Awan muntah pelangi

24 April, 2018

Pada suatu hari, ada dua anak kampung keluar dari rumah mereka. Dua anak perempuan, kakak beradik, sang kakak bernama Syafa sedangkan si adik bernama Syifa. Mereka melihat sesuatu yang belum pernah dilihat di kampung mereka. Saat mendekat, mereka melihat pemandangan menakjubkan : awan yang memuntahkan pelangi.

Ketika itu, dunia belum memiliki warna, kedua anak itu kebingungan untuk mewarnai dunia dengan apa. Akan tetapi pelangi datang tiba-tiba dan mewarnai dunia mereka. Maka merekapun meraih mangkuk dan mengambil beberapa cidukan pelangi dari awan tersebut.

Sesampainya di rumah, mereka menceritakan hal tersebut kepada ibu dan nenek. Ibu bingung terhadap cerita itu tetapi nenek mempercayainya. Anak-anak itu membawa mangkuk berisi pelangi ke tempat mandi kemudian mandi dengan sabun dari pelangi.

Keajaiban terjadi, secara tiba-tiba merasa sudah berada di tempat yang penuh warna-warni. Kemudian Syafa dan Syifa menamai warna-warna itu dengan merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Mereka pun amat berbahagia. Tamat.

Karya: Tsuraya
Editor: Baba Kaulan

Depok, 01 Des 2017

Iklan

Cinta biasa

4 Juli, 2017

Tak selalu jalan tol itu bebas hambatan,  sebagaimana jalan biasa tak selalu lancar. 

Hanyalah banyak jalur yang dapat ditempuh di jalan biasa, daripada satu-satunya pintu tol sebagai tempat keluar.

Begitu pula aku padamu cinta yang biasa, agar kita punya banyak cerita, daripada alur kisah yang mudah ditebak pada cinta yang tak biasa. 

@ndi, 10101438

– with Citra

View on Path


Sepohon kayu

3 Juli, 2017

Sepohon kayu daunnya rimbun, lebat bunganya serta buahnya. Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya.

Kami bekerja sehari-hari, untuk belanja rumah sendiri. Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya. 

Kami sembahyang fardu sembahyang, sunahpun ada bukan sembarang. Supaya Allah menjadi sayang, kami bekerja hatilah riang. 

Kami sembahyang lima lah waktu, siang dan malam sudahlah tentu. Hidup di kubur yatim piatu, tinggallah seorang dipukul dipalu. 

Dipukul dipalu sehari-hari, barulah ia sadarkan diri. Hidup di dunia tiada bererti, akhirat di sana amatlah rugi. 

Sepohon kayu daunnya rimbun, lebat bunganya serta buahnya. Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya.
@nadamurni


pulang

10 Februari, 2017

​kamu bisa aja bilang: “sungai manapun yg kita pilih semuanya bermuara ke samudera, begitupula jalan hidup kita semua berpulang kepada Tuhan.”

namun perlu kukatakan kepadamu, karena aku sayang kamu: “manakah yang kau pilih, berpulang yang disambut sepenuh keridaan-Nya ataukah kemurkaan-Nya?”

@ndi, 13051438


pelangi

1 Februari, 2017

​bagaimanakah engkau mengharapkan pelangi hadir di matamu, sehabis hujan menderamu, setelah terik menerpamu, sedangkan kamu hadapkan wajah ke arah matahari?
@ndi, 04051438


wall ini

17 Januari, 2017

​wall ini begitu menggoda, seperti produk walls, menggoda untuk disentuh, dipegang, dijilat, dilumat, dan ditelan.

wall ini, memancing untuk disentuh perangkatnya, dipegang beritanya, dijilat statusnya, dilumat emosinya, dan ditelan bulat-bulat tanpa rasa bersalah.

wall ini begitu menggoda,untuk menyentuh emosi, memegang perasaan yang liar, menjilati keinginan untuk baca dan bagi, melumatkan benci dan cinta, dan menelan pahitnya akibat dari status yang dibuat.

wall ini selalu mengajak untuk menyentuh umpan berita, memegang layar, menjilati laman demi laman, melumati kabar demi kabar, dan menelan semua yang terhidang

wall ini …

@ndi, 18041438


Karena

22 Desember, 2016

​karena, tak satupun yang rela keyakinannya diserang secara frontal, dinista secara terang-terangan, dibunuh secara sadis.

karena, tak seorangpun yang sanggup meyakini tanpa adanya bukti, sanggup menjalani tanpa tuntunan, sanggup melihat tanpa cahaya.

karena, tak sekalipun kita mampu berdiri tanpa bantuan orang lain, mampu bergerak tanpa pertolongan orang lain, mampu hidup tanpa ada orang lain.

karena, adanya orang lain maka adanya kita, adanya sesama maka adanya kenal mengenal, adanya kebutuhan maka adanya bantu membantu.

karena, soal keyakinan adalah soal penerimaan, sedangkan soal toleransi adalah soal pemberian, adapun menerima dan memberi itu tidak dapat dipaksakan.

@ndi, 22031438


%d blogger menyukai ini: