100 hari lagi

17 Februari, 2017

Mari bersiap-siap menyambut sang tamu agung!


lemari buku

14 November, 2016

“Sebaik-baik teman duduk adalah buku”, begitu kiranya pepatah arab mengatakan. Alhamdulillah buku-buku bermanfaat yang berada di rak buku saya telah mendampingi saya dalam memelajari agama Islam, baik melalui majelis taklim, siaran radio, maupun siaran dalam jaringan. Buku-buku itu telah hadir melengkapi hari-hari saya dengan ilmu.

Menjadi kebahagiaan kiranya jika ilmu itu bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang-orang di sekitar kita.

Atas kemudahan dari Allah, melalui blog almarikitab.wordpress.com saya membagikan halaman demi halaman buku-buku yang saya baca kepada Anda yang berminat untuk memelajari Islam dari hal-hal yang mendasar.


menikah

17 Oktober, 2016


Bismillah.

Di antara pintu rezeki adalah menikah. Disinggung dalam beberapa ayat dan hadits bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. 3 orang yg dijamin rezekinya adalah budak yg membebaskan dirinya sendiri, orang yg berjihad di jalan Allah, dan orang yg menikah.

Menikah adalah ritual agama yg menyatukan dua jenis anak adam (laki2 dan perempuan), melampiaskan kebutuhan biologis secara halal, menyatukan dua keluarga. 

Kita disebut sedang salat ketika sedang menjalani ritual salat, selama salat itu pula semua yg kita lakukan bernilai ibadah. Kita disebut berpuasa ketika menahan makan minum dan jimak sejak fajar hingga magrib, selama puasa itu pula yg kita lakukan bernilai ibadah. Begitupula menikah, selama masih bersama istri dan belum bercerai (baik ditinggal hidup maupun mati) maka selama menjalani pernikahan akan selalu bernilai ibadah.

Menikah itu antara laki2 dan perempuan, bukan laki2 dg laki2 atau perempuan dg perempuan.

Menikah melampiaskan hajat biologis secara halal. Dalam hadits disebutkan jika menaruh kemaluan di tempat yg haram (zina) mendapat dosa, maka menaruhnya di tempat yg halal akan mendapat pahala. Pahala menikah yg kadarnya sebanding besarnya dengan besarnya dosa zina.

Menikah juga menyatukan dua keluarga. Maka itu tidak boleh seorang suami melarang istrinya berbakti kpd ortunya atau berbuat baik kpd kerabatnya. Begitupula tidak boleh seorang istri menjadi penyebab suami durhaka kpd ortunya. 

Karena pernikahan adalah sebuah bahtera ibadah yg besar, maka perbaiki niat kita menikah menjadi niat ibadah.

Menikah menggenapi setengah agama. Dengan menikah dan menjalani pernikahan, seseorang sdh memiliki bekal setengah agama, shg kalaupun dia tidak melakukan ibadah sunnah lainnya kecuali menikah itu sudah mencukupi. 

Wallahu a’lam.

Disarikan dari pengajian Ust. Khalid Basalamah di Majelis Taklim Wisma Mulia, Jakarta, 17 Oktober 2016.

@ndi, 16011438


demi Allah

17 Oktober, 2016

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ رَأَى عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَجُلاً يَسْرِقُ فَقَالَ لَهُ عِيسَى سَرَقْتَ قَالَ كَلاَّ وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ ‏.‏ فَقَالَ عِيسَى آمَنْتُ بِاللَّهِ وَكَذَّبْتُ نَفْسِي ‏”‏ ‏.‏

Abu Hurairah radiyallahu anhu menceritakan hadits dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, di antaranya adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: Isa bin Maryam melihat seorang laki-laki mencuri, lalu Isa berkata kepada orang tersebut: “Kamu mencuri.” Orang itu berkata: “Bahkan tidak, demi Tuhan yang tidak ada sesembahan selain Dia, (saya tidak mencuri).” Maka Isa berkata: “Aku beriman kepada Allah dan aku mendustakan diriku sendiri.”
(HR. Muslim)

http://sunnah.com/muslim/43/195


investasi ilmu dan amal

23 September, 2016

Hadits ketiga yang tercantum pada arbain nawawi diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khattab, yang menyatakan bahwa Islam dibina di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah, penegakkan salat, penunaian zakat, pergi haji ke baitullah, dan puasa ramadan.

hadits ini berisi tentang pondasi Islam, tidak cukup dengan mengetahui ketuhanan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, iman itu juga menuntut persaksian bahwa Nabi Muhammad -sallallahu alaihi wasallam- adalah utusan pembawa risalah Tuhan, yang mengajarkan umat tentang ilmu mengenal Allah, hak dan kewajiban yang ada di antara Allah dengan hamba-Nya. pondasi keislaman berikutnya adalah pengamalan, yaitu salat, zakat, haji, dan puasa. ilmu itu akan melahirkan amal sedangkan ilmu adalah jalan keimanan. tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal.

jika hadits pertama dan kedua pada arbain nawawi diriwayatkan dari khalifah Umar bin Al-Khattab, maka hadits ketiga ini diriwayatkan oleh salah seorang anaknya, yaitu Abdullah bin Umar -semoga Allah meridai keduanya. sejarah mencatat bahwa Abdullah bin Umar adalah salah seorang sahabat yang menjadi sumber rujukan ilmu (ulama) bagi umat Islam di masanya. sebagaimana kata pepatah, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. anak-anak yang berdedikasi terhadap ilmu akan lahir dari orang tua yang memiliki komitmen serta pelayanan terhadap ilmu.

ilmu yang bermanfaat adalah investasi yang terus menghasilkan selama masih dimanfaatkan, adapun anak saleh yang mendoakan adalah hasil dari investasi ilmu dari orang tua kepada anak-anaknya. khalifah Umar bin Al-Khattab memahami hal ini dengan sangat baik dan berhasil mengumpulkan hasilnya dari kedua jenis investasi tersebut. maka apakah kita tidak tertarik untuk memulainya? Semoga Allah melimpahkan taufik.

@ndi, 21121437


Hak kuburan

15 September, 2016

​Diceritakan bahwa Ibnul Qayim alJauziyah berkata, “Seandainya ziarah kubur tidak disunahkan, niscaya hak-hak kubur (mendoakan mayat) kita tunaikan di dalam masjid.”


Membaca Al Quran dengan Sanad

6 September, 2016


Sejak kecil kita telah membaca Al Quran, tanpa disadari kita membacanya dengan suatu gaya pembacaan tertentu.

Di Indonesia dan juga di kebanyakan belahan bumi lainnya, gaya pembacaan yang masyhur adalah Riwayat Hafsh dari Qiraat Ashim melalui jalur Imam Asy Syathibi (w. 590 H).

Jika ditarik ke atas dari Imam Ashim, beliau mendapat dari tabii Abu Abdurrahman As Sulami, dari para sahabat yang menguasai 7 Qiraat seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud radiyallahu anhum, dari Rasulullah Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, dari malaikat Jibril alaihi salam, dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Imam Asy Syathibi sendiri telah menguasai 7 Qiraat, beliau meriwayatkan Al Quran yang sanadnya terkenal (ma’ruf).

Ada beberapa ciri khas pembacaan Riwayat Hafsh dari Qiraat Ashim melalui jalur Imam Asy Syathibi, di antaranya adalah:

1. Mad jaiz munfashil dibaca 4/2 harakat.
2. Mad jaiz muttashil dibaca 4/5 harakat.
3. Huruf hijaiyah نقصعسلكم dibaca 6 harakat, pada huruf ع boleh dibaca 4/6 harakat.
4. Ada tanda saktah pada 6 tempat yaitu jika disambung kalimatnya harus berhenti tanpa mengambil nafas selama 1 harakat.
5. Membaca panjang kata “fihii” pada ayat QS 25: 69
6. Membaca dhommah kata “alaihu” pada ayat QS 48: 10
7. Mad lazim dibaca 6 harakat

Masih banyak aturan pembacaan Al Quran pada riwayat ini, yang tentu saja seorang pembaca Al Quran harus mempelajarinya untuk memperoleh faedah.

Para ulama tidak menyarankan, seorang pembaca berpindah-pindah dari satu qiraat ke qiraat lainnya atau mencampur aduk gaya (riwayat) pembacaan Al Quran, demi menjaga sanad.

Wallahu a’lam.


7. AGAMA ADALAH NASIHAT

5 September, 2016

عن أبي تميم بن أوس الـداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال : لله ولرسوله وللأئمة المسلمين و عامتهم

Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu ‘anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”

[Muslim no. 55]

Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahasa arab tentang kata Al Fallaah yang tidak memiliki padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.

Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.

Tentang penafsiran kata nasihat dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lain mengatakan:
1. Nasihat untuk Allah à maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. 

Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun”.

2. Nasihat untuk kitab-Nya à maksudnya beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada Rasul-Nya, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun, kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkan dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hukum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan mengimani Kitabullah.

3. Nasihat untuk Rasul-Nya maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun setelah wafat, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati hak-haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmunya dan mengajak manusia pada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.

4. Nasihat untuk para pemimpin umat islam maksudnya menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahu mereka apa yang menjadi hak kaum muslim, tidak melawan mereka dengan senjata, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka (tidak untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya), dan makmum shalat dibelakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.

5. Nasihat untuk seluruh kaum muslim à maksudnya memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat kemungkaran dengan sikap santun, ikhlas dan kasih sayang kepada mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi hak miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana dia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan kepada mereka menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam.

Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. 

Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain. Wallahu a’lam

http://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslimmedia.arbain


ketika angin ribut

2 September, 2016

Angin ribut yang menerbangkan banyak bangunan dan menumbangkan banyak pohon memberikan pelajaran penting, bahwa Allah punya tentara dan manusia tak pantas untuk menyombongkan diri. Bukanlah saatnya untuk mempersalahkan jokowi, ahok atau mukidi. 

Melainkan saat yang tepat untuk refleksi, memperbaiki diri dan berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهاَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

Allaahumma ‘inniy ‘as’aluka khayrahaa, wa ‘a’uudzu bika min syarrihaa.

Ya Allah, aku meminta daripadaMu kebaikannya dan aku berlindung denganMu dari keburukannya.

Ref:Abu Dawud 4/326, Ibn Majah 2/1228.

@ndi, 01092016


Kualitas

14 Juni, 2016

image

Sebuah kalimat terpajang di dinding toko kue kenamaan di Jakarta, bertuliskan

“Quality is never an accident, it is always the result of high intention, sincere effort, intelligent direction and skillful execution.”

Seakan-akan hendak menyampaikan pesan bahwa kue-kue yang disediakan oleh toko tersebut hanyalah yang berkualitas dan proses penyajiannya pun berkualitas.

Tentu saja kualitas bukanlah suatu kebetulan, melainkan hasil dari niat yang baik, upaya yang tekun, arahan yang cerdas dan dilakukan secara mumpuni.

Dalam kehidupan manusia, kualitas adalah sesuatu yang dituntut untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain. Begitu juga dengan ibadah, seorang hamba akan memperoleh pahala dari Allah hanya jika ibadahnya berkualitas.

Yaitu ibadah yang diniatkan ikhlas sebagai persembahan kepada Allah, secara tekun dan bersungguh-sungguh, mengikuti contoh atau perintah dari Rasulullah s.a.w. serta dikerjakan dengan pengetahuan dan keahlian.


%d blogger menyukai ini: