Tentang adab

23 September, 2016

“Manifestasi eksternal keadilan dalam kehidupan dan masyarakat tidak lain adalah keberadaan adab di dalamnya. Saya menggunakan konsep (makna) dari adab di sini menurut arti awal istilah, sebelum adanya inovasi dari para ahli bahasa yang jenius. 

Adab dalam arti dasar asli adalah mengundang untuk perjamuan. Ide perjamuan menyiratkan bahwa tuan rumah adalah orang terhormat dan terpandang, dan banyaknya orang yang hadir; bahwa orang-orang yang hadir adalah mereka yang menurut perkiraan tuan rumah layak menerima undangan kehormatan, dan karena itu mereka adalah orang-orang dari berbudi pekerti luhur dan berpendidikan sehingga diharapkan untuk berperilaku sebagaimana layaknya keadaan mereka, dalam ucapan, perilaku dan etiket.

Dalam arti yang sama bahwa makanan akan dihidangkan menurut aturan tata boga yang halus, tata cara dan etiket, begitu juga berpengetahuan untuk memuji dan menikmati, dan mengambil dengan cara etis sebagaimana layaknya sifat mulia. Dan ini adalah alasan mengapa kita mengatakan adanya analogi antara makanan dan kehidupan jiwa. 
Dalam kebajikan, adab juga berarti untuk mendisiplinkan pikiran dan jiwa; yaitu akuisisi kualitas yang baik dan atribut dari pikiran dan jiwa; yaitu untuk melakukan hal yang benar sebagai lawan dari tindakan yang keliru, hal yang benar sebagai lawannya salah; yaitu untuk menjaga dirinya dari aib.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme (p.149-150)


hijrah ilmu

21 September, 2016

​banyak orang mengira dunia yang dia peroleh sebagai tanda keridaan dari Allah pada dirinya: kesehatan, harta, wanita, anak-anak, jabatan, usaha yang berkembang. sehingga mereka hanya mau berhijrah dari suatu kondisi kekurangan menuju keberlimpahan.

adapun jika kondisinya tidak jelas, atau akan mengurangi pendapatannya, atau kehilangan posisinya, sangat sulit mengiyakan untuk berhijrah.

padahal Nabi -sallallahu alaihi wasallam- telah bersabda bahwa barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang dia cari atau kepada wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya. diriwayatkan oleh imam al-bukhari dan imam muslim.

hadits tersebut mengajarkan bahwa, hijrah tergantung pada niatnya. setiap orang akan memperoleh hasil sesuai apa yang dia niatkan. 

maka, ketika berhijrah pun, niatkanlah yang terbaik, berlimpah, dan lebih bermanfaat. hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, sudah barang tentu “the best” lah. Allah yang telah menciptakan pasti menjamin hidup kita dengan kecukupan.

tahukah bahwa hadits itu diriwayatkan dari khalifah umar bin al khatthab? seorang sahabat terbaik yang dimiliki oleh Islam, yang telah berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, berjuang bersama Rasulullah, dan masyarakat Islam di masa pemerintahannya selama 10 tahun adalah masyarakat yang cemerlang.

dan sebagai khalifah, kepala negara, penguasa dunia, ia sendiri tidak perlu malu untuk meriwayatkan hadits. sebagai bukti hijrahnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati untuk memuliakan ilmu.
Semoga Allah melimpahkan taufik.
@ndi, 19121437


adab menuntut ilmu

20 September, 2016

​ketika malaikat jibril menyamar sebagai seorang lelaki tak dikenal datang di hadapan Rasulullah -sallallahu alaihi wasallam- dan bertanya jawab tentang islam, iman, ihsan, dan sebagian tanda-tanda kiamat -sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim- sesungguhnya dia sedang mengajarkan agama dengan cara yang indah.

bukan saja karena isi tanya jawabnya yang berbobot dan menjadi rukun keislaman yang wajib diketahui setiap muslim. melainkan terlebih utama adalah adab dalam menuntut ilmu. lihat betapa jelasnya ilustrasi adab yang diperagakan oleh malaikat Jibril: 

bagaimana penampilannya, rambutnya yang klimis, pakaian yang putih bersih, cara duduk di hadapan ahli ilmu, cara bertanya yang baik, cara membenarkan pernyataan guru, cara menyimak pelajaran. sungguh itulah model adab terbaik yang semestinya dimiliki oleh setiap penuntut ilmu.

dengan berkembangnya dunia digital dan internet, kita kehilangan lebih banyak lagi adab. padahal ilmu tidaklah didapat kecuali dengan adab yang benar. padahal ilmu diraih untuk menjadi beradab dan berperadaban. akan tetapi hilangnya adab menjadikan kebiadaban.

ilmu tidak lagi dicari dari majelis taklim ataupun pondok pesantren. para ustaz dijatuhkan martabatnya. pendapat para ulama saling dibenturkan. penempuh jalan internet kehilangan rasa dalam menghargai ilmu.

orang-orang yang tidak saling mengenal,secara tiba-tiba saling terhubung. berkomunikasi tanpa batasan ruang dan waktu. sebagian masih berpegang pada prinsip untuk menjaga maruah satu sama lain. sebagian lainnya terbuka dan saling menyerang dengan prasangka masing-masing. orang mulia dihinakan, orang hina ditinggikan. 

maka dari itu, jika kita benar-benar ingin meraih faedah ilmu dan keberkahannya, serta iringan doa dari ulama yang mengajarkan ilmu, sudah sepatutnya kita memperbaiki penampilan, berlatih kesopanan, membiasakan pembicaraan yang  bermanfaat, serta menjaga adab. 

semoga Allah melimpahkan taufik.
@ndi, 18121435


boleh gak?

14 Mei, 2014

Baba dapat telpon dari rumah, suara Bubu di seberang sana bertanya, “Ba, ini dapat kiriman makanan dari tetangga kita, katanya syukuran kelahiran anaknya. Boleh dimakan gak?”

Baba menjawab, “Boleh, insya Allah.” Tiba-tiba terdengar sahutan di latar, “Boleh katanya tuh!”

“Eh, siapa itu?” tanya Baba. “Si kecil ngocol tuh, Ba, hehehe” jawab Bubu sambil terkekeh, “dari tadi merengek: ‘Bubu, mau makan ayamnya’. Bubu bilang tanya Baba dulu.” Baba pun turut tertawa mendengar kelakuan Athiya.

Bertetangga dengan non muslim memang perlu adab dan toleransi. Memberi atau menerima hadiah dan tolong menolong dalam urusan duniawi adalah hal yang dibolehkan. Adapun urusan akidah dan ibadah merupakan hal yang sudah jelas batasannya.

Maka itu, menerima atau mengirim makanan, jika bukan untuk sesaji atau dalam rangka hari raya non muslim, bukan termasuk hal yang dilarang oleh ajaran Islam. Wallahu a’lam.


jangan coreng janggutmu

16 Maret, 2014

Diceritakan ada dua orang, salah satunya berjanggut dan bercelana cingkrang, memasuki sebuah rumah yang sedang dibangun. Mereka melihat-lihat ke dalam dan seperti mencocokkan sesuatu di dalam kertas yang mereka bawa dengan rumah tersebut. Dari dalam rumah, sedang beristirahat si empunya rumah dan para tukang yang sedang menikmati kopi dan cemilan. Melihat kedua orang tersebut, si empunya rumah menghampiri dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum.” Tanpa mendapat jawaban, si empunya rumah mengulangi lagi salamnya lalu berkata, “Maaf, Anda siapa?” Kedua orang itu tidak memperhatikan pertanyaan malah terus sibuk dengan urusannya. Si empunya rumah bertanya kepada tukangnya perihal orang itu. Dikatakan mereka adalah pemilik tanah di seberang jalan yang sedang membangun pondasi. Maka si empunya rumah berkata, “Pak, adabnya kalau bertamu mengucapkan salam, walaupun rumah yang didatangi belum jadi. Dan kalau bapak mau mencontoh rumah ini, silakan saja difoto, biar tidak bolak-balik masuk sini tanpa izin.”

Si empunya rumah yang bercerita kepada saya tentang hal itu kemudian menyimpulkan, “Kok gitu ya, orang jenggotan dan celana cingkrang gak punya sopan santun?” Jlebb!!! Kita tidak bisa menyalahkan maupun membenarkan seratus persen pengambilan kesimpulan tersebut. Apalagi jika fakta yang membuktikannya. Akan tetapi hal itu menunjukkan bahwa masyarakat awam masih punya harapan bagi para pengamal sunah. Pemahaman yang cukup baik mengenai agama tidaklah menunjukkan apapun jika tanpa pengamalan dan penghayatan. Telah banyak ditulis dan diajarkan kitab adab oleh para ulama sebelum mereka mengajarkan ilmu. Oleh karena adab juga merupakan bagian dari sunah, maka hendaknya para pengamal sunah memerhatikannya dan berakhlak mulia, tidak mencoreng janggut dan celana cingkrangnya.


لا بأس طهور إن شاء الله

6 April, 2013

feverRasulullah صلي الله عليه وسلم dalam hadits riwayat al-Bukhari menganjurkan orang yang menjenguk orang sakit agar menghiburnya dengan doa:

لا بأس طهور إن شاء الله

“Tidak mengapa, semoga membersihkanmu dari dosa-dosa, atas seizin Allah”.

Ketika babanya sakit, Radya, 7 tahun, menghibur dengan doa tersebut. Penghiburan yang berganda, selain karena doa dan makna doa tersebut, karena yang menyampaikannya adalah seorang anak kecil yang belum baligh sebagai tanda berkahnya pendidikan yang dipatri ke dadanya.

Ketika Radya sakit, baba mencoba menghiburnya dengan doa tersebut. Namun sesungguhnya doa itu bukan ditujukan untuknya. Seorang anak kecil yang belum baligh tidaklah memiliki dosa-dosa, walaupun ia melakukan kesalahan maka pena diangkat (dari catatan amal) dan ia dianggap keliru, karena akalnya belum sempurna. Maka doa penghiburan itu sesungguhnya ditujukan kepada babanya sendiri.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah رضي الله عنهما, dari Nabi صلي الله عليه وسلم beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

rujukan:

  1. http://kaahil.wordpress.com/2008/12/27/6-adab-dan-tuntunan-lengkap-ketika-sakit/#more-624
  2. http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3359-apakah-anak-kecil-mendapat-pahala-amalan-sholeh.html
  3. http://al-atsariyyah.com/anak-tanggung-jawab-ayah.html

Ini Bagian Kalian dan Ini Hadiah Untukku

29 Januari, 2012

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Kitab Sahih keduanya, dari Abu Humaid As-Sa’idi: “Ketika Ibn Al-Lutbiyyah, orang yang dipekerjakan untuk mengumpulkan zakat, datang kepada Rasulullah (shallallahu alaihi wasalam), dia berkata: ‘Ini bagian kalian dan ini hadiah untukku’, lalu Rasulullah (shallallahu alaihi wasalam) berdiri, memuji dan menyanjung Allah kemudian bersabda: ‘Aku mempekerjakan beberapa orang di antara kalian untuk suatu pekerjaan yang Allah kuasakan kepadaku, kemudian seseorang di antaranya datang kepadaku dan berkata: ‘Ini bagian kalian dan ini hadiah untukku.’ Mengapa dia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak atau ibunya dan menunggu sehingga hadiah itu datang kepadanya? Demi Allah, tidak satupun di antara kalian yang mengambil sesuatu tanpa hak, kecuali ia akan datang kepada Allah di hari kebangkitan dengan memikulnya. Aku tidak ingin melihat siapapun di antara kalian memikul unta yang merintih, atau sapi yang melenguh, atau domba yang mengembik ketika dia berjumpa dengan Allah.’ Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya (tinggi-tinggi sehingga) ketiaknya yang putih terlihat, dan bersabda: ‘Wahai Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?'”

hadits tersebut oleh para ulama dijadikan dalil dari haramnya bagi pekerja atau pegawai untuk mengambil atau menerima hadiah (alias suap) dari suatu pekerjaan yang (memang tugas yang harus) dilakukannya, padahal ia telah menerima upah atas pekerjaannya itu, sehingga yang demikian (menerima hadiah) itu termasuk pengkhianatan terhadap pemberi kerja.

Faidah hadits:

  1. Diwajibkan bagi pegawai melaporkan hasil pekerjaan kepada si pemberi kerja
  2. Disunnahkan untuk memuji dan menyanjung Allah sebelum berpidato atau berkhutbah
  3. Adalah adab ketika memperingatkan manusia dari sebuah perbuatan buruk yaitu dengan tidak menyebutkan nama si pelaku
  4. Dibolehkan mempekerjakan orang lain untuk membantu menyelesaikan suatu urusan yang dikuasakan kepada kita
  5. Tidak boleh mengambil sesuatu sebagai hadiah bagi diri si pegawai di luar dari upah yang diberikan oleh si pemberi kerja
  6. Ancaman terhadap orang yang mengambil sesuatu tanpa hak yaitu akan menghadap Allah dengan memikulnya
  7. Disunnahkan berdoa kepada Allah dengan mengangkat tangan

Wallahu a’lam.


jadilah pembantu yang cerdas dan berkhidmat

5 Juli, 2011

Muamalah antara majikan dan pembantu adalah pembahasan yang tidak akan habisnya karena merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dalam tulisan (maafkanlah ia setiap hari tujuhpuluh kali) telah disebutkan bagaimana adab dan sikap yang baik yang dinasihatkan oleh teladan manusia sepanjang zaman. Terhadap budak yang hak-haknya dimiliki penuh oleh tuannya saja kita diperintahkan untuk berbuat baik apalagi terhadap pembantu yang merupakan orang merdeka. Sehingga berlakulah hak-hak orang merdeka terhadap pembantu, di antaranya memiliki hak diperlakukan dengan baik dan memiliki hak kehidupan. Maka dalam tulisan ini membawakan teladan yang dilakukan oleh Rasulullah salallahu alaihi wasalam, dan pembantunya Anas bin Malik radiyallahu anhu.

Dikisahkan oleh Anas bin Malik bahwa ketika Nabi pertama kali masuk ke kota Madinah beliau tidak memiliki seorang pembantu. Lalu Abu Talhah memegang tanganku dan mengajak aku pergi ke hadapan Nabi dan berkata: “Wahai Nabiyullah, sesungguhnya Anas adalah anak yang cerdas, mohon jadikan ia sebagai pembantumu.” Maka aku pun membantu beliau saat safar maupun ketika di Madinah sampai Rasulullah wafat. Selama aku membantu Nabi, adalah beliau tidak pernah berkata untuk apa yang aku kerjakan, “mengapa kamu melakukan ini?” atau untuk apa yang tidak aku kerjakan, “mengapa kamu tinggalkan ini?” [HR. Albukhari]

Abu Talhah adalah suami dari Ummu Sulaim, ibunya Anas bin Malik, dengan kata lain beliau adalah ayah tiri Anas bin Malik.

Anas bin Malik telah membantu Rasulullah sejak hijrah ke Madinah hingga wafatnya, yaitu sekitar sepuluh tahun. Dan selama itu sebagai pembantu ia tidak pernah dipertanyakan untuk hal-hal yang dia kerjakan ataupun yang ditinggalkan. Ini menunjukkan bahwa begitu besar kepercayaan Rasulullah kepada pembantunya sehingga beliau tidak perlu mengomentari hal-hal yang dilakukan ataupun ditinggalkan oleh pembantunya. Kepercayaan yang besar ini tentulah tidak didapatkan begitu saja tanpa terpenuhinya di antara syarat-syarat berikut:

1. Kecerdasan, telah disebutkan bahwa Anas adalah anak yang cerdas, dengan kecerdasan yang dimilikinya ia mampu memahami dan memenuhi keperluan-keperluan Rasulullah sebagai majikannya, mengenal apa yang disukai dan tidak disukainya, dan

2. Perkhidmatan, disebutkan juga bahwa Anas telah membantu Rasulullah selama sepuluh tahun sedangkan tidak pernah mendapat komplain maka hal ini menunjukkan betapa besar perkhidmatan yang diberikan oleh Anas kepada majikannya, yaitu dengan memenuhi perintah, menjaga kehormatan majikannya, dan tidak membuat majikannya kecewa ataupun marah sedikitpun karena selalu memberikan yang terbaik dalam perkhidmatannya.

Jika demikian yang diharapkan dari pembantu maka yang diharapkan dari majikan yaitu akhlak yang baik, sikap lapang dada dan pemurah hati sebagaimana berikut:

Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukannya melaksanakan tugas Rasul, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan apa yang diperintahkan Rasulullah. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah, dengan tersenyum dia berkata, “Wahai Anas kecil, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah dan menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat, Rasulullah.”

rujukan:

  1. Kitab Al-Adabul Mufrad, karya Imam Albukhari
  2. Kitab Shuwaru min Hayatis Shahabah, karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya

%d blogger menyukai ini: