elegi penyaliban

3 April, 2015

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

http://quran.com/4/157

View on Path


menjadi suami pendamping persalinan

15 Juli, 2014

Dalam tradisi Islam, perkara yang disebutkan dengan rinci di dalam Alquran biasanya merupakan perkara yang besar dan perlu mendapat perhatian serius. Di antara perkara itu adalah kisah kehamilan Maryam sampai ia melahirkan Isa alaihi salam. Alquran menceritakannya dalam serangkaian ayat yang tersusun secara kronologis dan sarat makna, yaitu di dalam surat Maryam, 19: 22-26.

Pemahaman terhadap ayat-ayat ini dapat kita pelajari dari kitab-kitab tafsir semacam Tafsir Ibnu Katsir dan semisalnya. Adapun artikel ini ditulis hanyalah dengan maksud merefleksikan beberapa faidah dan hikmah dari serangkaian ayat kisah persalinan tersebut ke dalam pengalaman sebagai suami yang mendampingi persalinan.

Kehamilan adalah kondisi yang memayahkan bagi seorang ibu. Sembilan bulan seorang ibu mengandung dan bertambah payah menjelang kelahiran bayinya. Kondisi yang juga dialami oleh Maryam ketika mengandung Isa. Oleh rasa sempit di hatinya, Maryam memencilkan diri ke suatu tempat yang jauh dari Yerusalem, yaitu Betlehem.

فَحَمَلَتْهُ فَانتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (19:22)

Seorang suami berperan mendukung suasana hati bagi istrinya yang sedang hamil. Meringankan rasa kepayahan oleh karena membawa beban kandungan yang semakin berat. Ketenangan dan kelapangan hati menjadi hal yang sangat berharga bagi ibu hamil, menjaganya untuk tetap optimis dan berprasangka baik kepada Tuhannya.

Sebagaimana Maryam telah menjauh dari keramaian manusia, menjelang kelahiran adalah saat-saat yang sangat membutuhkan privasi. Secara naluri, perempuan yang akan melahirkan akan mencari tempat dan posisi yang nyaman hingga pada titik tertentu kehilangan rasa malu. Maka sangat penting bagi suami untuk menjaga aurat istrinya dari pandangan manusia yang tidak berkepentingan.

Memilih tempat persalinan mestilah mempertimbangkan kenyamanan si ibu, menjaga privasinya, dan menjamin keamanan serta tindakan yang diperlukan apabila timbul masalah. Rumah sakit bersalin biasanya dipilih karena dianggap paling aman karena menyediakan dokter dan peralatan yang memadai ketika menghadapi masalah persalinan.

Persalinan di rumah dapat dipertimbangkan jika kondisi ibu dan janin sehat tanpa komplikasi. Lagipula sebenarnya lebih aman karena kecil kemungkinan terjadinya infeksi (umumnya kuman di rumah lebih sedikit dibandingkan di rumah sakit). Hanya saja dokter atau penolong enggan membantu karena kemungkinan timbulnya kesulitan saat persalinan.

Alih-alih memberikan ketentraman bagi seorang ibu yang akan melahirkan, membawanya ke rumah sakit umum atau rumah bersalin malah membuatnya kehilangan banyak privasi dan sulit untuk menjaga auratnya dari pandangan manusia. Oleh karenanya tidaklah salah jika Syaikh Al-Albani menasihatkan agar  perempuan yang hamil hendaknya melakukan persalinan di rumah.

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”.” (19:23)

Maryam adalah perempuan pilihan Tuhan, kesalehannya pun tidak dipungkiri, sebaik-baik wanita di masanya. Bagaimanapun ia juga seorang manusia, yang mengalami rasa sakit akan melahirkan seperti perempuan lainnya. Penderitaannya itu pun ditambah pula dengan perasaan berat menanggung fitnah yang akan dihadapinya dengan kelahiran anaknya.

Seorang suami berperan mendampingi istrinya melalui rasa sakit ini. Memilih metode melahirkan juga dapat menjadi pertimbangan sendiri. Persalinan di dalam air dianggap mengurangi rasa sakit saat kontraksi, memberi rasa nyaman dan lebih tenang, serta tidak menimbulkan trauma bagi bayi. Persalinan alami yang tanpa obat penghilang rasa sakit memerlukan ketenangan dan teknik pernapasan, dan yang penting adalah kesiapan hati ibu untuk menghadapi rasa sakit melahirkan.

Pada saat persalinan, suami ibarat pangkal pohon kurma bagi istrinya. Suami berperan dengan menghibur dan memberi semangat. Tetap sabar walaupun istri menjengkelkan pada saat dia sangat menderita. Mengingatkan tentang teknik pernapasan, mengusap kening istrinya yang berkeringat, memeluk bahunya, mengurut punggungnya untuk mengurangi rasa sakit, dan memberi minum bila dia haus.

Suami sangat diharapkan memberikan dukungan agar istrinya tetap menjaga kesalehan selama proses kelahiran. Memperbanyak mengingat Allah untuk menghadirkan ketenangan dan ketentraman hati. Tak lupa memohon keampunan-Nya dan berdoa agar dimudahkan dalam melahirkan.

فَنَادَاهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا

“Maka ia diseru dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (19:24)

Suami adalah penghibur istrinya di saat kepayahan, memberi semangat dan menyediakan kebutuhan yang diperlukan. Suami harus mendukung secara fisik dan membesarkan hati istri, melalui tahap demi tahap persalinan. Menghapus kesedihan istri dengan kabar gembira akan kelahiran bayi yang dinanti-nantikan.

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (19:25)

Penderitaan dan perasaan frustasi yang dialami Maryam tidak boleh memupuskan harapan dan persangkaan baiknya kepada Allah. Pangkal pohon kurma adalah bagian yang sangat kokoh, sehingga sangat sulit dibayangkan bahwa seorang ibu yang kepayahan dan belum pulih akibat melahirkan dapat menggoyangnya sehingga pohon itu menggugurkan buah kurmanya. Allah mengajarkan Maryam untuk bersikap tawakal, manusia harus tetap berupaya sedangkan hasilnya adalah urusan Tuhan.

Rutab atau kurma segar adalah makanan terbaik bagi ibu melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa kurma mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk pemulihan. Sebuah makalah ilmiah Shiraz E-Medical Journal menyimpulkan bahwa memakan buah kurma setelah melahirkan lebih cepat mengurangi pendarahan daripada penggunaan suntikan oxytocin pada persalinan normal.

Bahkan sebuah makalah ilmiah pada Journal of Obstetrics and Gynaecology menyimpulkan bahwa mengonsumsi kurma pada 4 minggu menjelang persalinan mengurangi kebutuhan akan induksi dan menjaga pembesaran janin secara signifikan, serta menghasilkan kelahiran yang menyenangkan.

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.” (19:26)

Suami yang suportif menyediakan buah kurma sebagai cadangan bagi istrinya yang sedang hamil tua maupun selepas melahirkan. Apabila kesulitan mendapatkan rutab atau kurma segar, maka kurma kering atau tamar pun dapat menggantikannya agar ibu melahirkan memperoleh manfaatnya.

Kemudian memberi makan dan minum kepada istrinya yang tentu saja kelaparan dan kehausan setelah berjuang menghadapi rasa sakit melahirkan. Maka apabila bayi yang dinantikan kehadirannya itu telah lahir, suami masih diharapkan perannya membantu istri mengatasi perasaan murung akibat perubahan kadar hormon dan euforia melahirkan.

Suka cita kelahiran adalah karunia dari Allah yang diharapkan keberkahannya dan didoakan kesejahteraannya. Menjadi suami pendamping persalinan adalah sebuah kesempatan dan sangat dihargai perannya.

Wallahu a’lam.


هل تتكلم العربيه

12 Maret, 2014

1.

“هل تتكلم العربيه؟”

Seseorang tiba-tiba memberi salam kepada saya yang sedang berjalan di pelataran Masjid Nabawi dan bertanya dengan pertanyaan tersebut. Tergagap, saya pun menjawab, “I am sorry, أنا لا أتكلم العربية”

Orang itu tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih dalam bahasa arab dan pergi meninggalkan saya. Saya mengira dia hendak menanyakan sesuatu namun tidak jadi karena saya tidak berbahasa yang sama dengannya.

2.

Lain waktu saya menghadiri majelis tahsin alquran setelah subuh dibimbing seorang syaikh. Setiap hadirin selesai membaca, syaikh mengomentari dan bercakap sebentar dengannya. Pada giliran saya membaca beliau menyimak dengan saksama, kemudian mencukupkan bacaan saya dan bertanya, “جيد ، هل أنت أندونيسي؟”

Terkesima, saya pun menjawab, “نعم، أنا اندونيسي”

Beliau tersenyum dan mendoakan keberkahan lalu beralih kepada giliran berikutnya.

3.

Usai mengikuti pengajian tafsir Juz Amma berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi yang dibawakan oleh Ustaz Firanda, seorang pemuda mendatangi saya dan bertanya, “Excuse me, in what language the talk was presented?” Saya pun menjawab pertanyaannya dengan bahasa Inggris dan terjadi percakapan beberapa saat dengannya. Pemuda yang berasal dari suatu daerah di Turki itu tidak terlalu fasih berbahasa Inggris namun kami berusaha saling memahami.

4.

Pada kesempatan saya menghadiri majelis taklim bada magrib di Masjidil Haram, saya berharap dengan beraneka ragamnya peziarah mendapati orang yang saya dapat berkomunikasi dengannya. Saya membuka pertanyaan dengan orang yang duduk di samping saya, “Excuse me, who is the sheikh who was giving a lesson?” Orang itu pun menjawab, “باللغة العربية، من فضلك”

Saya kaget, lalu bertanya dengan terbata-bata, “ما هو اسم الشيخ؟” Orang itu pun menjawab, “أنا لا أعرف؟” Kami pun kembali menyimak pelajaran tanpa berpanjang kalam.

5.

Setiap waktu salat berjamaah yang saya hadiri di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, saya merasa bersyukur dapat menjadi salah seorang makmum. Menikmati kesyahduan lantunan qiraah para imam yang  selama ini bacaannya hanya didengar melalui rekaman. Namun untuk menghayatinya sepenuh hati, barulah pada ayat-ayat yang sering saya dengar atau yang saya hafal dan diketahui maknanya.

6.

Suatu ketika saya mengunjungi maktab atau perpustakaan yang berada di sisi barat Masjid Nabawi. Melihat koleksi buku-buku yang terpampang di sana, terbayang betapa banyak pengetahuan yang tersedia dan siap untuk dibaca oleh para penuntut ilmu. Saya memindai setiap rak mencari-cari buku yang dapat saya baca. Hati dan perasaan saya bergolak, tak terasa saya pun menitikkan air mata. Mendapati diri ini tak mampu memetik sedikitpun faidah dari ribuan buku yang ada, hanya karena kemampuan berbahasa yang minim.

7.

-epilog-

Dari Hasan Al-Bashri, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.”


what got you here won’t get you there

7 Agustus, 2012

Apa-apa yang telah membawa kita ke sini tidak akan pernah membawa kita ke tempat lain. Atau dengan kata lain, untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan kita memerlukan upaya yang mendukung pencapaian tersebut, bukan dengan mengupayakan hal-hal yang malah menjauhkan kita dari terwujudnya keinginan. Kira-kira demikian maksud judul tulisan ini yang diambil dari judul bukunya Marshall Goldsmith.

Kesuksesan yang kita peroleh benar-benar bergantung kepada perilaku kita dalam mencapainya. Dalam bahasa agama dikenal istilah menjalani sebab. Sebagaimana kisah Dzulqarnain yang diceritakan di dalam Alquran, ia dianugerahi jalan (sebab-sebab kesuksesan) dan ia menempuhnya (untuk mencapai tujuannya). Dengan demikian, jika kita bercita-cita akan sesuatu tanpa menempuhi sebab-sebab terwujudnya keinginan itu, maka itu tak ubahnya dengan mimpi belaka.


jangan sia-siakan ramadan

28 Juli, 2012

Waktu adalah sesuatu yang amat berharga, ia datang dan berlalu tanpa pernah kembali. Hanyalah yang pandai memanfaatkannya yang tidak akan merugi, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu akankah kita sia-siakan kesempatan ini?

Ramadan adalah bulan puasa. Orang yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa puasa seorang hamba adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang menentukan balasannya. Penyandaran ibadah kepada diri Allah menunjukkan betapa agung ibadah tersebut. Balasan dari Allah terhadap puasanya seorang hamba tentu tidak ternilai betapa tingginya.

Dalam Ramadan terkumpul dua jihad. Jihad di siang hari dengan menahan lapar dan dahaga. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam mengatakan bahwa betapa banyak orang yang puasa kecuali hanya memetik lapar dan dahaga. Padahal puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan, minum dan syahwatnya melainkan meninggalkan perkara yang sia-sia dan keji. Sebab setan-setan dari kalangan jin dibelenggu sehingga tidak dapat membisikkan was-was dan pintu neraka ditutup sehingga membuka kesempatan yang luas untuk meraih pintu surga. Maka kesia-siaan dan kejahatan yang hadir di bulan Ramadan adalah murni datangnya dari hawa nafsu manusia.

Jihad di malam hari adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah salat tarawih. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bahwa siapa yang menegakkan salat tarawih di malam Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai maka akan dicatat baginya salat semalam suntuk. Tentu saja dalam melaksanakan kedua jihad itu diperlukan kesabaran.

Ramadan adalah bulan Alquran, karena diturunkan di bulan tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bersama malaikat yang mulia Jibril alaihissalam mendaras Alquran setiap bulan Ramadan. Maka berlomba-lombalah manusia tadarus Alquran untuk mendapat keutamaannya. Dan di sepuluh terakhir Ramadan terdapat sebuah malam yang nilainya setara dengan seribu bulan. Para ulama ahlussunnah telah menjelaskan bahwa siapa yang beramal di malam tersebut maka amalannya bernilai seribu bulan. Siapa yang sedekah di dalamnya setara sedekah seribu bulan. Siapa salat di dalamnya setara salat seribu bulan. Siapa tilawah Alquran di dalamnya setara tilawah seribu bulan. Itulah malam yang dikenal sebagai Lailatul Qadr, malam yang penuh keutamaan.

Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam memerintahkan keluarganya untuk mengencangkan ikat pinggang dan berkonsentrasi untuk meraih malam Al-Qadr dengan memperbanyak istigfar, zikir, salat, membaca Alquran, dan sedekah. Menggalakkan itikaf di masjid jami sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan berburu malam Al-Qadr dengan khusyuk beribadah.

Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu masihkah ingin kita sia-siakan kesempatan ini?

(disarikan dari tausiyah Ustadz Muhammad Yahya hafizhahullah pada kultum tarawih di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)


superioritas dan pukulan

1 Juni, 2012

Seorang teman bertanya kepada saya, apakah betul ayat 4:34 mengatakan bahwa laki2 itu superior daripada perempuan dan istri boleh dipukul. Pertanyaan yang menjawabnya butuh pemahaman yang komprehensif terhadap tafsir Quran dan fiqh agama. Dengan hati-hati sekali saya mengorek kembali pemahaman saya dari menghadiri majelis taklim, konsultasi dengan ustadz dan membaca buku-buku agama. Saya pun mencoba menjawabnya dengan tetap mengharapkan koreksi dari para ustadz yang jauh lebih kompeten untuk menjawabnya. wallahu a’lam.

4:34

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

(QS An-Nisaa’, 4:34)

Kalimat pertama dari ayat 4:34 adalah: ar-rijalu qowamuna ‘ala an-nisa, diartikan bahwa kaum laki2 adalah pemimpin kaum perempuan. qowam juga berarti pelindung dan pemelihara. kalimat kedua menyebutkan alasan mengapa laki2 adalah qowam, yaitu: karena Allah telah melebihkan laki2 dan karena laki2 menafkahkan harta kepada keluarganya.

Bentuk kelebihan yang Allah berikan kepada laki2 adalah dari segi penciptaan, fisiologi tubuh laki2 memungkinkan untuk melakukan aktivitas fisik dan berpikir dengan cara yang berbeda dengan perempuan. Sedangkan memberi nafkah adalah kewajiban yang Allah bebankan kepada laki2. Jika ada kebalikannya, istri yang memberi nafkah kepada suaminya, tanpa uzur (misal sakit) maka hal itu telah menyalahi kodrat dan si suami akan mendapat hukuman dari Allah kelak karena melalaikan kewajiban.

Dengan demikian, laki2 sebagai suami dan kepala keluarga, wajib memimpin keluarga kepada jalan yang benar, wajib melindungi keluarga dari bahaya, dan wajib memelihara keluarga agar tetap utuh dan menjaganya supaya terbentuk sakinah (tenteram), mawaddah (kecintaan), dan rahmah (kasih sayang).

Arti kalimat ketiga: Sebab itu maka perempuan yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).

Bermaksud agar perempuan memenuhi kewajiban mereka untuk taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya pergi, sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah memeilharanya (ketiga suaminya pergi, maupun melalui perantaraan suaminya ketika ada).

Arti kalimat keempat: perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.

Nusyuz dapat diartikan dengan durhaka atau perilaku yang tidak menyenangkan, alias si istri tidak amanah, tidak taat (dalam hal kebaikan), tidak memelihara diri, bahkan berselingkuh. Maka Allah menyuruh suami untuk melakukan perbaikan secara bertahap. Tahap pertama adalah nasehat (SP1). Kalau nasehat tidak mempan maka tahap kedua dihukum dengan tidak tidur satu ranjang dengan suami (SP2). Kalau tidak mempan juga alias istri tidak memperbaiki perilaku buruknya, barulah tahap ketiga dengan dipukul (SP3) dan pukulan merupakan cara paling akhir untuk mengatasi kedurhakaan istri.

Masalah pukulan ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi rambu-rambu boleh memukul asalkan bukan pada wajahnya. Dan pukulan itu pun bentuknya pukulan yang ringan, bukan pukulan yang membuat cacat. pukulan yang sifatnya sekadar membuat jera, bukan penganiayaan. Suami juga harus mempertimbangkan apakah pukulan itu bermanfaat bagi si istri maupun dirinya, jika pukulan itu tidak bermanfaat, maka alangkah lebih baik ia mengambil metode selain pukulan (yang tentu saja metode yang lebih ringan daripada pukulan, karena pukulan merupakan metode terakhir).

Arti kalimat kelima: Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

Dimaksudkan bahwa kalau dengan nasehat sudah cukup, maka tidak perlu pisah ranjang atau pukulan. Jika nasehat dan pisah ranjang sudah cukup, maka tidak perlu dipukul. Jika nasehat, pisah ranjang, dan pukulan ringan sudah cukup, maka tidak perlu cari-cari metode lain yang lebih menyusahkan si istri, karena pukulan adalah metode paling terakhir. Di sinilah dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan suami dalam menyikapi masalah. Dan di sini pula diperlukan kecerdasan dan ketaatan istri untuk memelihara keutuhan rumah tangga.

Arti kalimat keenam: Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Maksudnya adalah, supaya suami dan istri mengingat bahwa urusan dengan Allah adalah jauh lebih tinggi dan jauh lebih besar, daripada sekadar urusan duniawi. Allah menginginkan keharmonisan antara suami dan istri agar keduanya dapat menjalankan kewajiban kepada Allah dengan tenang dan khusyuk. Andaikata ada keributan di antara suami istri, insya Allah dengan mengingat Allah, semua urusan jadi kecil dan ringan.

Segala kebenaran datangnya dari Allah, kesalahan adalah dari diri saya sendiri. Wallahul-muwaffiq.


bumi (tidak) berputar

24 Februari, 2009

Para ulama muslim sudah sepakat bahwa planet bumi berbentuk bulat, namun untuk menyepakati mana yang benar antara bumi berputar atau diam dan bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya, masih dalam ranah ilmiyah yang terbuka untuk didiskusikan. Mengingat bahwa Allah tidak secara tegas mengatakan di dalam Alquran mengenai hal itu. Allah hanya menyampaikan isyarat bahwa berdasarkan penglihatan manusia, matahari terbit dari arah timur dan terbenam di arah barat. Hal ini berbeda dengan Alkitab-nya orang nasrani di mana pada kitab Perjanjian Lama disebutkan secara tegas bahwa bumi itu diam.
Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: