sunatan raka

5 Januari, 2009

angan-angannya nyunatin raka pas 2 tahun… tapi diskusi sama teman lebih baik nyunatin anak ketika baru lahir atau sudah besar sekalian (sebelum baligh), jadilah sunatan raka tertunda sekian lama. belakangan dapat pemberitahuan beberapa anak tetangga disunat karena sulit pipis. dalam kedokteran dikenal istilah fimosis. terhadap bayi baru lahir antara fimosis dengan normal sulit dikenal karena sama-sama tertutup kulup. sekitar 50% anak usia 1-2 tahun dan sekitar 90% anak usia 3 tahun sudah dapat menarik kulupnya sehingga mudah dibersihkan. kalau lewat dari 3 taahun gak bisa, ditambah sulit pipis, kotoran sudah menumpuk dan fimosis harus segera dilakukan tindakan: sunat.

raka masih 2 tahun 7 bulan, masih masuk kategori 10-50% yang kulupnya gak bisa dibuka. dilakukan dilatasi manual selama satu bulan belum berpengaruh. sehingga disarankan dokter untuk disunat. mengingat aktivitas bermainnya tidak mau kami kurangi, kami daftarkan raka di rumahsunatan.com via telepon untuk disunat dengan metode smart klamp, alhamdulillah acara bersunat lancar, walau dengan peluh menahan raka yang berontak ketika disunat. selepas bersunat raka langsung dapat bermain kembali.

hanya saja … jangan sampai lupa meminumkan ibuprofen dan antibiotik sehari 3 kali, atau raka berteriak gigitan semut.
hanya saja … ketika mau pipis atau mandi melihat ada smart klamp diiujungnya, ia menangis dan minta dilepas. terpaksa kami harus buat ia tidak melihat ke bawah dan memakaikan diaper supaya tidak tergesek… 🙂


rakana dah gde

8 Juni, 2008

februari 2008

“bu, tutu”
“eh, raka kan sudah 20 bulan, susu bubu tinggal sedikit”
“tutu bubu, ikit”
“iya, raka tambah minum susu kambing aja ya”
“iyah, tutu ambing”


maret 2008

“susu raka apa?”
“tutu bubu”
“kan susu bubu tinggal sedikit”
“tutu bubu, ikit. rakana num tutu ambing”


april 2008

“bu, tutu ambing”
“iya sebentar, dihangatkan dulu ya”
“tutu bubu anna?”
“susu bubu sudah habis, disimpan buat adik”
“rakana num tutu bubu ajah”
“raka kan sudah besar, sudah mau dua tahun”
“rakana dah gde, tutu bubu aabis”


mei 2008

“bu, num tutu”
“minum su su”
“inum tsu tsu”
“susu apa?”
“tutu ambing”
“kenapa susu kambing? kenapa bukan susu bubu?”
“tan, tutu bubu aabis”

ternyata menyapih raka tidak perlu dibohongi macam-macam 🙂 alhamdulillah.


tapi baba belum pulang

24 April, 2008

sudah isya baba belum pulang, “bu, baba mana? yuk, cari baba.” bubu
bilang, “baba dalam perjalanan pulang.” raka sudah ngantuk, tapi baba
belum pulang. raka digendong bubu. bubu sudah lelah seharian menemani
raka bermain. raka kasihan sama bubu. tapi baba belum pulang.

bubu sudah lelah, raka minta dipangku bubu. “raka tidur di kamar yuk,”
ajak bubu. tapi baba belum pulang raka mau tunggu baba di ruang tamu,
“sini bu, tunggu baba.” dalam pangkuan bubu raka terlelap. baba belum
pulang juga.

raka bangun di kamar tidur. ada bayang baba raka panggil, “ba!”. baba
datang keluar dari kamar mandi. “hee… baba pulang juga!” tapi baba
harus pergi kerja, karena sudah pagi.

[catatan raka, 22042008]


raka kangen

17 April, 2008

raka kangen. sama baba sama bubu. raka tidak kesal lagi. sekarang raka kangen.
mengapa sekarang raka sering ditinggal baba dan bubu? sejak raka
diajak eyang ke rumah saudara tanpa bubu dan baba. sejak bubu bilang
ada adik di perut bubu. sejak semua orang bilang raka gak boleh lagi
minum susu bubu.
kemarin raka kesal tapi sekarang raka menyesal. raka cari hape eyang,
cari hape om, cari hape tante, cari gagang telepon.
halo baba… halo bubu… kapan ke sini?
raka kangen.

[catatan raka, 17042008]


raka kesal!

15 April, 2008

hari ini raka kesal, bangun pagi dan tidak menemukan baba dan bubu di
sisi. karena raka berada di rumah eyang di pondok gede. padahal
semalam raka masih bersama mereka berdua. bahkan baba sendiri yang
mengajak raka naik mobil, padahal baba baru pulang kerja. raka juga
mengajak bubu naik mobil bersama kami.
tapi raka tidak menemukan baba dan bubu di sisi ketika raka bangun
tidur pagi ini. raka mau makan ketan, raka mau main sama eyang kakung,
raka gak mau bicara dengan baba dan bubu apabila mereka menelepon.
Nggak! raka kesal!

[catatan raka, 15042008]


raka dan si burung bulbul

13 Maret, 2008

rencananya ngajak raka dan bubu nonton wayang si bulbul di erasmus huis. raka senang sekali diceritakan bahwa kami akan menonton wayang si bulbul. berangkatlah kami bertiga habis magrib ke erasmus huis di bilangan kuningan, jakarta selatan. pentas wayang si bulbul dikemas dalam bentuk konser kolaborasi antara ensemble kamar musik belanda (DCME) dengan dalang wayang kulit slamet gundono dan narator sitok srengenge. kemasan ini dibuat oleh komposer belanda Theo Loevendie. kisah si bulbul sendiri mengambil kisah HC Andersen yang bercerita tentang burung bulbul (nightingale) dan kaisar cina.

memasuki erasmus huis, penjaga bertanya apakah raka dapat mengikuti konser dengan baik dan tidak ribut? kami jawab, “ya” karena biasanya jam delapan malam adalah waktu tidur raka sehingga dimungkinkan ia akan tertidur saat konser berjalan. sebelum acara dimulai, dibacakan program dengan urutan penampilan musikal: Kutang, Petualangan Ajaib Baron Von Munchhausen, rehat, Si Bulbul. wayang si bulbul berada pada penampilan terakhir.

selama penampilan musikal Kutang, raka dapat dengan tenang mengikuti musik DCME yang memainkan not-not berantakan karya Slamet Abdul Syukur. Selama sepuluh menit itu kami lega karena raka tidak ribut. namun ketika penampilan kedua hendak dimulai, suara kecil raka terdengar nyaring pada auditorium yang senyap: “pulang”

buru-buru baba membawa raka keluar ruangan dan mengajak bicara supaya raka tidak ribut ketika konser. raka menanyakan bubu yang masih berada di dalam ruangan. karena akan mengganggu jalannya konser jika keluar masuk, baba mengajak raka keluar gedung untuk menikmati appletaart dan segelas air mineral.

baba berpikir bagaimana caranya menidurkan raka yang mulai lelah. diajaklah berjalan-jalan ke taman erasmus huis yang terlihat eksotik di malam hari. tetapi raka tak juga terlelap. akhirnya kami bermain imajinasi tentang ikan-akuarium-laut-terumbu-hiu. permainan yang biasa kami mainkan sejak setahun belakangan teruatama di saat raka mulai memaksakan kehendaknya. biasanya cukup ampuh. rajukan raka mereda, kami menonton televisi berbahasa belanda di ruang tunggu sambil menunggu rehat konser.

saat rehat, bubu bercerita tentang kelucuan dalam petualangan ajaib baron von munchhausen, kemudian kami melihat-lihat pameran foto indonesian dreams di ruang pamer. saat gong dibunyikan tanda waktu rehat berakhir, kami mengajak raka masuk ruangan konser menonton si bulbul, tujuan utama kami malam itu ke erasmus huis.

baru saja duduk, suara kecil raka kembali terdengar nyaring: “pulang”
dengan behave-nya, raka kembali meminta: “ba, pulang”

menghela napas, kami tinggalkan ruangan konser, mungkin lain kali jika raka sudah agak besar, baru bisa menonton konser dengan tenang. pesona raka membuat penjaga erasmus huis gemas. ketika sampai di pintu keluar raka bilang: “ba, hiu, di luar”

ah, rupanya raka teringat permainan imajinasi beberapa saat lalu. kami pun melanjutkan permainan imajinasi itu tentang kapal selam rusia yang membawa kami pulang kembali ke rumah, hingga raka terlelap tidur di pangkuan bubunya…


[nd, 130308]


freestyle raka

16 Februari, 2008

freestyle glider, jadi salah satu mainan favorit raka sekarang…. awalnya sih khawatir, tetapi melihat dia sudah meneguhkan pijakan dan pegangannya untuk berayun, kami cukup mengawasi dalam jangkauan saja.

ayunan kakinya makin heboh mengikuti irama lagu ricky martin yang diputar, kemudian ia turun dari glider, menggoyangkan tangan, kaki, dan seluruh tubuhnya, memutar badan, dan menari hingga lagu habis.


CD-nya dimana, Raka?

13 November, 2007

hari sabtu, mau ngejual perangkat wifone ke teman. baba ngecek semua kelengkapan perangkat wifone tersebut untuk dimasukkan ke dalam box, pesawat telepon sekaligus modem, kabel data dan kabel power, buku petunjuk, dan CD driver. Tetapi CD diver itu tidak ketemu, cari di player barangkali masih di dalam komputer, tidak ada. cari di dapur, di ruang tamu, di kamar, tidak ketemu.

lalu ingat raka, barangkali dia bawa CD itu ke bak pasir di depan rumah, ngubek-ubek pasir juga gak ketemu. hampir putus asa ketika raka mendekati baba dan membuka-buka box wifone.

“raka, baba mau tanya,” mata bulat jernih itu menatap baba memperhatikan. baba mengambil sebuah CD lain dan menunjukkan ke raka, “raka lihat CD seperti ini berwarna biru?”

“iiyaaat,” ah, dia mengerti pertanyaannya, “raka lihat dimana?”

“dis titu,” raka menunjuk ke arah tertentu, tetapi masih belum bisa ditebak ke mana yang dimaksud, lalu baba memberi CD lain tersebut ke raka dan dibawanya CD itu oleh raka ke….

ke CPU komputer baba!

di CPU itu ada CD player bay dan juga expansion bay yang belum terisi player. Raka memasukkan CD ke dalam expansion bay. segera baba ambil CD tersebut sebelum sepenuhnya masuk ke expansion bay.

dari jendela expansion bay itu terlihat CD driver yang dicari tergeletak di atas harddisk bay. Aha!

“terima kasih raka yang pintar dan baik, sudah menunjuki baba di mana kamu taruh CD itu :)”

alhamdulillah… raka mengerti kalau CD tempatnya di CD player, bukan di bak pasir 🙂 subhanallah 🙂


radya and his oto

21 Agustus, 2007

since radya watch motogp session, he likes very much of motorbike and something that run fast. he was before very fond of aeroplane so that his father bought aeroplane toys everytime travelled by plane. at the time he watch motogp and F1 session, he called those automachines by “oto”.

eventhough we differ between automobile and motorbike, he always called them the same “oto”. because of this, our neighborhood called radya by “oto”. on his birthday, his uncle bought a three wheels bike for him, and radya also called it by “oto”. nowadays, he always play with his “oto”. sometimes, whenever his father came home from work, he ask to be placed on the ride of his father’s motorbike which also called “oto”.


radya and his green turtle

20 Agustus, 2007

radya is very fond of turtle and fish. his first turtle was bought in early June 07, at sunday market at Kukusan. he took care his turtle as he likes to play with it happily. it was the time when he took the turtle out of its box and he get wet because the water came out from it. and was the time when radya become very sad when he did not find his turtle box, because his father hide it from him. but radya and his green turtle was a part of his stories.


%d blogger menyukai ini: