Demi apa

11 Maret, 2016

Demi timesheet, kita rela disiplin masuk kantor dan taat jam kerja. Demi merit increase, kita rela lebih produktif mengejar KPI. Prestasi dunia yang bakalan ditinggal.

Apakah kita juga dengan sukarela, untuk disiplin menuntut ilmu agama, taat salat di awal waktu, dan produktif beramal kebajikan? Demi akhirat yang lebih kekal?

@ndi, 11032016

Iklan

Kalau berutang jangan pelit

8 Desember, 2015

Motivasi orang berutang (debitur) bukan melulu untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan saja. Sebagian besar debitur berutang untuk memenuhi standar hidupnya (utang konsumtif). Sebagian lagi untuk modal usaha (utang produktif).

Sayangnya, tidak sedikit di antara debitur itu adalah orang yang pelit dan tidak amanah dalam utangnya. Di antara indikasinya adalah:

1. Menunda pelunasan utang padahal sudah punya uang, dengan alasan masih jauh masa jatuh tempo, atau mencari-cari alasan lainnya.

2. Membuat akad utang sebagai pinjaman padahal uangnya digunakan sebagai modal usaha, tidak mau memberi bagi hasil.

3. Mengejar-ngejar ketika meminjam, tetapi selalu menghindari tatap muka ataupun tegur sapa ketika belum bisa membayar utangnya.

Padahal sangat berat ancaman perdata dan konsekuensi moral yang akan dipikul debitur. Bahkan, proses pemakaman mayat seorang berutang pun terhalang jika tidak ada solusi jaminan pelunasan utangnya.

Orang yang jujur dengan utangnya, dan tidak pelit tentu akan dimudahkan urusannya. Bisa jadi kreditur akan senang memberikan piutangnya lagi, bahkan mungkin saja membebaskan utang.


Personal loan

30 September, 2015

image

Ponsel saya berbunyi, terdengar suara perempuan menyapa nama saya, katanya saya terundang untuk memperoleh fasilitas personal loan sebesar maksimum sekian kali dari limit kartu kredit saya, dengan kemudahan tanpa survei dan cicilan rendah serta diskon biaya provisi.

“Personal loan? Maksudnya saya disuruh berutang, begitu?” tanya saya memotong.

“Ya, Bapak. Masak saya harus bilang utang. Kasar banget dong,” tukasnya, lalu ia melanjutkan, “maksudnya, Bapak dapat memanfaatkan dana untuk keperluan apapun.”

“Jadi kalau saya pinjam katakanlah seratus juta. Berapa besaran yang harus saya kembalikan?” saya bertanya lagi.

“Itu tergantung kepada tenor pengembalian yang Bapak kehendaki,” jawabnya.

“Apakah kalau saya pinjam seratus juta, saya harus mengembalikan seratus juta juga atau lebih?” saya mengonfirmasi.

Dia menjawab, “Ya tentu saja lebih dong, Pak.”

“Kok, bisa lebih?” tanya saya.

“Kan, pakai bunga, Pak. Eh, tapi tawaran kami bunganya rendah, lho, Pak. Hanya 1,5% saja, …” jawabnya sambil terus memberikan argumen mengapa saya perlu mengambil personal loan tersebut.

Saya bertanya, “Mbak, kelebihan bayar atau bunga itu, riba, bukan begitu?”

“Riba?” dia terkejut. “Iya, riba, menurut mbak, riba itu berpahala atau tidak?” tanya saya.

“Eh, riba itu. Ya jangan pandang negatifnya dulu, Pak. Kan, Bapak bisa memanfaatkan dana itu untuk berbuat kebaikan, jadi Bapak pun dapat pahala,” jelasnya.

Cerdas! Kata saya dalam hati. Saya bertanya lagi, “Maaf, Mbak seorang muslimah?”

“Bukan, Pak,” jawabnya.

“Baiklah, apapun agama Anda, saya yakin riba itu tidak dibenarkan, bukan begitu?” tanya saya.

“Iya, Pak. Tapi kan, kalau dananya Bapak manfaatkan untuk kebaikan, masak tidak berpahala?” ia menyangsikan kata-katanya sendiri.

“Mbak tentu tahu kisah Robin Hood,” kata saya, “Dia mengambil harta dengan merampok lalu disedekahkan kepada fakir miskin. Apakah dia telah berbuat baik?”

Dia balik bertanya, “Tapi kan, ini pinjaman, Pak. Bukan merampok?”

“Jika Anda punya bibit yang baik, lalu ditanam di tanah yang buruk, gersang, tidak bernutrisi. Akankah, bibit itu tumbuh dan menjadi pohon yang baik, berbuah baik?” saya buat perumpamaan.

“Tentu saja tidak, Pak,” jawabnya.

“Nah, Mbak. Saya tidak mau jadi Robin Hood. Saya juga tidak mau bibit kebaikan saya sia-sia karena menggunakan dana yang berhubungan dengan riba,” kata saya.

“Kalau begitu, bagaimana saya bisa membantu Bapak untuk memanfaatkan personal loan ini?” marketingnya terus jalan.

“Kalau saya pinjam seratus dan saya hanya berkewajiban mengembalikan seratus saja, tanpa ada biaya atau kelebihan,” saya menegaskan.

“Wah, kalau begitu, semua perbankan tidak bisa, dong, Pak?” tanyanya.

“Ada yang bisa tidak, Mbak? Kalau ada saya boleh coba tuh,” tanya saya.

“Sayangnya tidak ada. Oke deh, Pak. Terima kasih, mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, dan selamat siang,” katanya menutup pembicaraan.

@nd, 300915


tentang KTA

11 September, 2015

Nomor telepon muncul tanpa nama di layar ponsel, ketika diangkat terdengarlah suara perempuan (P) di seberang.

P: “Halo, selamat siang.”

Saya (S): “Selamat siang.”

P: “Pak Eka, saya P dari DBS.”

S: “Oh iya mba P, ada apa ya?”

P: “Bapak sudah dapat penawaran KTA?”

S: “KTA apa itu mbak?”

P: “Kredit tanpa agunan, Pak.”

S: “Oh, pinjaman tunai ya, Mbak?”

P: “Iya, Pak. Kami menawarkan KTA yang cukup ringan bagi Bapak untuk mencicil.”

Biasanya saya langsung tutup atau menolak jika mendapat penawaran kredit semacam ini. Tapi kali ini saya coba sebuah test case.

S: “Mbak, kreditnya bebas riba, tidak?”

P: “Riba? Eh, itu bukannya syariah ya, Pak?”

S: “Mbak tahu riba?”

P: “Ya, tahu lah, Pak. Saya kan muslim.”

S: “Nah, karena mbak seorang muslimah. Saya bertanya apakah KTA yang mbak tawarkan itu bebas riba?”

P: “Maksud Bapak?”

S: “Menurut mbak, riba itu apa?”

P: “Riba itu kan bunga, kan Pak? Wah, kalau KTA, ya pakai bunga, Pak.”

S: “Kreditnya pakai bunga? Jadi menurut mbak, sebagai seorang muslimah, bagaimana?”

P: (terdiam sejenak)
Lalu komunikasi telepon pun ditutup.

***


Tentang rezeki

9 September, 2015

Nak, kamu harus tahu. Bahwa Allah itu Mahaadil. Dia lah yang menjamin rezeki kita.

Kalau ada orang yang mengambil rezeki kita tanpa hak, kita harus yakin:

bahwa Allah akan mengembalikannya kepada kita. Dengan cara-Nya sendiri.

Allah juga yang akan mengadili orang itu, dengan cara-Nya.

Kita gak perlu tahu dan bertanya-tanya, bagaimana Allah bekerja untuk itu.

Yang patut jadi pertanyaan adalah, apakah kita sudah memenuhi hak-hak Allah, sehingga Dia berkenan mengadili dan mengembalikan hak kita?

@nd, 09092015


mengubah nasib

21 Agustus, 2015

image

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya”. Kalimat ini seringkali dijadikan oleh para motivator usaha dalam membakar semangat peserta pelatihan.

Kemudian para peserta itupun banting tulang siang dan malam demi mengejar impian mereka untuk mengubah nasib menjadi lebih baik.

Eh, tunggu dulu. Nasib?

Kalau dibaca ayat yang dijadikan dalil tentang perubahan nasib ini, yaitu QS 13:11 (quran.com/13/11) justru tidak bicara tentang nasib. Ah, masa?

Ayat itu bicara tentang kondisi atau keadaan. Secara default Allah telah membuat manusia dalam kondisi yang paling baik dan berkelengkapan.

Coba tengok QS 95:4-5 (quran.com/95/4-5). Kemudian manusia menyalahgunakan kelengkapan itu, sehingga dikembalikan ke tempat yang paling rendah.

Kita harus merekonstruksi pemahaman ayat QS 13:11 menjadi:

Allah tidak akan mengubah kondisi yang ada pada suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka (memperburuk keadaannya).

Buruknya keadaan disebabkan oleh perbuatan dosa dan kerusakan yang dilakukan oleh manusia, menjadikan kebaikan yang telah Allah berikan pun hilang.

Kok bisa begitu? Waduh.
Selama ini kita salah kaprah dalam memaknai ayat itu, dong?

Lalu, bicara tentang nasib, bagaimana caranya mengubahnya menjadi lebih baik?

Bukankah Allah telah menjanjikan kepada orang yang bersyukur atas nikmat yang diberikan dengan tambahan karunia, sebagaimana Dia mengancam orang yang mengingkari nikmat dengan azab yang pedih?

Iya?

Nah, kalau kita mau mengubah nasib,  maka langkah awal adalah dengan bersyukur.

Alhamdulillah, begitu?

Bersyukur itu progresif bukan pasif.

Kondisi default adalah modal awal. Bagaimanapun mesti disyukuri. Inilah yang disebut dengan, “bersyukur dengan apa yang ada”.

Langkah berikutnya adalah mengoptimalkan modal awal tersebut, potensi dan asetnya, serta kelengkapan yang telah Allah berikan.

Dengan demikian bersyukur akan mendatangkan sebab sehingga Allah menambahkan nikmat kepadanya.

Langkah selanjutnya, tetaplah bersyukur. Yaitu mengakui bahwa kemampuan kita dalam mempergunakan nikmat Allah sejatinya adalah kehendak Allah juga.

Kalau tidak, ingatlah akan azab Allah yang pedih. Silakan lihat kisah pemilik dua kebun yang disebut pada QS 18:32-44 (quran.com/18/42-44).

Maka untuk mengubah nasib, kita mesti banyak bersyukur. Sebaik-baik ungkapan syukur adalah menjaga hak-hak Allah untuk diibadahi tanpa mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun.


Doa supaya dapat membayar utang

14 April, 2015

41.

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكِ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan segala perkara yang telah Engkau halalkan daripada segala perkara yang telah Engkau haramkan. Kayakanlah aku dengan kelebihan Engkau daripada meminta kepada orang lain.

At-Tirmizi 5/560.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعْوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالْحَزَنِ، والعَجْزِ والكَسَلِ، والبُخْلِ والجُبْنِ، وضَلْعِ الدَّيْنِ وغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Ya Allah, aku berlindung denganMu dari ditimpa kesusahan dan kedukaan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kedekut dan perasaan takut dan dari desakan utang dan paksaan orang.

Al-Bukhari 7/158.

#hisnulmuslim

View on Path


%d blogger menyukai ini: