ilmu

7 Desember, 2014

Semakin berilmu semakin tawadu. Sebagaimana bulir padi semakin berisi semakin merunduk. Begitu pula air yang tenang menghanyutkan.

Sebaliknya, lalai berilmu membusungkan dada. Sebagaimana tong kosong nyaring bunyinya. Begitu pula air beriak tanda tak dalam.

View on Path

Iklan

memaknai doa agar hujan berhenti

22 Januari, 2014

Ketika musim banjir dan hujan sekarang, beredarlah doa populer yang berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radiyallahu anhu:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah! Berilah hujan ke dataran tinggi, beberapa anak bukit, lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

Kemudian beredar pula tanggapan apakah doa itu masih relevan dengan kondisi baik waktu dan tempatnya? Lalu mengorelasikan dengan asbabul wurud Rasulullah membacakan doa tersebut? Dan mendiskusikan antara tekstual dan kontekstual doa tersebut?

Sebenarnya jika kita mau merenungi dan memahami, bahwa baik tekstual dan kontekstual serta kondisional dari doa tersebut, kita akan menemukan betapa banyak faidah dan relevansi doa itu bagi kita. Teks lengkap doa itu bisa kita baca di sini. Secara ringkasnya, seseorang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam mengeluhkan kemarau yang membinasakan dan untuk berdoa minta hujan. Setelah Rasulullah berdoa, hujan turun selama sepekan dan tidak berhenti. Orang itu datang kembali karena hujan telah membinasakan, maka Rasulullah membaca doa di atas sehingga hujan berhenti dan matahari kembali bersinar cerah.

Dalam kondisi hujan dan bencana banjir yang kita hadapi, tentu tidak ada ruginya kita membaca doa tersebut. Di antara faidah yang bisa kita petik:
1. Mengikuti amal yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semua orang tahu dan sepakat bahwa sikap ittiba’ adalah kecintaan yang sempurna kepada beliau, dan tentu saja mendapat pahala.
2. Doa itu berisi agar hujan dialihkan ke tempat selain pemukiman, karena lebih membutuhkan dan lebih memberi manfaat. Allah maha mengetahui di mana tempat-tempat yang tepat untuk diturunkannya hujan yang bermanfaat. Maka doa ini mengajarkan kita untuk percaya dan mengembalikan keimanan kita seutuhnya dan murni kepada Allah saja.
3. Doa itu menyebutkan tempat-tempat agar hujan dialihkan yaitu dataran tinggi, perbukitan, lembah dan tanah subur. Apabila kita lihat kondisinya sekarang, tempat-tempat itu sudah rusak dan tidak berfungsi sesuai peruntukkannya. Ketika melihat iklan pengembang pemukiman: BEBAS BANJIR, kita akan dapati pemukiman tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau Daerah Resapan Air (DRA). Maka karena kerusakan yang kita buat sendiri, wajar saja jika banjir melanda.

Bagaimanapun, secara harafiah dan maknawi, doa ini telah mengajak kita merenungi kembali apakah kita telah benar-benar mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semoga dengan mengamalkannya, Allah segera menghentikan hujan dan menerbitkan kembali cerahnya sinar matahari. Wallahu a’lam.


cacing tanah dan keimanan

31 Maret, 2013

Cacing tanah yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah dengan mengurai zat-zat organik, secara tradisional dikenal juga dengan khasiatnya yang seketika meredakan demam. Di dalam literatur Islam, cacing tanah dikelompokkan ke dalam الحشرات  atau binatang melata. Penggunaannya untuk pertanian dan peternakan tidak diragukan kebolehannya. Namun penggunaan cacing tanah untuk dimakan diperselisihkan, karena tidak ada dalil yang tegas mengharamkannya.

Merujuk kepada pendapat yang dianggap lebih kuat, kebanyakan binatang melata diharamkan untuk dimakan oleh seorang muslim. Alasan keharamannya bukan karena menjijikkan, sedangkan kriteria jijik berbeda-beda pada setiap kaum, melainkan karena tidak dapat disembelih. Binatang yang matinya tidak disembelih berstatus sebagai bangkai. Sebagai binatang yang darahnya tidak mengalir, bangkai cacing tanah tidaklah najis. Tetapi Allah telah mengharamkan untuk memakan seluruh bangkai kecuali dua jenis yaitu bangkai hewan air dan belalang.

Bolehnya memakan yang haram hanya dikhususkan pada kondisi darurat. Mayoritas ulama sepakat bahwa keadaan darurat yang dimaksud adalah pada keadaan yang menyebabkan kematian jika tidak memakannya. Kalau masih ada obat lain walaupun reaksi penyembuhannya lambat, tidak dianggap sebagai darurat.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat menekankan umatnya untuk menghindari pengobatan dengan yang haram kecuali sama sekali tidak menemukan obat pengganti yang halal atau diperkecualikan oleh dalil. Di sinilah keimanan seorang hamba diuji. Apakah ia menyerah kepada keadaan dengan memakan obat mujarab walaupun kehalalannya diragukan atau tetap istikamah dalam pendirian imannya, yaitu berobat dengan yang halal dan bersabar menjalani takdir. Semoga Allah memberi pahala.

والله أعلم بالصواب

rujukan tulisan:

1. http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3659-hukum-cacing-sebagai-obat.html
2. http://al-atsariyyah.com/hukum-budidaya-cacing.html
3. http://www.halalmui.org/images/stories/Fatwa/cacing%20dan%20jangkrik.pdf


air mengalir membersihkan

20 Maret, 2013

PureWaterAir yang menggenang akan mudah menjadi keruh dan kotor. Untuk menjernihkannya hingga laik untuk dipergunakan memerlukan upaya yang tidak mudah. Beberapa di antaranya dengan solusi teknologi penyaringan dan pemurnian yang tidak murah biayanya. Sedangkan air yang mengalir akan selalu bersih. Walaupun ia keruh dan kotor, akan terganti oleh air yang baru, maka kadar keruh atau kotornya akan bergantung kepada sumber aliran airnya. Segelas air yang keruh dan kotor, jika dituangi dengan air kotor maka air yang berada di dalam gelas akan tetap keruh dan kotor. Tetapi jika dituangi air yang bersih dan jernih maka sedikit demi sedikit kekeruhan dan kekotoran yang ada di dalam gelas keluar dan tergantikan sehingga gelas terisi dengan air yang jernih.

Hati (qalbu) manusia adalah raja yang memimpin perilaku seluruh anggota badan sebagai tentaranya. Hati yang keruh dan kotor, membuat amalan anggota tubuh buruk dan tidak pantas. Kebalikannya hati yang bersih dan jernih, membuat amalan anggota tubuh baik dan menyenangkan. Keruh jernihnya hati dan kotor bersihnya, berasal dari sifat asupannya. Ibarat gelas yang bersih, jika diisi dengan materi-materi yang keruh dan kotor maka hati pun akan menjadi keruh dan kotor. Untuk membersihkannya perlu upaya yang susah payah. Apalagi kalau pemiliknya (manusia) masih senang berada dalam lingkungan yang keruh dan kotor, akan makin susah payah lagi. Namun perilaku hati tak ubahnya seperti gelas tadi, jika ia disirami dan dituangi materi-materi yang jernih dan bersih, lama kelamaan kotoran yang menempel padanya terkikis habis dan hati pun menjadi bersih lagi jernih.

Tanpa perlu berpayah-payah memilah dan memilih asupan hati. Membiasakan hati dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat dan berada di lingkungan yang positif dan bersemangat, secara alamiah mengalir terus menerus. Pada suatu saat nanti, jika sedikit kotoran saja mampir di hati maka akan terasa sakitnya. Dengan kembali kepada kebaikan, hati akan pulih dan dengan sendirinya kotoran itu terempas keluar.


ga boleh niup air panas

27 Februari, 2012

Adalah memang benar adanya hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengenai larangan meniup atau bernapas di bejana air minum. Namun ketika ada yang mengatakan bahwa berdasarkan “hasil penelitian” yang tidak diketahui sumbernya, reaksi CO2 dengan H2O menghasilkan asam karbonat H2CO3 yang dapat membahayakan kesehatan, apalagi ditambah “fakta” H2CO3 korosif terhadap besi kemudian bertanya: bagaimana kalau masuk ke paru-paru?

Masalahnya paru-paru kita bukan besi, jadi tidak berlaku hukum korosi 🙂 Lagipula minuman masuk ke lambung melalui kerongkongan, bukan masuk ke paru-paru melalui tenggorokan. Bagaimana bisa masuk ke paru-paru padahal baru sampai tenggorokan saja kita sudah tersedak dan terbatuk-batuk?

Reaksi yang terjadi ketika CO2 dicampur ke air H2O ia akan terbentuk H2CO3 (ini rumus kimianya asam karbonat) itupun dalam jumlah kecil. Asam karbonat adalah asam yang lemah dan pH-nya lebih dekat ke 7 (pH air), sedangkan sebagian besar CO2 larut dalam air. Asam karbonat bermanfaat untuk membuat minuman berkarbonasi, seperti sparkling water ataupun softdrinks.

Adapun peranan asam karbonat di dalam darah adalah sebagai tahap antara dalam mengeluarkan CO2 dari tubuh melalui pernapasan.

Reaksi pembasahan CO2 berlangsung lambat tanpa adanya katalis, tetapi sel darah merah yg mengandung karbonat anhidrase meningkatkan laju reaksi memisahkan ion hidrogen H+ dari asam karbonat yang dihasilkan, dan meninggalkan bikarbonat HCO3- terlarut dalam plasma darah. Reaksi katalisis ini dibalik di paru-paru, mengubah bikarbonat kembali menjadi CO2 agar mudah dikeluarkan.

Kesetimbangan ini berlangsung terus menerus dan memainkan peran penting sebagai penyangga darah manusia dan hewan menyusui.

Agar lebih jelasnya silakan simak dan baca di: (daripada saya minta baca buku Kimia/Biologi SLTA maupun kuliah Kimia Dasar/Biologi Molekuler, hehehe)

http://sciencehack.com/videos/view/nGZ8j2wHUrs
http://en.wikipedia.org/wiki/Carbonic_acid

Mengenai hikmah dari hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang larangan mengambil nafas di dalam bejana tidaklah terjawab oleh “penelitian” yang tidak jelas sumbernya tersebut. Cukuplah bagi kita hikmah dari mengikuti sunnah nabi adalah pahala yang menjadi tabungan amal di akhirat. Dan hikmah nyata yang kita peroleh adalah kalau minum yang sabar, tunggu airnya mendingin sendirinya, jangan diminum panas-panas nanti lidahnya terbakar :p

Barakallahufikum.


boros air, adakah?

5 Maret, 2011

“Jangan boros wahai Sa’ad!” tegur sang Nabi kepada sahabatnya yang sedang berwudhu. “Adakah boros dalam menggunakan air, wahai Rasulullah?” tanya Sa’ad. “Ya, meskipun engkau di sungai yang mengalir,” jawab Nabi.

Dialog yang terjadi antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Sa’ad ibn Abi Waqqash ini diabadikan dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, kitab Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim dan kitab Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi, semoga Allah merahmati mereka, para imam kaum muslimin.

Kata “boros” telah maklum diartikan menghambur-hamburkan uang, barang, tenaga dan waktu. Oleh karenanya sahabat yang mulia Sa’ad, semoga Allah meridhainya, mempertanyakan konteks boros dalam penggunaan air.

Secara sadar atau tidak, kita, yang jauh dari masa hidup kedua orang mulia tersebut, sering memboroskan air ketika berwudhu, mandi, dan mencuci. Jikalau para penggiat “go green” mengampanyekan berbagai kegiatan hemat air untuk keperluan mandi dan mencuci, bahkan melakukan terobosan teknologi untuk mendapatkan air bersih dari pengolahan air limbah ataupun air asin, namun itu semua tidak cukup efektif tanpa kesadaran dan kepedulian individu. Maka sesungguhnya Nabi telah mengajak hemat air dimulai dari aktivitas keimanan, yang diharapkan menjadi model dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa was-was yang timbul ketika berwudhu, apakah wudhunya sudah sempurna, ataukah wudhunya diterima, beranjak dari minimnya pengetahuan seorang hamba tentang ilmu berwudhu. Bisa jadi ia membuka keran lebar-lebar dengan rasa lebih mantap, atau menyapukan air lebih dari tiga kali pada setiap anggota wudhu, atau berdoa pada tiap-tiap anggota wudhu, bahkan mandi sebagai pengganti wudhu. Seandainya seorang hamba mau belajar tentang wudhu sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, tentulah ia akan mencukupkan pada apa yang dituntunkan tanpa melebih-lebihkannya, serta menjadikannya kebiasaan baik, maka akan mudah baginya meninggalkan rasa was-was itu.

Tak disangkal mandi dari shower lebih hemat air daripada dari gayung dan bak mandi. Tetapi betapa banyak dari kita merasa lebih mantap mengguyur tubuh dengan gayung daripada shower. Tapi jika sudah merupakan kesadaran, maka lambat laun kita akan meninggalkan gayung untuk mandi beralih kepada shower. Begitupula dengan berwudhu, kenyamanan dengan segayung air akan terasa jika sudah terbiasa.

Nabi mewanti-wanti bahwa boros air tidak dibenarkan walaupun sumbernya berlimpah seperti di sungai yang mengalir. Jika di negeri padang pasir terpaksa menghemat air, maka di negeri tropis dan bahari dengan air melimpah  pun tidak boleh boros air. Jika diterapkan kepada pengertian boros secara umum: maka tidak dibenarkan boros walau banyak uang maupun barang; tidak dibolehkan boros membuang tenaga dan waktu untuk hal-hal yang tidak diperlukan.


Bukaan keran yang besar, Ba!

28 Desember, 2010

Begitulah yang diminta anak saya yang berusia 4,5 tahun saat saya ajari dia untuk berwudhu di tempat wudhu masjid. “Jangan terlalu besar, sayang. Itu namanya boros,” saya menjawab permintaannya. “Tapi orang dewasa itu membuka keran besar-besar, Ba?” tanya anak saya menunjuk seseorang yang sedang berwudhu juga. Walau pakaian orang itu menampakkan kesalihan dan mencirikan seorang penuntut ilmu, mungkin belum sampai kepadanya hadits sahih bahwa Nabi yang mulia telah mengajarkan kita berwudhu secara sederhana yaitu dengan segayung air saja.

Dari Utsman ibn Affan radhiyallahu anhu bahwa dia telah meminta segayung air, maka dituangkan air itu ke tangannya dan membasuhnya tiga kali, kemudian dimasukkan tangan kanannya ke dalam wadah air dan membersihkan mulutnya, lalu membasuh dan membersihkan hidungnya. Kemudian dia membasuh wajahnya tiga kali dan bagian bawah tangannya hingga kedua sikunya tiga kali, mengusap rambut kepalanya dan membasuh telapak kakinya hingga ke kedua mata kakinya tiga kali. Kemudian ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘jika seseorang berwudhu dengan caraku dan mendirikan shalat dua rakaat dengan tidak berbicara dalam sholatnya maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau.'” (HR Al-Bukhari)


%d blogger menyukai ini: