pengampunan

17 Oktober, 2016

​Abu Bakar Ash-Shidiq murka begitu tahu ada di antara kerabatnya yg turut andil dalam penyebaran kisah bohong yg menimpa putrinya, Aisyah Ash-Shidiqah, istri Rasulullah s.a.w. sehingga beliau bersumpah untuk menghentikan santunan yg rutin diberikan kepada kerabatnya itu. 
Kemudian Allah s.w.t. menurunkan ayat Alquran surat Annuur: 22, sehingga Abu Bakar membatalkan sumpahnya dan tetap menyantuni kerabatnya demi mengharap ampunan Allah.
Kebanyakan orang bereaksi seperti reaksi pertama Abu Bakar. Tidak sudi lagi menafkahi orang yg mengkhianatinya. Hanya sedikit orang yang bereaksi seperti reaksi kedua Abu Bakar. Mengampuni orang yg mengkhianatinya demi mengharap ampunan Allah.
Inilah dermawan yg sebenarnya. Memberi tanpa harap kembali. Namun jadi sasaran empuk bagi orang2 yg suka mengkhianati. Sang dermawan akan tetap mendapat pahalanya, sedangkan si pengkhianat akan tetap mendapat dosanya.
@ndi, 16011438


syiah di masjid nabawi

23 Maret, 2014

azan asar berkumandang, toko-toko dan lapak-lapak ditutup. manusia berbondong-bondong menuju masjid nabawi untuk salat berjamaah. tetapi beberapa orang pergi menjauhi masjid.

perempuannya mengenakan kerudung hitam yang panjang dari kepala hingga kaki, dipegang untuk menutupi pakaiannya yang tidak longgar. laki-lakinya berpakaian biasa saja. sebagian laki-laki yang terpelajar memakai serban dan jubah lebar yang melabuh sampai ke tumit.

di al-rawdah, mereka memenuhi posisi favorit, di bagian belakang dekat kamar fatimah. duduk menghadapnya sambil berdoa. lisannya mewiridkan nama ali, fatimah dan husain.

di waktu salat jumat, sebagian dari mereka keluar membuat jamaah sendiri dan salat empat rakaat. sebagian yang berada di dalam masjid duduk khusyuk menyimak khutbah dan ikut salat dua rakaat di belakang imam. ketika salam mereka langsung bangkit dan melanjutkan dua rakaat lagi.

di lorong antara bab al-salam dan bab al-baqi, kaum laki-laki mereka memberi salam di hadapan kubur rasulullah kemudian lirih mencaci di hadapan kuburan abu bakar dan umar.

di halaman masjid, berkumpul kaum perempuan menghadap kubah hijau. melambaikan tangan menyalami rasulullah, melontarkan cacian bagi kedua sahabat beliau. lalu berdoa ke arah kubah hijau, membelakangi kiblat.

di al-baqi, kaum laki-lakinya ramai berkumpul di hadapan gundukan tanah kuburan yang ditandai susunan batu yang dianggap sebagai kuburan aisyah, ibunda kaum beriman. di hadapan kubur itu mereka mencacimaki istri rasulullah yang dimuliakan. mencacimaki beliau pulalah kaum perempuan mereka yang berada di luar tembok pemakaman.

ketika azan dan ikamah mereka tidak bersegera mendatangi masjid nabawi. bila takbiratulihram ditegakkan mereka berupaya menyisip di sela-sela jemaah. mengingatkan jemaah akan kelakuan salah satu makhluk Allah, sekaligus peringatan untuk merapatkan saf.


titip salam untuk kanjeng nabi

9 Maret, 2014

Di antara pesan yang sering dititipkan oleh karib kerabatnya kepada peziarah masjid nabawi adalah, “titip salam untuk baginda rasul”, “titip salam untuk kanjeng nabi”, dan semisalnya. Demi menunaikan amanah tersebut, banyak peziarah yang mendatangi kuburan nabi shallallahu alaihi wasallam berkali-kali dan sayangnya tanpa adab yang dibenarkan.

Ketika mendatangi masjid nabawi, untuk ke kuburan nabi dan kedua sahabat beliau -Abu Bakar dan Umar radiyallahu anhuma– adalah melalui pintu Al-Salam. Tak sedikit yang lupa membaca doa memasuki masjid ketika melalui pintu itu dan lupa menunaikan dua rakaat tahiyatul masjid karena mengira bukan bagian masjid. Kemudian saling dorong antar jamaah dalam kondisi berdesak-desakan demi mendekati kuburan nabi. Lalu memberi salam dan salawat kepada nabi dengan salam dan salawat yang tidak pernah diajarkan oleh beliau atau dicontohkan oleh para sahabat beliau.

Ada yang berlama-lama berdiri menghadap ke kuburan nabi dan berdoa, bahkan ada pula yang mengutuk kedua sahabat nabi yang mulia. Banyak pula yang melambaikan tangan ketika melalui kuburan nabi. Adapun kaum wanita karena tidak diperkenankan masuk ke pintu Al-Salam, berkumpul di luar masjid atau dekat pintu keluar (Al-Baqi) dan melambaikan tangan ke arah kuburan beliau. Dari luar masjid, letak kuburan nabi dan kedua sahabatnya ditandai dengan kubah hijau peninggalan kekhalifahan Utsmani.

Padahal, Abdullah ibn Umar -radiyallahu anhuma- ketika mendatangi Masjid Nabawi adalah melakukan salat tahiyatul masjid dua rakaat kemudian pergi ke kuburan Nabi dan dua sahabat beliau lalu mengucapkan salam kepada mereka, setelah itu pergi tanpa berdiri lama di situ.

Adapun salam yang beliau ucapkan adalah:

السلام عليك يا رسول الله ورحمةالله وبركاته، السلام عليك ياأبابكر، السلام عليك يا عمر.

“Semoga salam sejahtera bagimu wahai Rasulullah beserta rahmat Allah dan berkah dari-Nya. Semoga salam sejahtera bagimu wahai Abu Bakar. Semoga salam sejahtera bagimu wahai Umar.”

Bagaimanapun, menyampaikan salam kepada Rasulullah tidaklah ada perbedaan keutamaan antara disampaikan di hadapan kubur beliau maupun di tempat lain bahkan di kampung sendiri yang jauh dari Madinah. Beliau shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa Allah akan selalu menyampaikan salawat dan salam dari umat kepada beliau dan atas izin-Nya pula ruh beliau dikembalikan untuk menjawab salam tersebut.

Semoga salam sejahtera dan salawat Allah senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad.


menafkahi istri dengan layak dan cukup

1 Februari, 2013

Ibnu Umar mengatakan: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dahulu menyerahkan tanah khaibar (untuk digarap), dengan upah setengah dari hasil buah dan pertaniannya. Dari hasil tersebut, beliau bisa menafkahi para istrinya sebanyak 100 wasaq pertahun. 80 wasaq berupa kurma, sedang 20 wasaq berupa sya’ir (jewawut/malt). Pada saat Umar menjadi khalifah, dia membagi (tanah khaibar itu), dan memberikan pilihan kepada para istri Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, antara mengambil tanah dan pengairannya, atau (seperti sebelumnya) menerima hasilnya beberapa wasaq tiap tahunnya. Dan pilihan mereka berbeda-beda, ada yang memilih tanah dan pengairannya, ada juga yang memilih menerima hasilnya beberapa wasaq. Adapun Aisyah dan Hafshah, mereka berdua memilih mengambil tanah dan pengairannya. [HR Muslim]

Hadits tersebut diletakkan oleh Imam Muslim pada bab Musaqah pada Kitab Muzara’ah dalam kumpulan Shahih-nya. Secara bahasa, muzara’ah berarti muamalah atas tanah dengan sebagian yang keluar sebagian darinya. Dan secara istilah muzara’ah berarti memberikan tanah kepada petani agar dia (pemilik tanah) mendapatkan bagian dari hasil tanamannya. Misalnya sepertiga, seperdua atau lebih banyak atau lebiih sedikit dari itu. Musaqah adalah menyerahkan kebun beserta pohonnya, kepada pekerja, agar dirawat, dengan upah dari sebagian hasil buahnya. Hadits tersebut dijadikan dalil praktik muamalah mengambil manfaat dari hasil kebun atau sawah milik sendiri yang digarap oleh orang lain.

Di dalam hadits tersebut disebut bahwa praktik musaqah dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- terhadap tanah khaibar. Tanah khaibar diperoleh sebagai harta rampasan perang Khaibar yang berlangsung di penghujung bulan Muharam pada tahun ke-7 H. Karena tidak memungkinkan untuk dibawa ke Madinah, maka kebun kurma dan malt yang ada diserahkan kepada petani Yahudi (yang dahulu memilikinya) untuk digarap dengan upah sebesar setengah dari hasil pertaniannya. Hal ini menjadi dalil dibolehkannya bermuamalah dengan orang-orang Yahudi maupun non muslim lainnya.

Dari hasil pertanian yang menjadi hak kaum muslimin, Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dapat memberi nafkah kepada para istrinya sebanyak 100 wasaq pertahun dengan perincian 80 wasaq berupa kurma, sedang 20 wasaq berupa malt. Secara matematis, 1 wasaq adalah 60 shaa’, sedangkan takaran 1 shaa’ setara dengan 2,5 kg. Sehingga nafkah sebesar 100 wasaq per tahun setara dengan 15 ton dengan pembagian 12 ton kurma dan 3 ton malt. Dengan demikian setiap bulannya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- menafkahi para istrinya sebesar 1,25 ton hasil pertanian. Apabila menggunakan perbandingan harga saat ini (2012) dimana 1 kg kurma berkualitas baik adalah Rp100 ribu dan 1 kg malt berkualitas baik adalah Rp50 ribu, maka nafkah yang dikeluarkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- setiap bulannya kurang lebih senilai Rp112,5 juta.

Pada tahun ke-7 H hingga wafatnya, Nabi -shallallahu alaihi wasallam- masih memiliki 9 orang istri dan 1 orang selir. Khalifah Abu Bakar –radhiyallahu anhu- tetap melanjutkan hak nafkah para ummul mukminin tersebut hingga di masa Khalifah Umar bin Khattab –radhiyallahu anhu– mengubah mekanisme pembagiannya.

Hal ini mengandung pelajaran bagi para suami untuk memperhatikan keluarganya dengan memberikan nafkah yang layak dan cukup yang bersumber dari harta yang halal dan berkah. Dimana nafkah tersebut masih dapat dinikmati keluarganya bahkan jauh setelah si suami wafat. Hal ini juga mengandung pelajaran bahwa khalifah sebagai pemerintah dapat campur tangan ke dalam masalah hak-hak pribadi apabila melihat maslahat yang lebih baik sehingga dapat bermanfaat lebih bagi kelangsungan bernegara. Wallahu a’lam.


%d blogger menyukai ini: