pemuda al-kahfi

19 Maret, 2015

Kalau mau jujur, apakah kebenaran yg tengah mereka perjuangkan sama dengan kebenaran yg diperjuangkan oleh pemuda Al-Kahfi, sebagaimana penisbatan diri mereka?

Tauhid adalah inti perjuangan para pemuda yg bersembunyi di dalam gua, menyelamatkan agamanya, bersabar hingga Allah menetapkan keputusannya.

Para pemuda itu tidak bertindak konfrontatif terhadap penguasa yg lalim, bahkan masih sempat berhati-hati ketika keluar di masa kekuasaan telah digantikan dengan penguasa yg saleh.

Lalu, apakah ini sama dengan yg sedang mereka perjuangkan?

View on Path


menjelang engkau pergi

6 Februari, 2015

Belum habis kubaca al-kahfi, sesekali kupandang wajahmu pasrah. Tak lagi mampu kukenali desah napasmu. Air matamu menitik, mengiba keridaanku.

Kuhampiri telingamu, kembali menalqin tahlil. Engkau mengangguk setuju. Hatimu tiada terhalang, bahkan oleh alat-alat medis yang membatasimu.

Kesejukan menjalar dari kakimu, kudapati diriku mengelak. Mencoba menepis malakul maut, mengharap ia menunda tugasnya sesaat saja.

Tersentak aku oleh teguran keras:

إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُون

(10:49)

Siapalah aku yang terus memaksa, menahanmu untuk tetap tinggal, sedangkan engkau sudah mengikhlaskan dirimu?

Pandangan matamu mengikuti ruhmu, keluar dengan penuh sakinah. Dari jasad yang diamanahkan oleh Allah sepanjang hidupmu.

Bagaimanakah denganku? Di telingamu kubisikkan lagi, tahlil. Tampaknya bukan lagi untukmu, melainkan untukku sendiri, meredam amarah membuncah.

CPR!
3×30 pun tidak sanggup denyutkan lagi jantungmu. Ternanar aku, harus merelakanmu.

Engkau pergi, Bapak.
Aku gigih mengharap engkau pulang menuju kampung yang damai.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْه

***

(nd, 16041436 / 06022015) – with Febrianto

View on Path


menjaga Allah

4 Agustus, 2012

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah memberi nasehat kepada sahabat mulia Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah, “Wahai Anak! Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”

Sesungguhnya Allah telah menjadikan manusia cinta kepada 3 hal: cinta kepada wanita, anak-anak, dan harta duniawi [1]. Namun Allah juga telah menjadikan orang yang mati karena berjuang membela kehormatan diri, keluarga dan hartanya, dianggap sebagai syahid di sisi Allah [2].

Allah mengisahkan di dalam surat Al-Kahfi (QS 18: 60 – 82) tentang Nabi Khidir alaihissalam yang menjadi rujukan bagi Nabi Musa alaihissalam dengan berguru kepadanya. Ketika Nabi Khidir melubangi perahu yang dinaiki sehingga dapat menenggelamkan penumpangnya, adalah sebagai penjagaan Allah kepada orang-orang miskin yang bertakwa, supaya perahu mereka tidak dirampas oleh raja yang lalim.

Ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak yang dikhawatirkan dewasanya kelak akan mengajak kedua orang tuanya yang beriman kepada kesesatan kekufuran adalah sebagai bentuk penjagaan Allah kepada orang tua yang beriman itu, supaya Allah memberi ganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik dan lebih menyayangi orang tuanya.

Ketika Nabi Khidir menegakkan kembali dinding sebuah rumah di kota yang tidak mau menjamu mereka, sebagai penjagaan Allah bagi dua anak yatim yang ayahnya soleh. Karena di bawah rumah tersebut terdapat harta simpanan yang dapat mereka pergunakan apabila dewasa nanti.

Itulah di antara bentuk penjagaan Allah bagi orang-orang yang menjaga hak-hak Allah. Hak untuk diimani dan diibadahi tanpa menyekutukan Dia dengan sesuatupun. Semoga Allah memperbaiki dan menerima amal ibadah kita di bulan Ramadan.

(disarikan dari tausiyah Ustadz Syamsul Albuthoniy hafizhahullah pada kultum ifthar di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)

[1] “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [QS Ali Imran, 3: 14]

[2] “Siapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka ia dianggap mati syahid.” [HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah]


%d blogger menyukai ini: