banyak bersyukur: refleksi kemerdekaan hamba

17 Agustus, 2012

Hendaklah seorang muslim ahlussunnah banyak bersyukur kepada Allah, atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada seluruh alam.  Bersyukur dengan apa yang ada pada dirinya dari rizki yang diberikan Allah kepadanya. Bersyukur atas berdirinya masjid ahlussunnah, sehingga dapat menggali ilmu-ilmu agama sesuai pemahaman para salaf serta berkumpul di dalamnya orang-orang yang gemar menghidupkan sunnah serta menjalankannya tanpa rasa was-was.

Bersyukur atas nikmat kemerdekaan bagi negeri ini, sehingga dimudahkan segala urusan untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk menikmati hasil jerih payah perjuangan para pendahulu dan untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan umat, sebagaimana firman Allah: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…” (QS Ali Imran, 3: 103)

Bagaimanapun kondisi kita saat ini dalam memperjuangkan sunnah, sangatlah tidaklah sebanding dengan perjuangan berat yang dijalani oleh Nabi Nuh alaihissalam. Walau begitu, beliau disebut-sebut di dalam Alquran surat Al Israa, 17: 3 sebagai hamba yang banyak bersyukur kepada Allah.

Bersyukur atas dimudahkan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan, bulan yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan dan kelebihan. Bersyukur karena dihampirkan di penghujung Ramadan, sebagaimana firman Allah: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Albaqarah, 2: 185)

Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam, pada hari-hari terakhir di bulan Ramadan mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya. Mengencangkan ikat pinggang maksudnya menahan diri dari menggauli istri-istrinya. Menghidupkan malam untuk banyak beribadah dengan shalat, membaca Alquran dan berdzikir mendekatkan diri kepada Allah. Membangunkan keluarga untuk bersama-sama menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan dan menjadikan kita hamba yang banyak bersyukur.

(disarikan dari khutbah Ustadz Ja’far Shalih hafizhahullah pada Khutbah Jumat di Masjid Al-Muhajirin Wal Anshar, Jl. Pramuka, Grogol, Depok)


berkasih sayanglah

5 Januari, 2012

“Wahai ahlussunnah, bersikap kasih sayanglah di antara sesama kalian, sesungguhnya ahlussunnah itu sedikit.” [Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah]

“Apabila sampai berita kepadamu orang yang berakidah ahlussunnah di negeri belahan timur bumi, begitu pula di belahan barat, sampaikan salam kepadanya dan doakan kebaikan kepadanya, karena begitu sedikitnya ahlussunnah.” [Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah]


keutamaan para sahabat Rasulullah

10 November, 2011

Di antara dasar-dasar ahlussunnah wal jamaah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dalam menyikapi para sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasalam. Mereka mengakui dan meyakini kabar keutamaan empat sahabat yang terbaik yaitu Abu Bakar, Umar ibnul Khatthab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Mereka mencintai dan loyal kepada keluarga Rasulullah. Mereka loyal kepada istri-istri Rasulullah sebagai ummul mukminin. Mereka tidak membenci para sahabat seperti Syiah Rafidhah, dan mereka tidak menyakiti ahlul bait seperi golongan Nawashib. Mereka juga tidak meyakini bahwa para sahabat bebas dari dosa, melainkan para sahabat juga melakukan kesalahan tetapi mereka memiliki kebaikan yang banyak. Dan ahlussunnah wal jamaah meneladani keutamaan-keutamaan para sahabat Rasulullah radiyallahu anhum.

http://www.ziddu.com/download/17413841/hWasithiyah_UstMuhYahya_KeutamaanSahabatRasulullah.mp3.html


Demokratisasi NU

26 Maret, 2010

Nahdhatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi sosial keagamaan muslim terbesar di Indonesia sedang mengadakan muktamar untuk memilih Ketua Umum Tanfidziyah. Perhelatan akbar lima tahunan di tubuh organisasi itu selama ini melakukan musyawarah untuk mufakat (aklamasi) dalam memilih ketua umumnya. Karena prinsip aswaja (ahlus sunnah wal jama’ah) yang mereka yakini menuntut sikap mengikuti kaidah klasik dalam keislaman, termasuk dalam hal memilih pemimpin.

Namun cara baru yang dilakukan pada event kali ini yaitu memilih pemimpin dengan suara terbanyak (voting, demokrasi) dianggap sebagian warga NU sebagai ancaman terhadap prinsip-prinsip kebaikan yang telah menjadi tradisi. Demokrasi dianggap akan memecah persatuan warga NU, dan membuat kubu yang saling bertentangan untuk memenangkan dukungannya.

Walaupun demokratisasi ini dilakukan secara dialogis dan disesuaikan secara hati-hati dengan prinsip-prinsip musyawarah, masih saja dianggap ancaman, sebagaimana gembala yang menggiring ternak ke pinggir jurang hampir-hampir terperosok ke dalamnya. Begitulah analogi demokrasi sebagai sistem yang dianggap bathil dalam Islam.

Semoga Allah membimbing para muktamirin, memilih pemimpin organisasi yang shiddiq (jujur), amanah (tepercaya), fathonah (cerdas) dan tabligh (mencerdaskan), sehingga mampu berkontribusi secara positif untuk kehidupan sosial dan keagamaan di Indonesia. Dan terhadap siapapun yang terpilih, walaupun “agak bathil” caranya, tetap mempersatukan warga NU. Semoga Allah membimbing warga NU untuk tetap kembali kepada prinsip ahlus sunnah wal jamaah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…

(Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455)


%d blogger menyukai ini: