Pantun Radya

“Ba, dengar pantun yang Mas buat nih,” kata Radya suatu hari. Sepertinya, pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah begitu berkesan baginya. “Bagaimana pantunnya?” tanya Baba.

“Adik bermain dengan tali,” Radya memulai bacaan pantunnya. “Kakak baca koran duduk di kursi,” lanjutnya. “Bagaimana hati ini tak geli, kepala botak suka disisiri.”

“Hahahaha,” Baba pun tergelak mendengar pantun yang dibacakan oleh Radya. “Ada pantun apa lagi, Mas?” tanya Baba memancing.

“Ini pantun teka-teki. Baba harus bisa jawab ya?” Radya memulai tantangannya. “Oke,” jawab Baba.

“Berbaju melar, berbadan baja. Bersisik bukan ular, bermahkota bukan raja,” begitu pantun teka-tekinya. “Baba, ayo tebak, apakah itu?”

“Aha, Baba tahu, pasti buah Nanas. Iya, kan?” jawab Baba sambil terkekeh.

“Baba benar!” sambut Radya gembira, “Mas kasih yang lebih susah ya?”

“Sedang apa kalian?” suara Bubu bergabung, “Sepertinya seru sekali.”

“Bubu, dengar dulu pantun Mas. Kalau bisa menebak, hebat!” kata Radya. Bubu setuju dan mendengarkan.

“Petasan meledup menyenangkan hati. Dikasih makan hidup, dikasih minum mati,” Radya membacakan pantunnya, lalu bertanya, “Siapa bisa menjawab?”

“Wah, apa ya?” Bubu bergumam. “Iya nih, pantun teka-tekinya lebih sulit,” kata Baba.

“Ga ada yang bisa jawab nih?” tanya Radya sambil tersenyum. Baba dan Bubu mengangguk pasrah. “Jawabannya adalah…,” Radya pun memberi tahu, “Api!”

“Lho, kok?” tanya Baba. “Iya, kan api kalau diberi makanan akan terus hidup,” Radya menjawab. “Kalau dikasih minum air, malah padam ya, Mas?” Bubu melengkapi. “Iya, Bubu!”

“Wah, hebat!” Baba mengagumi triknya Radya, “Apa teka-teki selanjutnya?” tanya Baba.

Radya membacakan lagi pantunnya, “Jika haus ingin menyusu, mengambil susu dari sapi. Anaknya banyak ibunya satu, jika bersentuh berapi-api.”

“Weleh, ini pantun menyindir Bubu ya?” tanya Bubu mengernyitkan dahi. “Nggak kok Bu,” jawab Radya. “Lah itu, bilangnya ‘anaknya banyak ibunya satu’, kan Bubu anaknya banyak? Lalu ‘jika bersentuh berapi-api, itu apa namanya kalau bukan menyindir Bubu?”

Radya bingung. “Hahaha… ih, si Bubu baperan deh… Orang cuma pantun teka-teki aja dibilang menyindir,” kata Baba mencoba mendamaikan, walaupun Bubu masih terus ‘berapi-api’. “Minum dulu Bu, biar apinya padam, hihihi…, ” goda Baba kemudian bertanya, “Mas, apa jawabannya? Biar Bubumu gak galau tuh.”

Radya menjawab, “Korek api.”

“Tuh kan!” celetuk Baba. “Mengapa bisa begitu, Mas?” Baba bertanya.

“Iya kan, kotak korek api itu ibunya. Batang korek api itu anak-anaknya. Kalau batang korek digesek ke kotak korek di bagian penyala, tentu akan berapi-api, betul kan?” ujar Radya menjelaskan.

Akhirnya Baba, Bubu dan Radya pun tertawa bersama-sama.

@ndi.ep 18011439 – with Citra at Komplek Taman ventura indah

View on Path

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: