Awan muntah pelangi

24 April, 2018

Pada suatu hari, ada dua anak kampung keluar dari rumah mereka. Dua anak perempuan, kakak beradik, sang kakak bernama Syafa sedangkan si adik bernama Syifa. Mereka melihat sesuatu yang belum pernah dilihat di kampung mereka. Saat mendekat, mereka melihat pemandangan menakjubkan : awan yang memuntahkan pelangi.

Ketika itu, dunia belum memiliki warna, kedua anak itu kebingungan untuk mewarnai dunia dengan apa. Akan tetapi pelangi datang tiba-tiba dan mewarnai dunia mereka. Maka merekapun meraih mangkuk dan mengambil beberapa cidukan pelangi dari awan tersebut.

Sesampainya di rumah, mereka menceritakan hal tersebut kepada ibu dan nenek. Ibu bingung terhadap cerita itu tetapi nenek mempercayainya. Anak-anak itu membawa mangkuk berisi pelangi ke tempat mandi kemudian mandi dengan sabun dari pelangi.

Keajaiban terjadi, secara tiba-tiba merasa sudah berada di tempat yang penuh warna-warni. Kemudian Syafa dan Syifa menamai warna-warna itu dengan merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Mereka pun amat berbahagia. Tamat.

Karya: Tsuraya
Editor: Baba Kaulan

Depok, 01 Des 2017

Iklan

Ujian

29 November, 2017

Sayangku, kita tak akan pernah bisa tenang dan puas dengan terus menerus mengingat kesalahan orang lain dan menuntut hak-hak kita. Itu justru membikin kita makin sakit hati. Makin sengsara dengan harapan yang tak kunjung tiba. Makin putus asa dari kasih sayang.

Cukuplah nasihat Tuhan bagi kita sebagai pedoman: “ingatlah bahwa hanya dengan mengingat Aku, hati menjadi tenteram.”

“jika kamu bersyukur, Aku pasti menambah nikmat kepadamu. Jika kamu mengingkari, sungguh azab dari-Ku amatlah pedih.”

Setiap kita adalah ujian bagi yang lainnya. Bersyukurlah supaya kita diberikan kemudahan menghadapi ujian. Bersabarlah supaya Allah membalasnya tanpa berbatas.

@ndi.ep 12031439


Menjadi fanatik

16 November, 2017

kita menjadi fanatik …

karena kita meyakini kebenaran hanyalah pada apa yang ada di sisi kita.

karena kita diberitahu tidak ada yang lain yang membawa kebenaran kecuali yang telah mengajarkannya kepada kita.

karena kita tidak mau mengetahui adanya kebenaran yang berada di luar sisi kita.

karena kita masih bodoh dan malas menuntut ilmu serta malas mengamalkan.

karena kita merasa cukup dan terlalu takut untuk belajar, sebagai justifikasi keengganan kita.

karena kita berputus asa dengan ketidaksempurnaan yang manusiawi.

karena kita terlalu berbaik sangka pada diri sendiri dan tidak mampu untuk tidak berburuk sangka kepada orang lain.

@nd, 16112015, 21:21


%d blogger menyukai ini: