitu pantun teka-tekinya. “Baba, ayo tebak, apakah itu?”

“Aha, Baba tahu, pasti buah Nanas. Iya, kan?” jawab Baba sambil terkekeh.

“Baba benar!” sambut Radya gembira, “Mas kasih yang lebih susah ya?”

“Sedang apa kalian?” suara Bubu bergabung, “Sepertinya seru sekali.”

“Bubu, dengar dulu pantun Mas. Kalau bisa menebak, hebat!” kata Radya. Bubu setuju dan mendengarkan.

“Petasan meledup menyenangkan hati. Dikasih makan hidup, dikasih minum mati,” Radya membacakan pantunnya, lalu bertanya, “Siapa bisa menjawab?”

“Wah, apa ya?” Bubu bergumam. “Iya nih, pantun teka-tekinya lebih sulit,” kata Baba.

“Ga ada yang bisa jawab nih?” tanya Radya sambil tersenyum. Baba dan Bubu mengangguk pasrah. “Jawabannya adalah…,” Radya pun memberi tahu, “Api!”

“Lho, kok?” tanya Baba. “Iya, kan api kalau diberi makanan akan terus hidup,” Radya menjawab. “Kalau dikasih minum air, malah padam ya, Mas?” Bubu melengkapi. “Iya, Bubu!”

“Wah, hebat!” Baba mengagumi triknya Radya, “Apa teka-teki selanjutnya?” tanya Baba.

Radya membacakan lagi pantunnya, “Jika haus ingin menyusu, mengambil susu dari sapi. Anaknya banyak ibunya satu, jika bersentuh berapi-api.”

“Weleh, ini pantun menyindir Bubu ya?” tanya Bubu mengernyitkan dahi. “Nggak kok Bu,” jawab Radya. “Lah itu, bilangnya ‘anaknya banyak ibunya satu’, kan Bubu anaknya banyak? Lalu ‘jika bersentuh berapi-api, itu apa namanya kalau bukan menyindir Bubu?”

Radya bingung. “Hahaha… ih, si Bubu baperan deh… Orang cuma pantun teka-teki aja dibilang menyindir,” kata Baba mencoba mendamaikan, walaupun Bubu masih terus ‘berapi-api’. “Minum dulu Bu, biar apinya padam, hihihi…, ” goda Baba kemudian bertanya, “Mas, apa jawabannya? Biar Bubumu gak galau tuh.”

Radya menjawab, “Korek api.”

“Tuh kan!” celetuk Baba. “Mengapa bisa begitu, Mas?” Baba bertanya.

“Iya kan, kotak korek api itu ibunya. Batang korek api itu anak-anaknya. Kalau batang korek digesek ke kotak korek di bagian penyala, tentu akan berapi-api, betul kan?” ujar Radya menjelaskan.

Akhirnya Baba, Bubu dan Radya pun tertawa bersama-sama.

@ndi.ep 18011439 – with Citra at Komplek Taman ventura indah

View on Path


%d blogger menyukai ini: