bersabar dan berbuat kebaikan

11 Maret, 2015

عن الزبير بن عدي قال: أتينا أنس بن مالك رضي الله عنه فشكونا إليه ما نلقى من الحجاج فقال: إصبروا، فإنه لا يأتي عليكم زمان إلا الذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم، سمعته من نبيكم صلى الله عليه وسلم.

(رواه البخاري)

Dari Zubair bin ‘Adi mengatakan, pernah kami mendatangi Anas bin Malik radiyallahu anhu, kemudian kami mengutarakan kepadanya keluh kesah kami tentang kekejaman Al-Hajjaj. Maka dia menjawab; ‘Bersabarlah, sebab tidaklah kalian menjalani suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai Tuhan kalian. Aku mendengar ini dari Nabi kalian sallallahu ‘alaihi wasallam.’ (Diriwayatkan Al-Bukhori)

***

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini di dalam Sahih-nya pada Kitab Al-Fitan yang berisi tentang berita akhir zaman dan bagaimana cara menyikapinya sesuai tuntunan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan Imam An-Nawawi, penulis Riyadus Salihin, menempatkannya pada Kitab Al-Muqadimat, Bab Bersegera Dalam Berbuat Kebaikan. Perbedaan peletakan ini dapat dimaklumi sebagai fikih sang penulis kitab disebabkan banyaknya faedah yang dapat dipetik dari hadits ini.

Anas bin Malik radiyallahu anhu adalah salah seorang sahabat yang oleh berkat doa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dikaruniai umur yang panjang (103 tahun). Ia mengalami beberapa periode umat Islam yang penuh dinamika: sejak hijrah Nabi hingga masa kerajaan dinasti Umayah. Dengan keilmuan dan pengalaman hidup yang sangat kaya itulah maka tidak mengherankan apabila beliau didatangi manusia untuk mengambil faedah darinya.

Al-Hajjaj yang dimaksud pada hadits ini adalah bin Yusuf Ats-Tsaqafi, seorang pembesar di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayah, yang memerintah dengan cara-cara kekerasan dan sangat mudah menumpahkan darah. Namun, kebijakannya ini telah berhasil membuat keadaan di wilayahnya menjadi aman, suatu pencapaian yang tidak didapatkan oleh pemimpin-pemimpin daerah sebelum dirinya.

Fitnah turun kepada umat ini seperti hujan dan akan terus menerus menimpa seperti gelombang laut yang bergulung dan silih berganti menerpa pantai. Di antara fitnah itu adalah kepemimpinan dan kondisi yang lebih buruk daripada sebelumnya. Maka itu pandangan orang yang berilmu dalam menyikapi fitnah adalah menganjurkan manusia untuk bersabar dalam menempuh cobaan.

Termasuk hal itu adalah untuk bersabar terhadap kebijakan penguasa, tidak keluar dari ketaatan kepada penguasa. Seandainya Anas bin Malik mewasiatkan untuk memberontak tentu akan timbul kerusakan yang besar ketika itu. Namun beliau memerintahkan untuk bersabar sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentu bukan tanpa maksud jika Imam An-Nawawi meletakkan hadits di atas pada Bab Bersegera Dalam Berbuat Kebaikan. Dengan kabar bahwa zaman yang akan datang lebih parah kondisinya dan begitu banyaknya kerusakan maka sangat tidak elok jika kita berlambat-lambat dalam berbuat kebaikan.

View on Path


memaknai doa agar hujan berhenti

22 Januari, 2014

Ketika musim banjir dan hujan sekarang, beredarlah doa populer yang berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radiyallahu anhu:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah! Berilah hujan ke dataran tinggi, beberapa anak bukit, lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

Kemudian beredar pula tanggapan apakah doa itu masih relevan dengan kondisi baik waktu dan tempatnya? Lalu mengorelasikan dengan asbabul wurud Rasulullah membacakan doa tersebut? Dan mendiskusikan antara tekstual dan kontekstual doa tersebut?

Sebenarnya jika kita mau merenungi dan memahami, bahwa baik tekstual dan kontekstual serta kondisional dari doa tersebut, kita akan menemukan betapa banyak faidah dan relevansi doa itu bagi kita. Teks lengkap doa itu bisa kita baca di sini. Secara ringkasnya, seseorang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam mengeluhkan kemarau yang membinasakan dan untuk berdoa minta hujan. Setelah Rasulullah berdoa, hujan turun selama sepekan dan tidak berhenti. Orang itu datang kembali karena hujan telah membinasakan, maka Rasulullah membaca doa di atas sehingga hujan berhenti dan matahari kembali bersinar cerah.

Dalam kondisi hujan dan bencana banjir yang kita hadapi, tentu tidak ada ruginya kita membaca doa tersebut. Di antara faidah yang bisa kita petik:
1. Mengikuti amal yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semua orang tahu dan sepakat bahwa sikap ittiba’ adalah kecintaan yang sempurna kepada beliau, dan tentu saja mendapat pahala.
2. Doa itu berisi agar hujan dialihkan ke tempat selain pemukiman, karena lebih membutuhkan dan lebih memberi manfaat. Allah maha mengetahui di mana tempat-tempat yang tepat untuk diturunkannya hujan yang bermanfaat. Maka doa ini mengajarkan kita untuk percaya dan mengembalikan keimanan kita seutuhnya dan murni kepada Allah saja.
3. Doa itu menyebutkan tempat-tempat agar hujan dialihkan yaitu dataran tinggi, perbukitan, lembah dan tanah subur. Apabila kita lihat kondisinya sekarang, tempat-tempat itu sudah rusak dan tidak berfungsi sesuai peruntukkannya. Ketika melihat iklan pengembang pemukiman: BEBAS BANJIR, kita akan dapati pemukiman tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau Daerah Resapan Air (DRA). Maka karena kerusakan yang kita buat sendiri, wajar saja jika banjir melanda.

Bagaimanapun, secara harafiah dan maknawi, doa ini telah mengajak kita merenungi kembali apakah kita telah benar-benar mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semoga dengan mengamalkannya, Allah segera menghentikan hujan dan menerbitkan kembali cerahnya sinar matahari. Wallahu a’lam.


jadilah pembantu yang cerdas dan berkhidmat

5 Juli, 2011

Muamalah antara majikan dan pembantu adalah pembahasan yang tidak akan habisnya karena merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dalam tulisan (maafkanlah ia setiap hari tujuhpuluh kali) telah disebutkan bagaimana adab dan sikap yang baik yang dinasihatkan oleh teladan manusia sepanjang zaman. Terhadap budak yang hak-haknya dimiliki penuh oleh tuannya saja kita diperintahkan untuk berbuat baik apalagi terhadap pembantu yang merupakan orang merdeka. Sehingga berlakulah hak-hak orang merdeka terhadap pembantu, di antaranya memiliki hak diperlakukan dengan baik dan memiliki hak kehidupan. Maka dalam tulisan ini membawakan teladan yang dilakukan oleh Rasulullah salallahu alaihi wasalam, dan pembantunya Anas bin Malik radiyallahu anhu.

Dikisahkan oleh Anas bin Malik bahwa ketika Nabi pertama kali masuk ke kota Madinah beliau tidak memiliki seorang pembantu. Lalu Abu Talhah memegang tanganku dan mengajak aku pergi ke hadapan Nabi dan berkata: “Wahai Nabiyullah, sesungguhnya Anas adalah anak yang cerdas, mohon jadikan ia sebagai pembantumu.” Maka aku pun membantu beliau saat safar maupun ketika di Madinah sampai Rasulullah wafat. Selama aku membantu Nabi, adalah beliau tidak pernah berkata untuk apa yang aku kerjakan, “mengapa kamu melakukan ini?” atau untuk apa yang tidak aku kerjakan, “mengapa kamu tinggalkan ini?” [HR. Albukhari]

Abu Talhah adalah suami dari Ummu Sulaim, ibunya Anas bin Malik, dengan kata lain beliau adalah ayah tiri Anas bin Malik.

Anas bin Malik telah membantu Rasulullah sejak hijrah ke Madinah hingga wafatnya, yaitu sekitar sepuluh tahun. Dan selama itu sebagai pembantu ia tidak pernah dipertanyakan untuk hal-hal yang dia kerjakan ataupun yang ditinggalkan. Ini menunjukkan bahwa begitu besar kepercayaan Rasulullah kepada pembantunya sehingga beliau tidak perlu mengomentari hal-hal yang dilakukan ataupun ditinggalkan oleh pembantunya. Kepercayaan yang besar ini tentulah tidak didapatkan begitu saja tanpa terpenuhinya di antara syarat-syarat berikut:

1. Kecerdasan, telah disebutkan bahwa Anas adalah anak yang cerdas, dengan kecerdasan yang dimilikinya ia mampu memahami dan memenuhi keperluan-keperluan Rasulullah sebagai majikannya, mengenal apa yang disukai dan tidak disukainya, dan

2. Perkhidmatan, disebutkan juga bahwa Anas telah membantu Rasulullah selama sepuluh tahun sedangkan tidak pernah mendapat komplain maka hal ini menunjukkan betapa besar perkhidmatan yang diberikan oleh Anas kepada majikannya, yaitu dengan memenuhi perintah, menjaga kehormatan majikannya, dan tidak membuat majikannya kecewa ataupun marah sedikitpun karena selalu memberikan yang terbaik dalam perkhidmatannya.

Jika demikian yang diharapkan dari pembantu maka yang diharapkan dari majikan yaitu akhlak yang baik, sikap lapang dada dan pemurah hati sebagaimana berikut:

Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukannya melaksanakan tugas Rasul, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan apa yang diperintahkan Rasulullah. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah, dengan tersenyum dia berkata, “Wahai Anas kecil, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah dan menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat, Rasulullah.”

rujukan:

  1. Kitab Al-Adabul Mufrad, karya Imam Albukhari
  2. Kitab Shuwaru min Hayatis Shahabah, karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya

%d blogger menyukai ini: