penista agama

17 Januari, 2017

​”tangkap penista agama,” tsuraya mengeja tulisan yg terdapat pada bagian depan kaos para pengunjuk rasa.

di antara mereka ada yang membawa panji-panji, serombongan orang berjalan menembus kemacetan menuju tempat digelarnya persidangan.

“orang-orang itu mau ke mana, ba?” tanya radya.

“mereka mau berunjuk rasa, menghadiri persidangan, mungkin mau memberikan dukungan moral,” sahut baba yang masih disibukkan mengendalikan kereta.

“penista agama itu apa, ba?” tanya tsuraya yang memandangi rombongan orang itu dari balik jendela.

“penista agama adalah orang yang melecehkan agama, menjadikan ajaran agama sebagai bahan ejekan dan senda gurau,” jawab baba, kemudian melanjutkan, “termasuk juga menistakan agama adalah orang yang tidak mau mempelajari agamanya dengan baik dan tidak beramal dengan benar.”

“lihat itu, ba. laki-laki ada yang pakai anting, celananya sobek. kalau dipakai salat kan gak sah ya?” tanya radya.

“barangkali belum tahu, mas. atau nanti dia pakai sarung kalau mau salat,” jawab baba.

“sidang yang tadi bikin jalan kita diblokir ya, ba? jadinya kita sekarang kena macet karena harus memutar?” tanya tsuraya.

“hehehe, iya sidang di sana. bagaimanapun, kita kena macet sudah takdir Allah. qadarullahu wa masya fa’al. Allah sudah menakdirkan dan melakukan kehendak-Nya. tidak boleh bagi yang beriman kecewa dan menyalahkan orang lain,” baba menjelaskan.

***

Iklan

pernikahan tidak harmonis

26 Februari, 2015

الزواج أيها الإخوة ليس إنبهارا،
الزواج أيها الإخوة معاملة دائمة الإنسان في بيته،
يتخلى مما يكون متلبسا به خارج بيته،
يحتك بإنسانة تطالبه بمطالب ويطالبها بمطالب،
يعيشان معا فتر ة طويلة.
هذا الأمر لا يمكن أن يحكمه،
ولا يمكن أن يجعله قائما صحيحا مستمرا متجددا،
تتدفق فيه دماء الحب و السعادة،
إلا الدين مع حسن الخلق.

Pernikahan, wahai saudaraku, tidaklah selalu memesonakan.

Pernikahan, wahai saudaraku, adalah pergaulan yang langgeng antara insan di dalam rumahnya.

Kadangkala terabaikan, terusir dari rumahnya, cekcok, istri menuntut suaminya, suami menuntut istrinya.

Pernikahan adalah hidup bersama dalam waktu yang panjang.

Perkara ini tidak selalu harmonis, juga tidak dapat melulu bertahan, baik-baik saja, lestari, indah, dalam jalinan cinta dan kebahagiaan.

Kecuali dengan agama dan bagusnya akhlak.

***

[Hak-hak suami istri, Sulaiman ar-Ruhaili, hlm. 11]

View on Path


tentang ktp

19 Desember, 2014

Di SSQ2, pajak penumpang lebih mahal daripada di CGK.

Menarik, kartu identitas disiapkan dan ditunjukkan 4 kali, ketika: masuk airport, check in counter, masuk ruang tunggu, dan masuk pesawat.

Memang repot masukin dan keluarin ktp berkali-kali. Tapi mengingatkan kita bahwa ktp kita masih ada. Mengingatkan pula alamat pulang, usia, agama, serta masa berlaku ktp 🙂

***

have a safe and pleasant flight! – at Sultan Syarif Kasim II International Airport (PKU)

View on Path


Beragama lebih baik?

8 November, 2014

Bagi saya, agama itu menjadikan orang lebih baik. Jika ada orang yg mengaku beragama tetapi tidak lebih baik, barangkali karena ia tidak mempelajari dan mengamalkan agamanya dengan baik.

Akan tetapi tidak semua orang mampu menempuh agamanya dengan baik. Karena kemudahan berbuat baik tidak cukup dengan menjadi baik saja. Hal itu memerlukan campur tangan Tuhan.

Sebagaimana sabda junjungan -semoga Allah melimpahkan salawat dan selamat kepadanya- :

“Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, Dia akan memudahkan jalan bagi si hamba untuk memahami agama.”

Tentu saja dengan belajar dan beramal, yang dengan itu agama pasti menjadikan dirinya menjadi lebih baik.

View on Path


menghinakan diri

11 Februari, 2013

Sebagian umat merasa ada yang salah dalam keberagamaan mereka sehingga terus menerus berada dalam kehinaan: keterpurukan ekonomi dan kemiskinan, minimnya akses pendidikan dan kesehatan, ketidakberdayaan dalam hal kekuasaan, hilangnya kebanggaan sebagai umat yang besar. Mereka mencoba bangkit dan mengentaskan diri mereka dari semua kehinaan melalui pemberdayaan ekonomi umat dan pembiayaan berbasis syariah; membangkitkan semangat kewirausahaan melalui perdagangan, peternakan dan pertanian; mengetuk hati para dermawan untuk rumah sakit-rumah sakit dan sekolah-sekolah gratis yang dapat dinikmati kalangan ekonomi lemah; berjuang untuk penegakan syariah melalui sistem politik dan hukum; hingga tuntutan kembali kepada kekhalifahan sebagai pengejawantahan kekuasaan.

Tetapi perubahan secara signifikan tidak kunjung datang walaupun sepertinya tidak ada yang salah dengan cara-cara perubahan yang mereka tawarkan, karena Allah –jalla jallaluhu– sendiri telah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” [QS Ar-Ra’d: 11]

Bisa jadi, upaya pengentasan diri dari lembah kehinaan tidak berhasil karena cara pandang yang salah terhadap perubahan itu sendiri. Bisa jadi karena kita terlalu asyik dengan embel-embel dan slogan tanpa menyadari bahwasanya tidak ada bedanya secara praktik antara label syariah dengan praktik ribawi. Bisa jadi karena perniagaan, peternakan, dan pertanian telah melenakan kita sehingga lalai dari kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan seperti salat lima waktu dan berzakat. Bisa jadi pula orientasi kemakmuran duniawi membuat kita lupa dari perkara jihad.

Barangkali, kita perlu renungkan kembali solusi ilahiah sebagaimana yang ditawarkan oleh hadits berikut:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda: “Jika kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (riba), mengikuti ekor sapi, ridla dengan bercocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Wallahu waliyyut taufiq.


dilema fatwa dan kenyataan

26 Agustus, 2012

Menjelang pilkada Gubernur DKI putaran kedua, media massa melambungkan berita mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh salah satu cabang dari lembaga keulamaan di Indonesia. Dan sebagaimana pada umumnya berlaku fasik, media massa mengemas berita sebegitu rupa sehingga fatwa tersebut seolah-olah berpotensi menguntungkan salah satu kandidat dan mengganjal kandidat yang lain. Padahal yang namanya fatwa tidak sembarangan dikeluarkan tanpa adanya permintaan dari umat dan tentu saja dengan mempertimbangkan pemahaman keagaamaan dan kondisi kekinian.

Di masa krisis moralitas seperti sekarang, kebanyakan umat berada dalam dilema antara mengikuti fatwa dan menilai kenyataan. Bagi mereka mungkin adalah pilihan yang sama-sama buruk, sehingga memerlukan fatwa untuk menguatkan mana yang lebih sedikit mudaratnya. Sayangnya ketika fatwa yang dikeluarkan tidak sesuai dengan “hati nurani” (atau mungkin “hawa nafsu”) maka menjadilah sebagian besar dari mereka keringat dingin dan mencari-cari justifikasi yang dapat disesuaikan dengan kepentingan masing-masing.

Lagipula, agama adalah nasehat. Fatwa sebagai salah satu sarana nasehat dari pemuka agama kepada umatnya, seharusnya disikapi dengan adil dan tidak perlu dipolitisasi. Karena ekslusivitasnya pun sebaiknya yang tidak berkompeten dan tidak mumpuni menjaga lisan dan hatinya untuk mengomentari. Oleh karenanya orang-orang dari luar komunitas umat yang dituju oleh fatwa itu sendiri sebaiknya juga menahan diri untuk berkomentar.

Wallahu waliyut taufiq.

http://nasihatonline.wordpress.com/2012/08/08/memilih-pemimpin-karena-agama-masih-pantaskah/


kewajiban menuntut ilmu

21 November, 2011

“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia mengambil bagian yang banyak.” [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi]

Masalah warisan bisa jadi berabe, apalagi kalau yang diwariskan adalah harta kekayaan, bisa-bisa saudara sedarah berkelahi sampai berbunuh-bunuhan. Padahal harta dan kekayaan yang sifatnya materi hanya habis pakai selama hidup dan tidak dibawa mati. Kalaupun ada sebagian orang yang dikubur bersamaan dengan harta kekayaannya maka harta itu tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya, apalagi bagi ahli waris yang ditinggalkannya. Bisa-bisa menimbulkan kebiasaan baru: maling kuburan. 🙂

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: