pulang

10 Februari, 2017

​kamu bisa aja bilang: “sungai manapun yg kita pilih semuanya bermuara ke samudera, begitupula jalan hidup kita semua berpulang kepada Tuhan.”

namun perlu kukatakan kepadamu, karena aku sayang kamu: “manakah yang kau pilih, berpulang yang disambut sepenuh keridaan-Nya ataukah kemurkaan-Nya?”

@ndi, 13051438


pelangi

1 Februari, 2017

​bagaimanakah engkau mengharapkan pelangi hadir di matamu, sehabis hujan menderamu, setelah terik menerpamu, sedangkan kamu hadapkan wajah ke arah matahari?
@ndi, 04051438


wall ini

17 Januari, 2017

​wall ini begitu menggoda, seperti produk walls, menggoda untuk disentuh, dipegang, dijilat, dilumat, dan ditelan.

wall ini, memancing untuk disentuh perangkatnya, dipegang beritanya, dijilat statusnya, dilumat emosinya, dan ditelan bulat-bulat tanpa rasa bersalah.

wall ini begitu menggoda,untuk menyentuh emosi, memegang perasaan yang liar, menjilati keinginan untuk baca dan bagi, melumatkan benci dan cinta, dan menelan pahitnya akibat dari status yang dibuat.

wall ini selalu mengajak untuk menyentuh umpan berita, memegang layar, menjilati laman demi laman, melumati kabar demi kabar, dan menelan semua yang terhidang

wall ini …

@ndi, 18041438


Karena

22 Desember, 2016

​karena, tak satupun yang rela keyakinannya diserang secara frontal, dinista secara terang-terangan, dibunuh secara sadis.

karena, tak seorangpun yang sanggup meyakini tanpa adanya bukti, sanggup menjalani tanpa tuntunan, sanggup melihat tanpa cahaya.

karena, tak sekalipun kita mampu berdiri tanpa bantuan orang lain, mampu bergerak tanpa pertolongan orang lain, mampu hidup tanpa ada orang lain.

karena, adanya orang lain maka adanya kita, adanya sesama maka adanya kenal mengenal, adanya kebutuhan maka adanya bantu membantu.

karena, soal keyakinan adalah soal penerimaan, sedangkan soal toleransi adalah soal pemberian, adapun menerima dan memberi itu tidak dapat dipaksakan.

@ndi, 22031438


Tiba-tiba

25 November, 2016

​tiba-tiba banyak yang jadi ahli sejarah untuk menampik opini ahli agama

tiba-tiba banyak yang jadi ahli politik untuk menandingi aksi politisi

tiba-tiba banyak yang jadi ahli ekonomi untuk membalik analisis para ekonom

tiba-tiba banyak yang jadi penceramah untuk menjegal langkah para penuntut ilmu
tiba-tiba semua sunyi, lalu terdengar ledakan, orang-orang berlarian, kesana kemari, bertabrakan

saya memejamkan mata, sekilas hening, tercium bau anyir, dan ketika mencoba untuk melek, yang terlihat 
mayat-mayat bergelimpangan, dimana-mana. lalu kemanakah mereka yang tadinya tiba-tiba tadi?
@ndi, 25021438


baju

27 September, 2016

​Baju, adalah yg membedakan manusia dengan binatang. Baju menjadikan penyandangnya bermartabat. Baju menunjukkan derajat manusia di antara manusia lainnya. Baju bisa juga berarti wajah kita di hadapan manusia, gaya hidup, agama, dan pilihan politik kita.

@ndi, 26092016

al-Imam asy-Sya’bi mengatakan

ﻗﺼﺔ ﻳﻮﺳﻒ ﻓﻲ ﻗﻤﻴﺼﻪ

“Kisah Nabi Yusuf ada pada bajunya.” (Fa bi Hudahum, hlm. 200)

Al-Mawardi mengatakan,

ﺃَﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘَﻤِﻴﺺِ ﺛَﻠَﺎﺙَ ﺁﻳَﺎﺕٍ : ﺣِﻴﻦَ ﺟَﺎﺀُﻭﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺪَﻡٍ ﻛَﺬِﺏٍ، ﻭَﺣِﻴﻦَ ﻗُﺪَّ ﻗَﻤِﻴﺼُﻪُ ﻣِﻦْ ﺩُﺑُﺮٍ، ﻭَﺣِﻴﻦَ ﺃُﻟْﻘِﻲَ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻪِ ﺃَﺑِﻴﻪِ ﻓﺎﺭﺗﺪ ﺑﺼﻴﺮﺍ

Tentang baju gamis, ada 3 ayat, [1] ayat tentang kedatangan saudara Yusuf menghadap Ya’qub dengan darah dusta. [2] ayat tentang baju gamis Yusuf yang koyak di belakang. [3] ayat yang menceritakan baju Yusuf ketika dilemparkan ke ayahnya, kemudian penglihatannya kembali normal.

(Tafsir al-Qurthubi, 9/149)


Tentang adab

23 September, 2016

“Manifestasi eksternal keadilan dalam kehidupan dan masyarakat tidak lain adalah keberadaan adab di dalamnya. Saya menggunakan konsep (makna) dari adab di sini menurut arti awal istilah, sebelum adanya inovasi dari para ahli bahasa yang jenius. 

Adab dalam arti dasar asli adalah mengundang untuk perjamuan. Ide perjamuan menyiratkan bahwa tuan rumah adalah orang terhormat dan terpandang, dan banyaknya orang yang hadir; bahwa orang-orang yang hadir adalah mereka yang menurut perkiraan tuan rumah layak menerima undangan kehormatan, dan karena itu mereka adalah orang-orang dari berbudi pekerti luhur dan berpendidikan sehingga diharapkan untuk berperilaku sebagaimana layaknya keadaan mereka, dalam ucapan, perilaku dan etiket.

Dalam arti yang sama bahwa makanan akan dihidangkan menurut aturan tata boga yang halus, tata cara dan etiket, begitu juga berpengetahuan untuk memuji dan menikmati, dan mengambil dengan cara etis sebagaimana layaknya sifat mulia. Dan ini adalah alasan mengapa kita mengatakan adanya analogi antara makanan dan kehidupan jiwa. 
Dalam kebajikan, adab juga berarti untuk mendisiplinkan pikiran dan jiwa; yaitu akuisisi kualitas yang baik dan atribut dari pikiran dan jiwa; yaitu untuk melakukan hal yang benar sebagai lawan dari tindakan yang keliru, hal yang benar sebagai lawannya salah; yaitu untuk menjaga dirinya dari aib.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme (p.149-150)


%d blogger menyukai ini: