Tadarusan

5 Juni, 2017

Salah satu kegiatan rutin di malam-malam bulan Ramadan selain salat tarawih adalah tadarusan, mendaras kitab suci. Dilakukan dalam rangka mengagungkan bulan Ramadan, bulan diturunkannya Alquran.

Bentuk tadarusan ada yang berjamaah dan ada yang bersendirian. Yang berjamaah pun ada yang bersama-sama membaca, ada yang bergantian sambil menyimak, ada yang membagi halaman untuk dibaca masing-masing.

Cetakan mushaf yang dibaca pun beraneka ragam. Ada yang membawa cetakan timur tengah, ada pula yang cetakan Indonesia. Ada yang Quran pojok, ada pula yang sambung. Ada yang full Alquran, ada pula yang dengan terjemahan bahkan tafsir. Semuanya sudah ditashih oleh lembaga yang berwenang. 

Untuk Quran pojok dengan rasm standar Utsmani, pun berbeda-beda. Ada yang monochrom ada yang berwarna sebagai penanda tajwid. Untuk yang monochrom,  tajwid dibedakan oleh bentuk tanda baca. Namun ada pula yang tidak dibedakan sehingga perlu menguasai ilmu tajwid terlebih dahulu. 

Qiraat yang diwariskan kepada jamaah kebanyakannya sama, mengambil riwayat mutawatir Imam Hafsh dari Imam Ashim menurut jalur Imam Syathibi. Barangkali di level tadarusan yang lebih tinggi, bisa saja dari bermacam jalur hingga sepuluh qiraat. 

Dari tadarusan saja kita belajar pluralitas, keanekaragaman bentuk mushaf dan bacaan. Sehingga tidak bisa mengklaim kebenaran secara sepihak. Juga belajar toleransi terhadap yang masih belajar membacanya terbata-bata, dan sabar bagi yang sudah mahir untuk mengajarkan.

Benarlah sabda Nabi _shallallahu alaihi wasallam_ bahwa orang yang terbaik adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya. 

@ndi, 10091438
View on Path


Wanita pilihan Bung Karno

2 Juni, 2017

#pancasila #pekanpancasila

“Saya lebih menyukai wanita kolot yang setia menjaga suaminya dan senatiasa mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai wanita Amerika dari generasi baru, yang saya dengar menyuruh suaminya mencuci piring,” kata Soekarno kepada Fatmawati.

“Saya menyukai perempuan yang merasa bahagia dengan anak banyak. Saya sangat mencintai anak-anak,” katanya.

***

[Bung Karno Masa Muda]

Bung Karno menikahi Fatmawati pada 1 Juni 1943.

View on Path


Dedikasi

31 Mei, 2017

“Sampai-sampai anak saya bingung, kapan saya bekerja?” cerita si bapak. 

“Ketika saya tanya kenapa, dia jawab: ‘Papa pergi sebelum adek bangun, dan ketika adek tidur papa belum pulang. Tapi setiap akhir pekan, papa bawa kerjaan kantor ke rumah.'” Beliau melanjutkan ceritanya. 

“Saya katakan pada anak saya: Papa minta maaf ya dek, kalau kurang waktu bersama anak-anak Papa. Karena Papa bekerja untuk negara, demi kepentingan republik ini.” Si bapak pun menitikkan air mata. 

Betapa mengharukannya cerita si bapak, membuat saya teringat keluarga di rumah. Saya pun beranjak dari tempat duduk saya, meninggalkan orang-orang yang berdedikasi tinggi itu kemudian pulang dan membeli nasi bakar kesukaan anak lanang saya untuk berbuka puasa di rumah. 

@ndi, 05091438
at Wisma Mulia

See on Path


Warisan

29 Mei, 2017

*28:83*
Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.

_03091438_

#pencarisurga

View on Path


(Tanpa nasi) 

20 Mei, 2017

“Mana nasinya?” tanya bulik. Saya jawab, “Gak perlu pakai nasi, cukup sayur dan lauk saja.”
#supper #lodeh #protein #oseng #daging

View on Path


Khutbah jumat

19 Mei, 2017

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (7: 96)
at Jakarta Convention Center

See on Path


Sejarah 

15 Mei, 2017

Pelajarilah sejarah, nak. Ambillah pelajaran dari orang-orang terdahulu. 
Yaitu dengan melanjutkan kebaikan-kebaikan mereka dan menghindari kekeliruan-kekeliruan mereka.
@ndi, 140517

View on Path


%d blogger menyukai ini: