akhlak Islam

19 September, 2016

​ketika bunda Aisyah -semoga Allah meridainya- ditanya tentang bagaimanakah akhlak Rasulullah -sallallahu alaihi wasallam, maka  dijawab, “Akhlak beliau adalah Al-Quran”. diriwayatkan oleh Imam Muslim.

yang hilang dari kita adalah akhlak, agama menjadi formalitas, religiusitas sekadar status, knowledge sebagai justifikasi penghakiman. praktiknya pragmatis. gagal paham.

padahal, islam adalah jalan keselamatan, tentu bagi yang berkomitmen dan berupaya konsisten. 

sebagaimana nasihat Nabi kepada seseorang yang bertanya tentang Islam dalam satu kalimat pendek, “katakanlah aku telah beriman kepada Allah, kemudian istikamahlah.” diriwayatkan oleh Imam Muslim.

istikamah dapat dimulai dari pribadi muslim sebagai penganut Islam, perbaikan diri dan keluarga, lalu masyarakat. menjadikan muslim sebagai sebenar-benar keberserahan diri.

pemaksaan syariat pada umat yg belum siap dapat melahirkan pembangkangan dan pertikaian, minimal kemunafikan.

cukup bahagia tentunya melihat Islam hadir di tengah umat yg terus memperbaiki diri, dan bukan sebagai kendaraan hawa nafsu. semoga Allah mengaruniakan taufik.

@ndi, 17121437


pernikahan tidak harmonis

26 Februari, 2015

الزواج أيها الإخوة ليس إنبهارا،
الزواج أيها الإخوة معاملة دائمة الإنسان في بيته،
يتخلى مما يكون متلبسا به خارج بيته،
يحتك بإنسانة تطالبه بمطالب ويطالبها بمطالب،
يعيشان معا فتر ة طويلة.
هذا الأمر لا يمكن أن يحكمه،
ولا يمكن أن يجعله قائما صحيحا مستمرا متجددا،
تتدفق فيه دماء الحب و السعادة،
إلا الدين مع حسن الخلق.

Pernikahan, wahai saudaraku, tidaklah selalu memesonakan.

Pernikahan, wahai saudaraku, adalah pergaulan yang langgeng antara insan di dalam rumahnya.

Kadangkala terabaikan, terusir dari rumahnya, cekcok, istri menuntut suaminya, suami menuntut istrinya.

Pernikahan adalah hidup bersama dalam waktu yang panjang.

Perkara ini tidak selalu harmonis, juga tidak dapat melulu bertahan, baik-baik saja, lestari, indah, dalam jalinan cinta dan kebahagiaan.

Kecuali dengan agama dan bagusnya akhlak.

***

[Hak-hak suami istri, Sulaiman ar-Ruhaili, hlm. 11]

View on Path


be a good muslim

8 Februari, 2015

Be a good muslim!

View on Path


tentang kebajikan dan dosa

17 Januari, 2015

عن النواس بن سمعان رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” البر حسن الخلق والإثم ما حاك في نفسك وكرهت أن يطلع عليه الناس ” رواه مسلم

Dari An Nawas bin Sam’an radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Kebajikan itu keluhuran akhlaq sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya”. (HR. Muslim)

View on Path


cuma orang beriman

9 Desember, 2014

Cuma orang beriman yang bisa menahan kata-katanya dari komentar buruk, caci maki, gosip, dan dusta.

Cuma orang beriman yang sanggup menahan lisannya dari bicara yang tidak perlu dan tidak bermanfaat.

Cuma orang beriman yang sanggup menghiasi dunia dengan keindahan akhlak dan kedamaian.

View on Path


jangan coreng janggutmu

16 Maret, 2014

Diceritakan ada dua orang, salah satunya berjanggut dan bercelana cingkrang, memasuki sebuah rumah yang sedang dibangun. Mereka melihat-lihat ke dalam dan seperti mencocokkan sesuatu di dalam kertas yang mereka bawa dengan rumah tersebut. Dari dalam rumah, sedang beristirahat si empunya rumah dan para tukang yang sedang menikmati kopi dan cemilan. Melihat kedua orang tersebut, si empunya rumah menghampiri dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum.” Tanpa mendapat jawaban, si empunya rumah mengulangi lagi salamnya lalu berkata, “Maaf, Anda siapa?” Kedua orang itu tidak memperhatikan pertanyaan malah terus sibuk dengan urusannya. Si empunya rumah bertanya kepada tukangnya perihal orang itu. Dikatakan mereka adalah pemilik tanah di seberang jalan yang sedang membangun pondasi. Maka si empunya rumah berkata, “Pak, adabnya kalau bertamu mengucapkan salam, walaupun rumah yang didatangi belum jadi. Dan kalau bapak mau mencontoh rumah ini, silakan saja difoto, biar tidak bolak-balik masuk sini tanpa izin.”

Si empunya rumah yang bercerita kepada saya tentang hal itu kemudian menyimpulkan, “Kok gitu ya, orang jenggotan dan celana cingkrang gak punya sopan santun?” Jlebb!!! Kita tidak bisa menyalahkan maupun membenarkan seratus persen pengambilan kesimpulan tersebut. Apalagi jika fakta yang membuktikannya. Akan tetapi hal itu menunjukkan bahwa masyarakat awam masih punya harapan bagi para pengamal sunah. Pemahaman yang cukup baik mengenai agama tidaklah menunjukkan apapun jika tanpa pengamalan dan penghayatan. Telah banyak ditulis dan diajarkan kitab adab oleh para ulama sebelum mereka mengajarkan ilmu. Oleh karena adab juga merupakan bagian dari sunah, maka hendaknya para pengamal sunah memerhatikannya dan berakhlak mulia, tidak mencoreng janggut dan celana cingkrangnya.


jadilah pembantu yang cerdas dan berkhidmat

5 Juli, 2011

Muamalah antara majikan dan pembantu adalah pembahasan yang tidak akan habisnya karena merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dalam tulisan (maafkanlah ia setiap hari tujuhpuluh kali) telah disebutkan bagaimana adab dan sikap yang baik yang dinasihatkan oleh teladan manusia sepanjang zaman. Terhadap budak yang hak-haknya dimiliki penuh oleh tuannya saja kita diperintahkan untuk berbuat baik apalagi terhadap pembantu yang merupakan orang merdeka. Sehingga berlakulah hak-hak orang merdeka terhadap pembantu, di antaranya memiliki hak diperlakukan dengan baik dan memiliki hak kehidupan. Maka dalam tulisan ini membawakan teladan yang dilakukan oleh Rasulullah salallahu alaihi wasalam, dan pembantunya Anas bin Malik radiyallahu anhu.

Dikisahkan oleh Anas bin Malik bahwa ketika Nabi pertama kali masuk ke kota Madinah beliau tidak memiliki seorang pembantu. Lalu Abu Talhah memegang tanganku dan mengajak aku pergi ke hadapan Nabi dan berkata: “Wahai Nabiyullah, sesungguhnya Anas adalah anak yang cerdas, mohon jadikan ia sebagai pembantumu.” Maka aku pun membantu beliau saat safar maupun ketika di Madinah sampai Rasulullah wafat. Selama aku membantu Nabi, adalah beliau tidak pernah berkata untuk apa yang aku kerjakan, “mengapa kamu melakukan ini?” atau untuk apa yang tidak aku kerjakan, “mengapa kamu tinggalkan ini?” [HR. Albukhari]

Abu Talhah adalah suami dari Ummu Sulaim, ibunya Anas bin Malik, dengan kata lain beliau adalah ayah tiri Anas bin Malik.

Anas bin Malik telah membantu Rasulullah sejak hijrah ke Madinah hingga wafatnya, yaitu sekitar sepuluh tahun. Dan selama itu sebagai pembantu ia tidak pernah dipertanyakan untuk hal-hal yang dia kerjakan ataupun yang ditinggalkan. Ini menunjukkan bahwa begitu besar kepercayaan Rasulullah kepada pembantunya sehingga beliau tidak perlu mengomentari hal-hal yang dilakukan ataupun ditinggalkan oleh pembantunya. Kepercayaan yang besar ini tentulah tidak didapatkan begitu saja tanpa terpenuhinya di antara syarat-syarat berikut:

1. Kecerdasan, telah disebutkan bahwa Anas adalah anak yang cerdas, dengan kecerdasan yang dimilikinya ia mampu memahami dan memenuhi keperluan-keperluan Rasulullah sebagai majikannya, mengenal apa yang disukai dan tidak disukainya, dan

2. Perkhidmatan, disebutkan juga bahwa Anas telah membantu Rasulullah selama sepuluh tahun sedangkan tidak pernah mendapat komplain maka hal ini menunjukkan betapa besar perkhidmatan yang diberikan oleh Anas kepada majikannya, yaitu dengan memenuhi perintah, menjaga kehormatan majikannya, dan tidak membuat majikannya kecewa ataupun marah sedikitpun karena selalu memberikan yang terbaik dalam perkhidmatannya.

Jika demikian yang diharapkan dari pembantu maka yang diharapkan dari majikan yaitu akhlak yang baik, sikap lapang dada dan pemurah hati sebagaimana berikut:

Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukannya melaksanakan tugas Rasul, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan apa yang diperintahkan Rasulullah. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah, dengan tersenyum dia berkata, “Wahai Anas kecil, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah dan menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat, Rasulullah.”

rujukan:

  1. Kitab Al-Adabul Mufrad, karya Imam Albukhari
  2. Kitab Shuwaru min Hayatis Shahabah, karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya

Resensi: 38 Kesalahan Mendidik Anak

21 April, 2010

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Memperingati hari lahir RA Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, begitu banyak acara digelar untuk menggugah semangat perempuan. Bahkan anak-anak sekolah pun digugah kesadarannya untuk menjiwai semangat pahlawan perempuan Indonesia itu dengan mengenakan pakaian nasional, karnaval ataupun berkumpul dalam upacara peringatan. Semua itu dilaksanakan entah dengan kesadaran atau tidak bahwa sistem pendidikan saat ini belum mampu membentuk generasi penerus yang jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya. Yang ada malah membangun semangat konsumerisme, permisivisme, dan kemerosotan akidah dan akhlak. Jauh sekali dari cita-cita Kartini sebagaimana dipetik di atas.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: